POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG — Hamparan eceng gondok yang menutupi permukaan Sungai Citarum di kawasan Sektor 8 Citarum Harum, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, selama ini lebih sering dipandang sebagai simbol masalah lingkungan.

Arif menunjukan cara pengolahan eceng gondok menjadi kertas. Foto-foto : AGUNG EKO SUTRISNO/ RADAR BANDUNG
Pertumbuhannya yang cepat kerap menyumbat aliran air, mempercepat sedimentasi, hingga menurunkan kualitas ekosistem sungai.
Namun di tangan seorang seniman lokal, tanaman yang dianggap gulma itu justru berubah menjadi medium karya sekaligus harapan baru bagi warga.
Arif (35), seniman yang tinggal tak jauh dari bantaran sungai, memilih mendekati persoalan tersebut dengan cara berbeda. Alih-alih melihat eceng gondok sebagai limbah, ia memanfaatkannya sebagai bahan baku pembuatan kertas daur ulang. Setiap hari, ia turun langsung ke sungai, memanen tanaman yang mengapung di permukaan air yang keruh, lalu membawanya ke ruang kerjanya yang sederhana.
“Orang biasanya menghindari ini karena dianggap kotor dan tidak berguna. Tapi saya melihatnya sebagai bahan yang bisa diolah,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (1/ 5/2026).
Proses yang ia lakukan dimulai dari pengeringan eceng gondok, kemudian direbus untuk melunakkan seratnya. Setelah itu, serat dihancurkan dan dicetak menjadi lembaran kertas dengan tekstur khas. Warna kertas yang dihasilkan cenderung cokelat alami, menyimpan jejak material asalnya yang berasal dari sungai tercemar. Bagi Arif, karakter tersebut justru menjadi kekuatan visual sekaligus pesan ekologis dalam setiap karya.
Ia menjelaskan bahwa eceng gondok sebenarnya memiliki manfaat, salah satunya sebagai penyerap polutan di perairan. Namun ketika pertumbuhannya tidak terkendali akibat tingginya limbah organik, tanaman ini berubah menjadi masalah baru. Permukaan sungai yang tertutup rapat dapat mengurangi kadar oksigen dalam air dan mengganggu kehidupan biota.
“Masalahnya bukan di tanamannya saja, tapi di kondisi sungainya. Eceng gondok tumbuh karena airnya sudah terlalu tercemar,” katanya.
Dari situ, ia mencoba menghadirkan pendekatan yang tidak hanya artistik, tetapi juga edukatif. Kertas hasil olahannya kemudian digunakan sebagai media gambar dan instalasi seni yang mengangkat isu lingkungan, khususnya kondisi Sungai Citarum. Beberapa karyanya menampilkan visual aliran sungai yang dipenuhi sampah, sementara lainnya berupa teks reflektif tentang hubungan manusia dan alam.
Upaya tersebut perlahan mulai menarik perhatian warga sekitar. Sejumlah pemuda ikut belajar proses pembuatan kertas, sementara ibu-ibu mencoba memanfaatkan sisa bahan menjadi produk kerajinan sederhana. Aktivitas ini membuka kemungkinan baru, bahwa limbah yang selama ini dianggap beban justru dapat memiliki nilai ekonomi.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi lingkungan yang masih jauh dari ideal, inisiatif ini menjadi langkah kecil yang berdampak. Selain membantu mengurangi penumpukan eceng gondok di sungai, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa persoalan lingkungan dapat dihadapi dengan kreativitas.
Arif menyadari bahwa apa yang ia lakukan belum mampu menyelesaikan persoalan besar Sungai Citarum. Namun ia percaya perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk mengubah cara pandang terhadap limbah.
“Kalau kita hanya melihat ini sebagai masalah, ya akan terus jadi masalah. Tapi kalau kita coba olah, mungkin bisa jadi solusi, atau setidaknya memberi manfaat,” ujarnya.
Di tepian sungai yang selama ini identik dengan pencemaran, lembaran-lembaran kertas dari eceng gondok itu menjadi simbol kemungkinan lain. Bahwa di balik krisis lingkungan, selalu ada ruang untuk mencipta, merawat, dan membangun harapan dari sesuatu yang selama ini terabaikan. (kus)




















