Kategori: Internasional

  • Bahasa Prancis Disarankan Jadi Ekstrakurikuler Saja, Prabowo Instruksikan Pengajaran di Sekolah setelah Sebelumnya Bahasa Portugis

    Bahasa Prancis Disarankan Jadi Ekstrakurikuler Saja, Prabowo Instruksikan Pengajaran di Sekolah setelah Sebelumnya Bahasa Portugis

    POJOKBANDUNG.COM, PARIS–Di hadapan Presiden Brasil Lula da Silva yang berkunjung ke Jakarta pada 23 Oktober tahun lalu, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pengajaran bahasa Portugis—bahasa nasional di Brasil—diajarkan di sekolah. Tujuh bulan berselang, saat dijamu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, giliran bahasa Prancis yang diwajibkan untuk diajarkan.

    “Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis melihat perkembangan dunia ke depan,” kata Prabowo saat dijamu Macron Kamis (28/5/2026) lalu.

    Padahal, sampai sekarang, tak tampak ada gerakan penerapannya di sekolah atau madrasah. Bagaimana nantinya dengan bahasa Prancis?

    Pengamat pendidikan Jejen Musfah menyebut, pada prinsipnya dia setuju dengan penambahan bahasa asing yang diajarkan di sekolah atau madrasah, termasuk bahasa Prancis. Namun, dia memberikan sejumlah catatan.

    “Sebaiknya cukup di jenjang SMA, MA, atau SMK saja. Karena bisa jadi bekal untuk kuliah atau kerja di sana (Prancis),” tuturnya kepada Jawa Pos kemarin (29/5/2026).

    Itu pun, lanjutnya, tidak di kelompok kurikulum inti. “Dalam bentuk ekstrakurikuler setengah wajib,” jelasnya.

    Kemudian, tambah Jejen, pelajaran bahasa Prancis itu tidak diberlakukan di sekolah secara menyeluruh, melainkan di sekolah tertentu atau unggulan. Misalnya, di Madrasah Aliyah (MA) yang mempunyai jurusan bahasa. Kemudian di MAN Insan Cendekia, Sekolah Garuda, Taruna Nusantara, Sekolah Maung (khusus di Jawa Barat), Sekolah Rakyat, dan sejenisnya.

    Pelajaran bahasa Prancis yang bersifat tidak wajib itu dikhususkan menyasar peserta didik yang berminat melanjutkan studi ke Prancis atau bekerja di sana. Untuk sumber daya guru, Jejen menyebut, jumlahnya sebenarnya banyak.

    “Hanya komitmen negara merekrutnya bagaimana,” tuturnya.

    Relasi Indonesia-Prancis

    Dalam pertemuan Prabowo-Macron tersebut dibahas pula penguatan kerja sama di bidang pertahanan, pendidikan, riset, hingga percepatan penyelesaian perjanjian Indonesia-European CEPA. Prabowo menyatakan, Indonesia ingin memperluas kerja sama pendidikan dengan Prancis.

    Indonesia, kata Prabowo, juga membuka peluang investasi lebih besar bagi perusahaan-perusahaan Prancis. Dia menyambut postifi pembentukan France-Indonesia High Level Business Consult yang dinilai penting untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. “Kita akan sangat gembira dengan partisipasi dan kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis di ekonomi Indonesia,” ujarnya.

    Di bidang geopolitik, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia dan Prancis memiliki pandangan serupa mengenai pentingnya stabilitas Timur Tengah. Dia juga mengapresiasi sikap Prancis yang mendukung solusi dua negara bagi Palestina. “Indonesia tetap berpandangan tidak mungkin ada perdamaian di Timur Tengah tanpa solusi dua negara, tanpa keadilan bagi rakyat Palestina,” ucapnya. (lyn/wan/mia/ttg/Jawa Pos)

  • AS Serang Peluncur Rudal, Iran Tembak Jatuh Drone, Ancam Proses Perundingan Damai di Doha, Mojtaba Khamenei Sebut Israel Kanker-nya Timur Tengah

    AS Serang Peluncur Rudal, Iran Tembak Jatuh Drone, Ancam Proses Perundingan Damai di Doha, Mojtaba Khamenei Sebut Israel Kanker-nya Timur Tengah

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Amerika Serikat (AS) mengulangi kebiasaan lamanya menyerang Iran saat perundingan berlangsung. Serangan kali ini malah terasa sangat paradoksal dilakukan saat delegasi kedua negara sedang merundingkan kesepakatan damai di Qatar.

    Serangan sebelumnya dilakukan AS bersama Israel ke Iran pada 28 Februari, sebelum kemudian AS-Iran menyepakati gencatan senjata yang mulai dijalankan 8 April lalu. Serangan tersebut juga dilakukan di tengah negosiasi terkait nuklir di Swiss yang sudah hampir mencapai kesepakatan.

    Serangan terbaru ke sisi selatan Iran itu kemungkinan besar bakal mengancam proses negosiasi damai yang sedang berlangsung di Doha, Qatar. Mengutip Al Jazeera, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim, serangan tersebut untuk membela diri dengan tujuan melindungi pasukan AS dari ancaman Iran.

    “Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau,” kata Juru Bicara CENTCOM Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins pada Senin malam (25/5) waktu setempat.

    Teheran mengakui adanya ledakan di Bandar Abbas, kota di bagian selatan wilayah mereka, dekat Selat Hormuz. Namun, kepada Al Jazeera, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menyebut, pihaknya berhasil menembak jatuh Reaper drone atau pesawat nirawak tempur dan pengintai. Namun, tak dijelaskan secara pasti di mana lokasinya.

    Dari Washington DC, Alan Fisher, jurnalis Al Jazeera, mengatakan, insiden-insiden kecil serupa pernah terjadi di awal gencatan senjata. “Tapi, waktu itu (Presiden AS) Donald Trump tak menganggapnya sebagai pelanggaran gencatan,” katanya.

    Mengenai skala serangan kali ini, tak banyak informasi yang disampaikan Gedung Putih maupun Pentagon. Tidak ada rincian, misalnya, tentang jumlah korban atau berapa banyak peluncur rudal dan kapal yang diserang.

    IRGC sebelumnya menargetkan sebuah kapal di Selat Hormuz sebelum serangan AS terjadi. Namun, tidak ada keterangan resmi mengenai kapal apa dan siapa yang dimaksud.

    Yang jelas, ketika AS menyerang, delegasi Iran yang di antaranya berisi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, dilaporkan sudah berada di Doha, Qatar. Presiden Amerika Donald Trump sebelumnya menyebut, kesepakatan dengan Iran harus mencakup penyerahan stok uranium.

    “Tidak akan ada kesepakatan kecuali syarat itu dipenuhi,” ujar Trump seperti dikutip dari Middle East Eye kemarin (26/5).

    Namun, serangan terbaru tersebut justru berpotensi memperburuk situasi. Apalagi, Iran juga menegaskan, tidak akan ada tekanan yang membuat mereka takut.

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan, pembicaraan dengan AS saat ini masih berfokus pada penghentian perang. Namun, Baghaei juga menegaskan, tak ada jaminan bahwa Washington DC akan mematuhi komitmen yang dirumuskan dalam kesepakatan.

    Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio mengatakan, proses negosiasi kemungkinan membutuhkan waktu beberapa hari lagi. Sebab, kedua pihak masih membahas detail bahasa dalam dokumen awal kesepakatan.

    “Ada banyak pembicaraan bolak-balik mengenai bahasa spesifik dalam dokumen awal,” kata Rubio.

    Peringatan Keras

    Ketegangan juga meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan peringatan keras kepada AS. Dikutip dari The Guardian, Khamenei mengatakan, Negeri Paman Sam itu tidak lagi memiliki tempat aman di kawasan Timur Tengah.

    “Kekuatan-kekuatan di Teluk Persia tidak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan-pangkalan AS dan AS tidak akan lagi memiliki tempat berlindung yang aman di kawasan tersebut,” tulis Mojtaba melalui saluran Telegram-nya.

    Mojtaba juga menyebut, Israel sebagai kanker yang berbahaya dan mematikan bagi kawasan. “Israel harus dihancurkan dan memang akan hancur,” kata penerus kedudukan sang ayah, Ayatullah Ali Khamenei itu.

    Sementara itu, Middle East Eye melansir, sejumlah analis menilai Iran justru berhasil mempertahankan pengaruh strategisnya di kawasan meski terus mendapat tekanan militer dari Amerika dan Israel. Hassan Ahmadian, salah seorang analis, menyebut, Teheran masih memegang kartu penting, terutama kendali de facto atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

    Media tersebut juga menilai, perang berkepanjangan justru memperlihatkan kegagalan AS mempertahankan dominasinya di Timur Tengah. Iran dinilai tetap mampu menjadi penyeimbang kekuatan regional melalui kemampuan drone, rudal, hingga pengaruh politiknya di kawasan. (lyn/ttg/Jawa Pos)

  • Donald Trump dan Xi Jinping Sepakat Hormuz Dibuka dan Perang Berhenti

    Donald Trump dan Xi Jinping Sepakat Hormuz Dibuka dan Perang Berhenti

    POJOKBANDUNG.COM, BEIJING – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei menjadi sorotan dunia. Keduanya membahas ketegangan dengan Iran hingga ancaman terhadap jalur energi global di Selat Hormuz.

    Dalam pernyataannya usai pertemuan, Trump menegaskan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. ’’Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir. Kami ingin selat itu dibuka,’’ ujar Trump.

    Dia juga mengungkapkan bahwa Xi menolak langkah Iran yang berpotensi membatasi akses kapal di Selat Hormuz. Selain itu, Trump menyebut Xi berjanji tidak akan mengirim peralatan militer ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

    Namun, pemerintah Tiongkok hanya memberikan pernyataan singkat melalui kementerian luar negerinya, menegaskan bahwa konflik tidak seharusnya berlanjut.

    Meski mengklaim adanya kesepahaman, Trump menegaskan Washington tidak meminta bantuan khusus dari Beijing. Dia juga membuka kemungkinan mencabut sanksi terhadap perusahaan minyak Tiongkok yang membeli minyak Iran.

    Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan negaranya masih membuka peluang diplomasi dengan Amerika Serikat. Dia berharap normalisasi keamanan Selat Hormuz dapat segera terwujud, meski mengakui tingkat kepercayaan terhadap Washington masih rendah.

    Sementara itu, dinamika Timur Tengah juga dibahas dalam pertemuan bilateral Indonesia–Rusia di Moskow. Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta bertemu Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Georgy Borisenko untuk membahas isu Palestina, Selat Hormuz, hingga stabilitas kawasan.

    Keduanya menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menjaga keamanan dan mendorong perdamaian, termasuk melalui forum seperti Organisasi Kerja Sama Islam dan BRICS.

    ’’Indonesia dan Rusia memiliki kesamaan pandangan bahwa kawasan Timur Tengah mengalami perubahan cepat, sehingga diperlukan kolaborasi untuk menjaga stabilitas,’’ ujar Anis Matta.

    Pertemuan di Beijing dan Moskow tersebut menegaskan bahwa stabilitas Selat Hormuz kini menjadi perhatian global. Keputusan politik dalam beberapa hari ke depan dinilai akan sangat menentukan arah ketegangan di kawasan sekaligus keamanan pasokan energi dunia. (lyn/mia/ai/Jawa Pos)

  • Kapal AS Dekati Selat Hormuz, Iran Lepas Tembakan Peringatan, Mediasi Mandek, 800 Kapal Masih Tertahan

    Kapal AS Dekati Selat Hormuz, Iran Lepas Tembakan Peringatan, Mediasi Mandek, 800 Kapal Masih Tertahan

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Ketegangan di Selat Hormuz meningkat tajam. Amerika Serikat dan Iran kian terbuka menunjukkan kekuatan militer di jalur strategis tersebut.

    Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengiriman kapal untuk membuka jalur pelayaran yang terhambat. Ia juga melontarkan ancaman keras. “Iran akan dilenyapkan dari muka bumi jika menyerang kapal-kapal Amerika,” ujarnya seperti dikutip The Guardian.

    Respons cepat datang dari Teheran. Media pemerintah Iran menyebut Angkatan Laut mereka melepaskan dua rudal ke arah kapal perusak AS yang mendekati Selat Hormuz. Namun, klaim itu dibantah militer Amerika. US Central Command (CENTCOM) menegaskan tidak ada kapal mereka yang terkena serangan.

    Meski demikian, Tasnim News Agency mengonfirmasi adanya tembakan peringatan yang dilepaskan Iran. Aksi itu dilakukan setelah kapal perang AS dinilai memasuki area sensitif tanpa mengindahkan peringatan.

    ’’Tidak ada solusi militer untuk krisis politik ini,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melalui akun X. Ia menilai langkah Washington justru memperkeruh situasi.

    Peringatan lebih keras disampaikan militer Iran. Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbia Mayjen Ali Abdollahi menegaskan, setiap kekuatan asing yang mendekati Hormuz berisiko diserang. Iran juga meminta kapal komersial tidak melintas tanpa koordinasi dengan otoritas setempat.

    Situasi di lapangan semakin kompleks. Lebih dari 800 kapal dengan sekitar 20.000 awak dilaporkan masih tertahan di kawasan tersebut. Upaya mediasi yang difasilitasi Pakistan belum membuahkan hasil.

    UEA Tuding Serangan Drone

    Di tengah eskalasi, Uni Emirat Arab (UEA) menuduh Iran menyerang kapal tanker kosong milik ADNOC, Barakah, dengan drone. Tidak ada korban dalam insiden tersebut.

    UEA mendesak Iran menghentikan provokasi dan membuka Selat Hormuz tanpa syarat. Namun, Iran membantah tuduhan itu.

    Sumber militer yang dikutip Tasnim menyatakan tidak ada perintah menyerang UEA. Meski begitu, ia memperingatkan bahwa tindakan bermusuhan akan dibalas tegas. “Jika Emirat melakukan kesalahan, akan ada konsekuensi serius,” ujarnya. (lyn/oni/Jawa Pos)

  • Iran Siap Serang Balik setelah Kapal Kargo Disita AS, Provokasi Washington Perkeruh Peluang Terjadinya Pembicaraan Damai

    Iran Siap Serang Balik setelah Kapal Kargo Disita AS, Provokasi Washington Perkeruh Peluang Terjadinya Pembicaraan Damai

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Gencatan senjata dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berakhir besok Rabu (22/4/2026). Namun, potensi adu senjata kembali lebih mengemuka ketimbang prospek perdamaian.

    Teheran menyatakan, belum memiliki rencana untuk menghadiri agenda pembicaraan baru yang dijadwalkan berlangsung kembali di Islamabad, Pakistan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan, keputusan itu diambil setelah AS menyita kapal kargo berbendera Iran yang melayari Teluk Oman dan hendak melewati Selat Hormuz.

    Insiden tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengiriman tim ke Islamabad Pakistan untuk membuka peluang negosiasi lanjutan. “Iran belum berniat untuk ikut serta dalam negosiasi sejauh ini,” ujar Baghaei seperti dikutip dari Al Jazeera Senin (20/4/2026).

    Toska, nama kapal kargo tersebut, ditembaki pada Minggu (19/4). AS sedang memblokade jalur menuju Selat Hormuz. Menurut unggahan Presiden AS Donald Trump, kapal tersebut tak mengindahkan peringatan dari kapal Angkatan Laut AS.

    “Angkatan Laut AS menghentikan mereka dengan menembak ruang mesin. Marinir AS mengambil alih kapal untuk melihat apa isinya,” tulis Trump di akun Truth Social.

    Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari mengecam keras tindakan terhadap kapal dengan destinasi Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, tersebut. “Amerika Serikat, sebagai agresor, melanggar gencatan senjata dan melakukan pembajakan maritim dengan menembaki kapal dagang Iran,” ucapnya, seperti dikutip dari Press TV kemarin.

    Iran menutup lagi Selat Hormuz sehari setelah membukanya pada Jumat (17/4) pekan lalu. Hal itu dilakukan setelah AS melakukan blokade yang dinilai Teheran sebagai bentuk pelanggaran gencatan.

    Respons Militer

    Zolfaghari juga memperingatkan, Iran bakal segera melakukan respons militer. “Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi pembajakan bersenjata ini,” tuturnya.

    Iran tak sekadar menggertak. Negeri yang dulu bernama Persia itu bahkan dilaporkan sudah melancarkan serangan pesawat tak berawak yang menargetkan sejumlah kapal militer AS yang terlibat dalam blokade di kawasan tersebut. Serangan yang lebih besar lagi diperkirakan menyusul.

    Di sisi lain, rencana perundingan damai kedua pihak sebenarnya muncul menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan. Namun, insiden penyitaan kapal kargo tersebut dinilai semakin memperkeruh peluang dialog.

    Perundingan sebelumnya berlangsung 21 jam di Islamabad (11/4) tak menghasilkan apa pun. Kendala sentralnya ada pada isu uranium dan penguasaan Selat Hormuz. Versi Teheran, permintaan Washington DC berlebihan.

    Pemimpin delegasi Iran untuk perundingan di Islamabad, Mohammad-Bagher Ghalibaf, bahkan menuding Trump tidak jujur. “Trump berbohong, meski pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup,” katanya.

    Dikutip dari The Guardian, gaya kepemimpinan Trump yang tidak konsisten turut memperkeruh situasi. Pendekatan diplomasi yang berubah-ubah dinilai menimbulkan kebingungan dan memperdalam ketidakpercayaan Iran. Keputusan Washington bakal mengirim delegasi ke Islamabad hanya 24 jam setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz justru menegaskan bahwa jalur air itu menjadi alat tawar strategis utama Teheran. (lyn/ttg/Jawa Pos)

  • Trump Klaim Pilot Selamat, Iran Sebut Operasi AS Gagal, Setelah Tembak Jet Tempur F-15E, Teheran Jatuhkan Heli Black Hawk-Pesawat Serang A-10

    Trump Klaim Pilot Selamat, Iran Sebut Operasi AS Gagal, Setelah Tembak Jet Tempur F-15E, Teheran Jatuhkan Heli Black Hawk-Pesawat Serang A-10

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Di Washington DC, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku pada kemarin (5/4/2026) pagi waktu setempat, “We got him!” Him yang dimaksud Trump di unggahan akun Truth Social-nya adalah pilot jet tempur F-15E Fighter yang jatuh ditembak Iran Jumat (3/4/2026).

    Namun, di Teheran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf membalas lewat akun X-nya dengan mengunggah foto-foto pesawat militer AS yang jatuh di Isfahan, Iran Selatan, dalam rangka operasi penyelamatan sang pilot. Qalibaf lalu menyindir secara sarkastik melalui takarir, ‘’Kalau AS memperoleh tiga kali kemenangan seperti ini, mereka akan benar-benar hancur.”

    Menurut Trump, sang  pilot, seorang kolonel yang sangat dihormati, mengalami luka. “Namun, dia akan baik-baik saja,” katanya seperti dikutip dari USA Today.

    Kru pertama jet tempur yang jatuh itu telah diselamatkan tak lama setelah kejadian. Trump menyebut operasi penyelamatan itu tak diekspos dengan pertimbangan keselamatan kru kedua.

    Mengutip New York Times, operasi penyelamatan itu melibatkan ratusan personel serta persenjataan militer canggih. Salah satu pesawat yang terlibat adalah pesawat serang Angkatan Udara AS A-10 “Warthog.”

    Nah, pesawat itulah yang juga ditembak jatuh Iran dalam operasi penyelamatan. New York Times dan CBS News juga mengonfirmasi hal tersebut dalam laporannya. Pilot pesawat tersebut kemudian menyelamatkan diri dengan kursi lontar ke Teluk Persia sebelum akhirnya dievakuasi.

    Versi Teheran, mengutip Kantor Berita Tasnim, yang juga ikut tertembak jatuh dalam operasi penyelamatan di Isfahan adalah dua heli Black Hawk dan satu pesawat transportasi militer C-130.

    Juru Bicara Markas Pusat Angkatan Bersenjata Iran Ebrahim Zolfaghari bahkan menyamakan apa yang dialami AS itu dengan kegagalan Operasi Cakar Elang pada 1980. “Yang terlibat dalam operasi menggagalkan upaya AS itu adalah angkatan udara dan darat, milisi Basij, dan aparat lainnya,” kata Zolfaghari.

    Operasi Cakar Elang merujuk pada upaya AS menyelamatkan 53 staf Kedutaan Besar AS di Teheran yang ditangkap pasukan Revolusi Iran setelah terjadinya Revolusi Islam 1979. Operasi itu gagal total.

    Namun, Zolfaghari tak menyebutkan apakah pilot F-15E itu benar sudah berhasil dievakuasi AS atau belum, atau masih dalam perburuan di kawasan sekitar Isfahan yang berbukit-bukit. Iran sudah mengumumkan sayembara, siapa saja yang bisa menangkap pilot itu dalam kondisi hidup berhak atas hadiah Rp 1 miliar.

    Isu Kesehatan Trump

    Akun X resmi Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan mengolok-olok perseteruan antara Gedung Putih dan kalangan petinggi militer AS. “Perubahan rezim telah benar-benar terjadi,” tulis akun tersebut sambil mengunggah foto belasan jenderal yang dipecat atau mundur dari jabatannya sejak Pete Hegseth menjadi menteri pertahanan (sekarang menteri perang) tahun lalu.

    Berbagai sumber menyebut ada sekitar 30 jenderal yang menolak rencana Trump melakukan penyerbuan darat ke Iran. Mereka menganggap itu rencana bunuh diri mengingat sulitnya wilayah daratan Iran dan kuatnya pertahanan mereka.

    Sebanyak 12 di antaranya kemudian dicopot, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat Randy George. Tak ada penjelasan resmi, tetapi pemecatan George kian memperkuat fragmentasi antara kalangan militer dan Pentagon.

    Di tengah isu itu, Trump juga dilanda isu kesehatan. Pada Sabtu (4/4), dia dikabarkan harus dirawat di Walter Reed National Military Medical Center, Bethesda, Maryland.

    Spekulasi itu bermula dari pengumuman Gedung Putih pada Sabtu (4/4) pukul 11.08 waktu setempat bahwa presiden 79 tahun itu tak akan hadir di depan publik di sisa hari tersebut. Padahal, biasanya Trump menghabiskan akhir pekan dengan bermain golf di Mar-a-Lago.

    Kali terakhir Trump ke rumah sakit militer itu pada Oktober tahun lalu saat menjalani pemeriksaan MRI. “Benar, saya menjalani MRI. Hasilnya sempurna,” katanya ketika itu seperti dikutip mirror.co.uk.

    Steven Cheung juru bicara pribadi Trump pun langsung menyatakan bahwa kondisi kesehatan Trump tidak bermasalah. “Tidak ada presiden yang bekerja sekeras Presiden Trump demi kepentingan rakyat Amerika,” kata Cheung lewat akun X-nya. (wan/ttg/Jawa Pos)

  • Iran Tolak Negosiasi Presiden AS Donald Trump, Serangan Udara ke Israel Kian Memanas

    Iran Tolak Negosiasi Presiden AS Donald Trump, Serangan Udara ke Israel Kian Memanas

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Militer Iran menolak pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Amerika Serikat sedang bernegosiasi untuk mengakhiri perang. Iran mengatakan bahwa AS sebenarnya bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

    Penolakan terhadap negosiasi oleh komando gabungan Angkatan Bersenjata Iran, yang didominasi oleh elit garis keras Garda Revolusi, terjadi di tengah laporan bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan rencana 15 poin ke Teheran untuk dibahas.

    “Apakah tingkat pergulatan batin Anda (Trump) sudah sampai pada tahap Anda bernegosiasi dengan diri sendiri?” kata juru bicara utama komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaqari, di televisi pemerintah Iran dilansir dari Straits Times.

    “Orang seperti kami tidak akan pernah cocok dengan orang seperti Anda. Seperti yang selalu kami katakan… tidak akan ada orang seperti kami yang membuat kesepakatan dengan Anda. Tidak sekarang. Tidak pernah.”

    Kepemimpinan Iran sebelumnya menyatakan tidak bisa bernegosiasi dengan AS karena negara tersebut telah menyerang Iran dua kali selama negosiasi tingkat tinggi dalam dua tahun terakhir.

    “Iran memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan diplomasi Amerika,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, kepada India Today pada 25 Maret.

    Ia menambahkan bahwa tidak ada dialog atau negosiasi dengan Washington karena angkatan bersenjata Iran sedang fokus mempertahankan negara.

    Empat minggu sejak perang yang telah menewaskan ribuan orang, menciptakan guncangan energi terburuk dalam sejarah, dan memicu kekhawatiran inflasi global, serangan udara dari Iran dan Israel terus berlanjut pada 25 Maret.

    Pasukan Pertahanan Israel menyatakan dalam unggahan Telegram bahwa mereka meluncurkan gelombang serangan yang menargetkan infrastruktur di seluruh Teheran.

    Kemudian mereka menyebutkan bahwa angkatan udara Israel telah menyerang dua lokasi produksi rudal jelajah angkatan laut di Teheran.

    Kantor berita semi-resmi Iran, SNN, melaporkan bahwa serangan tersebut mengenai kawasan permukiman di kota itu, dengan tim penyelamat mencari korban di antara reruntuhan.

    Kuwait dan Arab Saudi mengatakan mereka berhasil menggagalkan serangan drone baru, tanpa menyebutkan asalnya.

    Drone menargetkan tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait, menyebabkan kebakaran tetapi tanpa korban jiwa, menurut otoritas penerbangan sipil Kuwait.

    Garda Revolusi Iran menyatakan telah meluncurkan gelombang serangan baru terhadap lokasi-lokasi di Israel, termasuk Tel Aviv dan Kiryat Shmona, serta pangkalan AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain, menurut media pemerintah Iran.

    Sebelumnya Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih pada 24 Maret bahwa AS sedang dalam “negosiasi” dengan “orang yang tepat” di Iran untuk mengakhiri perang, dan menambahkan bahwa pihak Iran sangat ingin mencapai kesepakatan.

    Channel 12 Israel, mengutip tiga sumber, mengatakan bahwa AS mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan untuk membahas rencana tersebut.

    Sumber yang mengetahui masalah ini mengonfirmasi bahwa AS telah mengirimkan rencana kepada Iran, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. (dis)

  • Kapal Induk Amerika Serikat Terbakar 30 Jam, Iran Tetap Menggempur Lewat Strategi Asimetris

    Kapal Induk Amerika Serikat Terbakar 30 Jam, Iran Tetap Menggempur Lewat Strategi Asimetris

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Di tengah perang yang masih berlangsung, Kapal induk Amerika Serikat USS Gerald R. Ford mengalami kebakaran hebat selama lebih dari 30 jam. Namun, penyebab kebakaran disebut bukan karena serangan Iran.

    Kapal Induk Amerika Serikat Terbakar 30 Jam, Iran Tetap Menggempur Lewat Strategi Asimetris
    Ilustrasi sejumlah titik di negara teluk menjadi sasaran drone Iran. Foto : BBC.
    Sementara foto atas, ilustrasi kapal induk Amerika Serikat (AS). Foto : dok. JawaPos.com

    Melainkan sistem internal di ruang utama laundry kapal. Kendati demikian, insiden ini menambah tekanan terhadap armada militer Amerika di tengah eskalasi perang melawan Iran yang kian kompleks.

    Dilansir Daily Press, kebakaran itu membuat lebih dari 600 personel kehilangan tempat tidur di dalam kapal. Selain kerusakan fasilitas, insiden ini juga menyebabkan kelelahan fisik dan tekanan mental bagi personel yang harus tetap siaga di tengah kondisi darurat.

    Sebelum ke Timur Tengah, kapal induk bersama dengan 4.500 pelaut dan pilot tempurnya melaju dari Mediterania ke Karibia pada 24 Oktober 2025. Kapal induk itu disebut terlibat dalam operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari. Kapal tersebut kemudian berangkat ke Timur Tengah untuk mendukung perang melawan Iran.

    Kendati kapal induknya mengalami masalah, AS membantah jika kekuatan militernya menurun. Kebakaran itu bisa diatasi dan tidak menyebabkan kerusakan pada sistem penggerak kapal. Kapal induk tetap beroperasi penuh,” ujar Komando Pusat AS dalam rilisnya.

    Iran Lanjutkan Serangan

    Serangan Iran masih terus berlangsung hingga kemarin. Dilansir dari Al Jazeera, rudal dan drone tetap diluncurkan ke sejumlah wilayah di Teluk dan Israel, meski dalam jumlah lebih kecil. Para analis menilai, penurunan intensitas bukan berarti melemahnya kekuatan, melainkan perubahan strategi.

    “Tidak mudah untuk mengidentifikasi peluncur rudal,” kata Profesor di National Defense University David Des Roches. Dia menjelaskan, Iran kini mengandalkan peluncur bergerak dan lokasi tersembunyi. Karena itu, sistem peluncur rudal dan drone Iran sulit dihancurkan meski berada di bawah tekanan serangan udara AS-Israel.

    Strategi itu diperkuat dengan pendekatan perang asimetris. Iran tidak lagi mengandalkan serangan besar-besaran, melainkan tekanan berkelanjutan dengan intensitas rendah namun konsisten. “Ini adalah perlombaan melawan waktu,” ujar peneliti di German Institute for International and Security Affairs Hamidreza Azizi.

    Iran juga mengandalkan drone murah namun efektif. Serangan jenis ini dinilai mampu menembus pertahanan dan menciptakan dampak psikologis. “Hanya dibutuhkan satu drone untuk menghancurkan rasa aman,” kata asisten profesor studi keamanan di Doha Institute for Graduate Studies Muhanad Seloom.

    Dampak strategi tersebut tidak hanya dirasakan di medan tempur. Kawasan Teluk dilaporkan mengalami gangguan serius, mulai dari kebakaran di fasilitas industri hingga terganggunya jalur penerbangan dan pelayaran. Ketegangan di Selat Hormuz juga memicu lonjakan harga minyak global.

    Bahkan, tekanan ekonomi yang dihasilkan dinilai bisa menyamai dampak serangan militer langsung. “Hal itu dapat menimbulkan kerusakan yang sama atau lebih besar bagi Amerika daripada bom Amerika di Iran,” kata profesor di Johns Hopkins University Amerika Serikat Vali Nasr.

    Di sisi lain, situasi ini juga memunculkan persoalan di internal pemerintahan Amerika. Pernyataan Presiden Donald Trump yang kerap berubah dinilai memperburuk keadaan. “Ini benar-benar menjadi krisis sekarang bagi pemerintahan Trump,” kata profesor studi media di Doha Institute for Graduate Studies Mohamad Elmasry.

    Komunikasi AS-Iran

    Saluran komunikasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali aktif dalam beberapa hari terakhir. Informasi ini diungkap seorang pejabat Amerika dan sumber yang mengetahui perkembangan tersebut.

    Dilansir dari Axios, kontak itu disebut terjadi antara utusan Amerika, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Namun, belum diketahui sejauh mana substansi pesan kedua pihak.

    Meski demikian, komunikasi ini menjadi yang pertama kali diketahui sejak perang pecah lebih dari dua pekan lalu. Sumber menyebut, pesan yang disampaikan berfokus pada upaya mengakhiri konflik.

    Di sisi lain, Araghchi membantah adanya kontak terbaru tersebut. Dalam pernyataannya di media sosial, dia menegaskan bahwa komunikasi terakhir dengan Witkoff terjadi sebelum keputusan Amerika menghentikan jalur diplomasi dan melancarkan serangan militer terhadap Iran.

    Menanggapi bantahan itu, pejabat Amerika justru menyatakan sebaliknya. Dia mengklaim bahwa Araghchi tidak jujur dan menyebut pihak Iran yang terlebih dahulu menginisiasi komunikasi melalui pesan singkat.

    Sementara itu, Trump mengatakan, Iran memang telah berkomunikasi dengan pihaknya, meski belum jelas apakah pihak yang terlibat memiliki kewenangan untuk mencapai kesepakatan. “Mereka ingin membuat kesepakatan. Mereka berbicara dengan orang-orang kami, tetapi kami tidak tahu siapa mereka,” ujar Trump.

    Dia juga menyatakan tetap terbuka terhadap kemungkinan perundingan. Namun, di saat bersamaan, Trump meragukan kesiapan Teheran untuk mencapai kesepakatan. Dia menambahkan bahwa situasi kepemimpinan di Iran saat ini belum jelas, menyusul banyaknya pejabat tinggi yang dilaporkan tewas dalam konflik.

    Seorang pejabat senior Amerika menegaskan bahwa Washington menolak tuntutan Iran terkait kompensasi sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun, Amerika disebut terbuka pada kesepakatan yang memungkinkan Iran kembali terintegrasi dengan ekonomi global, termasuk melalui ekspor minyak.

    Di pihak lain, pejabat Iran secara konsisten menyatakan tidak sedang melakukan negosiasi gencatan senjata dengan pemerintahan Trump. Teheran juga menolak gencatan senjata sementara dan menginginkan jaminan bahwa setiap kesepakatan damai bersifat permanen.

    Sumber juga menyebut Araghchi saat ini berkoordinasi dengan Ali Larijani, yang disebut sebagai pemimpin sipil de facto Iran pascakrisis kepemimpinan. Meski bukan pengambil keputusan utama, Araghchi dinilai tetap menjadi jalur komunikasi penting bagi Amerika karena hubungan yang sudah terjalin sebelumnya.

    Plt Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Heni Hamidah memastikan, tak ada WNI yang terdampak dari jatuhnya serpihan drone di sejumlah wilayah di Uni Emirat Arab (UEA) seperti Dubai, Fujairah, dan Umm Al Quwain pada Senin (16/3). Diketahui, serpihan drone tersebut telah menyebabkan kebakaran di beberapa titik, termasuk di area dekat Dubai International Airport (DXB).

    Akibat insiden tersebut, operasional penerbangan di Dubai International Airport (DXB) sempat ditunda hingga pukul 10.00 waktu setempat, dan sejumlah penerbangan dialihkan ke bandara terdekat. “Otoritas setempat segera menangani kejadian tersebut dan hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa,” ungkapnya Selasa (17/3).

    Meski begitu, terdapat laporan adanya dua penerbangan maskapai Emirates dari Indonesia menuju Dubai yang terdampak pengalihan pendaratan. Yakni, EK 359 rute Jakarta–Dubai dialihkan mendarat di Zayed International Airport dengan perkiraan 309 penumpang. Kemudian, EK 399 rute Denpasar–Dubai dialihkan mendarat di Al Maktoum International Airport dengan perkiraan 300 penumpang.

    “Sejauh ini tidak terdapat laporan WNI yang menjadi korban ataupun yang meminta bantuan terkait insiden tersebut,” ungkapnya pada Selasa (17/3). Heni menekankan, bahwa Perwakilan RI di Timur Tengah, khususnya UEA, terus memantau perkembangan situasi di sana. KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai pun telah berkoordinasi secara intensif dengan otoritas setempat serta maskapai terkait untuk memastikan kelancaran perjalanan WNI yang terdampak. (lyn/mia/oni/Jawa Pos)

  • Rusia Diduga Bantu Kepresisian Serangan Iran, Kapal Meledak di Selat Hormuz, Tiga WNI Hilang

    Rusia Diduga Bantu Kepresisian Serangan Iran, Kapal Meledak di Selat Hormuz, Tiga WNI Hilang

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Bahkan jika Amerika Serikat (AS) dan Israel meningkatkan serangan ke skala besar-besaran, tetap tidak akan mampu menggulingkan pemerintahan Iran.

    Rusia Diduga Bantu Kepresisian Serangan Iran, Kapal Meledak di Selat Hormuz, Tiga WNI Hilang
    Eskalasi saling serang antara Iran dan Israel meningkatkan kekhawatiran pecahnya perang besar di Timur Tengah. Foto : Reuters. Sementara foto atas, Ledakan dan kobaran api terlihat setelah militer Israel menyerang sejumlah kompleks penyimpanan bahan bakar di Teheran, Iran, Sabtu (7/3/2026). Foto : The New York Times

    Selain itu, serbuan darat juga bakal sulit dilakukan mengingat negeri tetangga Iraq itu dipagari kawasan bergunung yang menyulitkan pergerakan pasukan.

    Asesmen Dewan Intelijen Nasional yang didasarkan pada sepekan serangan AS dan Israel, seperti dilansir Washington Post (7/3/226), juga menyebut, kalangan oposisi Iran yang terfragmentasi tidak akan mampu mengambil alih kekuasaan.

    Dewan juga mempertanyakan basis asumsi Gedung Putih bahwa perang bisa diakhiri dalam empat sampai enam pekan.

    Presiden AS Donald Trump yang pertama berkoar kalau perang bakal bisa diselesaikan dalam empat sampai enam pekan.

    Meski kemudian narasinya berubah menjadi “sampai tujuan yang ingin dicapai AS tercapai”.

    Persoalannya, narasi tujuan AS juga terus berubah-ubah.

    Mulai dari penghentian program nuklir, pergantian rezim, sampai penghancuran misil balistik.

    Belakangan, Pusat Komando AS (CENTCOM) di Tampa, Florida, justru mengajukan permintaan tambahan personel karena perang bisa berlangsung sampai September nanti.

    Asesmen Dewan Intelijen AS itu sejalan dengan analisis Arman Mahmoudian, periset tamu di Institut Keamanan Nasional dan Global Universitas South Florida. Iran dinilai mampu berperang dalam durasi panjang.

    Kuncinya ada pada efektivitas serangan.

    “Jika Iran berhasil menjaga serangan misil mereka tak sampai 50 per hari, perang ini bisa berlanjut sampai berpekan-pekan. Iran tak punya masalah dengan stok proyektil,” katanya kepada Middle East Eye.

    Sementara itu, Rusia diduga membantu Iran menyempurnakan penargetan aset AS di kawasan Teluk Persia.

    Washington Post, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Iran kini lebih mampu melacak kapal perang dan pesawat AS berkat bantuan intelijen sekutu lama mereka tersebut.

    Middle East Eye telah menghubungi Departemen Luar Negeri AS untuk meminta konfirmasi, tetapi tidak menerima tanggapan tepat waktu.

    Yang pasti, setidaknya sembilan pangkalan militer AS berhasil diserang Iran dalam kurun 48 jam pertama perang.

    Senin (2/3) pekan lalu, Iran juga berhasil menggempur markas CIA di Riyadh, Arab Saudi, yang dirahasiakan dan menewaskan sejumlah personel badan intelijen AS tersebut.

    Lebih dari setahun yang lalu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani perjanjian kerja sama strategis komprehensif selama 20 tahun.

    Kerja sama itu mencakup penguatan hubungan militer di tengah isolasi internasional dan sanksi AS yang semakin keras.

    Citra satelit menunjukkan Iran kemungkinan telah menghancurkan radar Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di tiga negara di kawasan tersebut.

    Padahal, secara keseluruhan, AS hanya memiliki 10 THAAD yang pembuatannya sangat mahal dan memakan waktu.

    Sistem pertahanan THAAD dirancang untuk mendeteksi rudal balistik jarak pendek, menengah, dan jauh yang datang.

    Sistem ini merupakan produk pabrikan senjata AS Lockheed Martin.

    “Tidak hanya ada peningkatan ketepatan dalam penargetan Iran, tetapi juga ada kerja sama yang sudah berlangsung antara Iran dan Rusia di bidang intelijen. Ini sesuatu yang dapat ditawarkan Rusia kepada Iran tanpa perlu benar-benar terlibat dalam perang,” kata Nicole Grajewski, penulis buku Russia and Iran: Partners in Defiance from Syria to Ukraine, kepada Middle East Eye.

    Penyebab Belum Diketahui

    Dari Jakarta, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) membenarkan bahwa tiga warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di tugboat Musaffah 2 berbendera Uni Emirat Arab dilaporkan hilang.

    Itu terjadi setelah kapal mengalami ledakan dan tenggelam pada Jumat (6/3/2026) di Selat Hormuz pukul 02.00 dini hari waktu setempat.

    Plt Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Heni Hamidah menyebut, perwakilan pemerintah Indonesia di sana telah berkoordinasi dengan otoritas UEA dan Oman.

    Juga dengan perusahaan Safeen Prestige yang mengoperasikan kapal itu.

    Musaffah 2 berawak total tujuh kru dengan kewarganegaraan Indonesia, India, dan Filipina.

    Empat awak selamat, sedangkan tiga lainnya masih dalam proses pencarian.

    “Khusus kondisi empat awak WNI, satu WNI selamat kini sedang mendapat perawatan luka bakar di rumah sakit di Kota Khasab, Oman. Sedangkan tiga WNI lainnya masih terus diupayakan pencarian oleh otoritas setempat,” ujarnya saat dikonfirmasi Minggu (8/3/2026).

    Selain empat WNI tersebut, sambung dia, terdapat satu WNI lainnya berada di lokasi insiden namun berada di kapal yang berbeda.

    Dipastikan yang bersangkutan dalam keadaan selamat.

    Belum diketahui penyebab pasti dari ledakan yang terjadi.

    Menurut Heni, otoritas UEA dan Oman masih melakukan penyelidikan. (idr/mia/ttg/Jawa Pos)

  • Konflik di Timur Tengah Bisa Ganggu Logistik dan Rantai Pasokan Industri Tekstil dan Produk Tekstil atau TPT di Indonesia

    Konflik di Timur Tengah Bisa Ganggu Logistik dan Rantai Pasokan Industri Tekstil dan Produk Tekstil atau TPT di Indonesia

    POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia siaga menghadapi potensi gangguan, baik dari sisi pasokan bahan baku maupun lonjakan biaya logistik akibat konflik di Timur Tengah.

    Dewan Penasihat Chartered Institute of Logistics and Transport (CILT) Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, serangan AS-Israel ke Iran mengancam stabilitas politik dan ekonomi dunia.

    Sisi logistik dan rantai pasok dunia bakal terganggu jika perdamaian tidak segera terwujud.

    ”Eskalasi konflik langsung menarik perhatian dunia akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih, blokade Iran di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak dan gas utama dari Timur Tengah ke berbagai negara,” jelas Yukki.

    Setidaknya ada enam negara utama eksportir minyak yang akan terdampak langsung bila Selat Hormuz ditutup.

    Yaitu Arab Saudi, Irak, UAE, Kuwait, Qatar, serta Iran.

    Sebaliknya, disrupsi impor minyak berbagai negara seperti India, Tiongkok, Jepang, dan kawasan Asia Tenggara yang berasal dari keenam negara utama itu ikut terkena dampak.

    Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, ketergantungan terhadap bahan baku dari kawasan Timur Tengah menjadi titik rawan utama.

    Salah satu komoditas krusial yang berisiko terdampak adalah Monoetilen Glikol (MEG).

    ”Dari sisi bahan baku, kita impor MEG 85 persen dari Timur Tengah, sepertinya ini yang akan terganggu. Kita coba alihkan impornya dari Malaysia. Kalau MEG kita saat ini ada stok untuk di atas dua bulan,” ujarnya.

    Meski opsi pengalihan impor ke Malaysia terbuka, Redma mengakui harga MEG dari Timur Tengah selama ini lebih kompetitif.

    Artinya, perubahan sumber pasokan berpotensi meningkatkan biaya produksi.

    Namun, di tengah situasi geopolitik yang semakin tidak menentu, kepastian pasokan dinilai lebih mendesak dibanding pertimbangan harga semata.

    Tidak semua bahan baku berada dalam kondisi rawan. Untuk Purified Terephthalic Acid (PTA), komponen utama lain dalam produksi poliester, sekitar 95 persen pasokan berasal dari dalam negeri. Kondisi itu membuat risiko gangguan terhadap komoditas tersebut relatif terbatas.

    Namun, tantangan industri TPT tidak berhenti pada urusan bahan baku.

    Lonjakan biaya logistik diperkirakan menjadi tekanan berikutnya seiring meningkatnya risiko pengiriman di jalur perdagangan internasional.

    ”Biaya logistik bisa dipastikan naik, terkait biaya asuransi hingga waktu transportasi yang akan bertambah,” ujarnya.

    Kenaikan premi asuransi kapal serta potensi pengalihan rute pelayaran untuk menghindari wilayah konflik diprediksi mendorong ongkos kirim lebih tinggi.

    Dampaknya, tidak hanya dirasakan pada impor bahan baku, tetapi juga terhadap ekspor produk tekstil Indonesia.

    Struktur pasar ekspor TPT nasional saat ini cukup terkonsentrasi.

    Sekitar 30 persen ekspor mengalir ke Eropa, sementara 40 persen lainnya ditujukan ke AS, yang hingga kini masih menghadapi kendala tarif resiprokal.

    ”Untuk menjaga dan memperbaiki kinerja, pemerintah perlu kasih kebijakan untuk dorong industri menguasai pasar domestik yang saat ini 60 persen-nya dikuasai produk impor,” urai Redma.

    Dengan hampir 70 persen ekspor bergantung pada dua pasar utama tersebut, tekanan berpotensi terjadi secara bersamaan.

    Eropa terancam terganggu akibat lonjakan biaya logistik dan waktu pengiriman, sementara pasar AS masih dibayangi hambatan tarif.

    Redma menilai ekspor ke Eropa hampir pasti terdampak dari sisi ongkos kirim dan durasi pengiriman.

    Sebaliknya, impor bahan baku dinilai relatif lebih aman, mengingat sekitar 90 persen benang dan kain diimpor dari Tiongkok yang tidak terdampak langsung konflik di Timur Tengah.

    Pasar Pelumas

    Eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran mulai memunculkan kekhawatiran di sektor industri, termasuk pasar pelumas nasional.

    PT Motul Indonesia Energy (MIE) menilai ketegangan geopolitik tersebut berpotensi memberi tekanan signifikan terhadap biaya produksi dan harga jual pelumas di dalam negeri.

    Managing Director PT Motul Indonesia Energy (MIE) Welmart Purba mengatakan industri pelumas Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Ketergantungan itu membuat sektor tersebut rentan terhadap gangguan pasokan global dan fluktuasi harga energi.

    ”Kalau produksi-produksi dalam konteks ini adalah lubricant, itu additive, base oil, kita kan impor sebenarnya. Lihat saja pemerintah sudah kasih sinyal bahwa mereka akan menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak). Nah, jadi itu yang akan sangat berdampak langsung ke kita,” kata Welmart.

    Menurut dia, dampak perang terhadap industri pelumas tidak akan terasa seketika. Tekanan harga dan pasokan diperkirakan mulai muncul dalam dua hingga tiga minggu setelah gangguan distribusi terjadi.

    Sementara itu, Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan, jika harga minyak dunia sampai tembus USD 100 per barel, maka hal itu dapat membebani biaya logistik dan berpengaruh pada harga BBM di dalam negeri.

    ”Belum lagi, kawasan Timur Tengah merupakan salah satu destinasi tujuan negara ekspor yang paling berpengaruh untuk produk otomotif buatan Indonesia,” ujarnya.

    Evakuasi WNI

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyatakan, pihaknya tengah menyiapkan evakuasi untuk para WNI yang ada di Iran.

    Dia sudah memerintahkan Dubes RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat untuk segera mengambil langkah evakuasi  jika ada masyarakat yang menginginkan  dievakuasi.

    Saat ini, sudah ada 15 orang WNI yang mengajukan diri untuk dievakuasi dari Iran.

    ”Tidak semuanya menyampaikan keinginan untuk dievakuasi. Tapi, tadi disampaikan ada beberapa yang bersedia untuk dievakuasi dari wilayah Iran dan saya perintahkan untuk melaksanakan evakuasi bertahap tersebut,” ujarnya usai menghadiri pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan seluruh mantan presiden dan wakil presiden, mantan menlu, serta ketua umum partai politik, di Istana, Selasa (3/3/2026) malam.

    Kemenlu berencana mengevakuasi lewat jalur darat, yakni lewat Baku, Azerbaijan.

    ”Kan ini ruang udara juga lagi tertutup. Kalau misalnya evakuasi dari Teheran itu mereka harus dibawa ke Baku. Dari Teheran ke Baku itu 10 jam perjalanan,” paparnya.

    Namun, Sugiono belum bisa memastikan kapan evakuasi akan berjalan. Sebab, itu membutuhkan l persiapan matang. Mulai dari logistik, kondisi WNI tersebut, dan lainnya.

    ”Jadi enggak bisa hari ini mau evakuasi langsung detik itu juga kita geser ya. Ini lagi diatur waktunya kapannya,” ungkapnya.

    Sekjen Partai Gerindra itu menambahkan, belum ada WNI lain di negara terdampak yang meminta dievakuasi. Baik itu yang berada di Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain dan lainnya.

    ”Yang minta evakuasi kita evakuasi, ya kan enggak mungkin orang yang enggak mau kita pindahin kita pindah-pindahin,” sambungnya. (agf/mia/aph/Jawa Pos)

     

  • Taliban Bakal Melawan Pakistan dengan Taktik Gerilya

    Taliban Bakal Melawan Pakistan dengan Taktik Gerilya

    POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Secara kekuatan militer, baik jumlah personel maupun kualitas persenjataan, Pakistan jelas bukan tandingan Afghanistan.

    Taliban Bakal Melawan Pakistan dengan Taktik Gerilya

    Ilustrasi Pakistan menyerang Afganistan. Foto : Dok. X.com. Sementara foto atas, ilustrasi para petarung Taliban di Provinsi Laghman pada Maret 2020. Foto : Dok. Getty Images

    Pakistan rutin masuk 15 besar dunia untuk urusan angkatan perang, sedangkan Taliban yang menguasai Afghanistan justru banyak mengandalkan alat tempur bekas.

    Analisa pakar, dari berbagai video pertempuran di garis perbatasan yang terjadi sebelumnya, para personel Taliban terlihat memakai senjata ringan.

    Di sisi lain, kekuatan militer Pakistan bisa dilihat dari sasaran tembak mereka sekarang yang banyak menyasar fasilitas pemerintahan.

    “Ini artinya Pakistan menargetkan rezimnya itu sendiri,” kata Michael Kugelman, analis senior di Dewan Atlantik dan Asia Selatan, kepada BBC.

    Mengutip BBC kemarin (27/2/2026), persenjataan Taliban berasal dari tiga sumber: bekas militer Afghanistan, peninggalan pasukan asing, dan yang dibeli dari pasar gelap.

    Terbiasa Berperang

    Taliban diperkirakan bakal melawan Pakistan tidak dengan cara yang konvensional.

    Mereka kemungkinan bakal menerapkan taktik perang gerilya yang sangat mereka kuasai.

    Taliban tumbuh melawan dengan cara seperti itu.

    Perbatasan Afghanistan-Pakistan juga sangat mereka kuasai karena terbiasa melintasinya di masa melawan militer Afghanistan maupun pasukan aliansi yang dipimpin Amerika Serikat.

    Dan, jangan lupakan pula militansi khas orang Afghanistan.

    Sejarah negeri yang beribu kota di Kabul itu berlumur perang, banyak di antaranya melawan pasukan asing.

    Dari para tentara Genghis Khan di abad ke-13, militer Uni Soviet sejak akhir 1970-an, sampai pasukan aliansi yang dipimpin Amerika Serikat pada awal 2000-an.

    “Orang-orang Afghanistan akan membela tanah air tercinta mereka dan akan menghadapi serangan dengan keberanian,” kata Hamid Karzai, presiden Afghanistan 2002-2014. (ttg/Jawa Pos)

  • Perang Terbuka, Pakistan Bombardir Afghanistan, Islamabad Unggul Kekuatan Militer, tapi Bakal Hindari Perang Darat

    Perang Terbuka, Pakistan Bombardir Afghanistan, Islamabad Unggul Kekuatan Militer, tapi Bakal Hindari Perang Darat

    POJOKBANDUNG.COM, KABUL – Saat semua mata tertuju ke kawasan Teluk Persia, di mana Amerika Serikat diperkirakan akan menyerang Iran, perang justru pecah lebih dulu di kawasan yang tak terlalu jauh dari sana.

    Perang Terbuka, Pakistan Bombardir Afghanistan, Islamabad Unggul Kekuatan Militer, tapi Bakal Hindari Perang Darat
    Ilustrasi ketegangan Afghanistan dan Pakistan. Foto : Dok. Reuters. Sementara foto atas ilustrasi Pakistan menyerang Afganistan. Foto : X.com

    Jet-jet tempur Pakistan membombardir ibu kota Kabul serta Provinsi Paktia dan Kandahar kemarin (27/2/2026).

    Sebelumnya, pada Kamis (26/2/2026) malam, Taliban, kelompok yang kembali berkuasa di Afghanistan sejak 2021, melancarkan serangan besar-besaran di sepanjang perbatasan kedua negara yang disebut sebagai Garis Durand.

    Garis Durand sepanjang 2.640 kilometer ditetapkan pada 1893 oleh Mortimer Durand, diplomat Inggris yang menjabat pejabat tinggi di pemerintahan kolonial Inggris di India—yang kala itu belum berpisah dengan Pakistan—dan Abdur Rahman Khan, Emir Afghanistan.

    Sampai sekarang Afghanistan tak mengakui keabsahan Garis Durand, sedangkan Pakistan mengakuinya.

    “Ini perang terbuka antara kami dan Taliban di Afghanistan,” kata Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif seperti dikutip dari Al Jazeera kemarin.

    Taliban menjawab pernyataan perang itu dengan menyatakan, bahwa mereka telah menargetkan berbagai fasilitas militer penting sang tetangga.

    “Itu artinya tangan kami bisa mencekik leher mereka,” kata Juru Bicara Pemerintahan Taliban Zabihullah Mujahid seperti dikutip dari BBC.

    Sampai berita ini selesai ditulis pukul 19.00 tadi malam, Juru Bicara Pemerintah Pakistan Mosharraf Zaidi menyatakan, di platform X kalau sebanyak 274 pejuang Taliban Afghanistan tewas dan lebih dari 400 luka-luka.

    Sebanyak 27 pos militer Taliban juga dihancurkan dan sembilan berhasil dikuasai.

    Sementara itu, Mujahid mengatakan, 55 tentara Pakistan tewas dan 19 pos direbut.

    Namun, angka-angka tersebut masih klaim masing-masing pihak dan belum bisa diverifikasi secara independen.

    Akumulasi Ketegangan

    Perang ini merupakan akumulasi ketegangan kedua pihak selama berbulan-bulan.

    Awal bulan ini, Pakistan menuding pengeboman bunuh diri di wilayah mereka didalangi kelompok dari Afghanistan.

    “Kesabaran kami sudah habis,” ujar Asif.

    Namun, belum jelas siapa yang memprovokasi lebih dulu.

    Menurut Obaidullah Baheer, analis politik yang berbasis di Kabul, Taliban menyebut serangan mereka pada Kamis malam merupakan serangan balasan atas pengeboman madrasah dan rumah sejumlah warga Afghanistan oleh Pakistan pada Minggu (22/2).

    Secara perimbangan kekuatan militer, kedua negara sangat timpang.

    Pakistan memiliki 660 ribu tentara, sedangkan Taliban 172 ribu personel.

    Islamabad juga memiliki 6 ribu kendaraan tempur lapis baja dan lebih dari 4.600 artileri. Sementara itu, Kabul hanya memiliki beberapa kendaraan lapis baja dan artileri, sebagian besar berasal dari era Soviet, tetapi jumlah pastinya belum jelas.

    Pakistan juga merupakan negara yang memiliki senjata nuklir, sedangkan Afghanistan tidak. Begitu pula kekuatan udara. Pakistan mengoperasikan 465 pesawat tempur dan lebih dari 260 helikopter, sedangkan Afghanistan tidak memiliki jet tempur dan hanya sejumlah kecil pesawat serta helikopter tua dengan status operasional yang tidak pasti.

    Karena itu, serangan udara menjadi andalan Pakistan untuk menggempur Afghanistan. Namun, meski Asif menyebutnya sebagai perang terbuka, Pakistan diperkirakan tidak akan membawa pasukan daratnya menyeberangi perbatasan. Sebab, mereka bisa menjadi sasaran empuk Taliban yang jauh lebih memahami medan.

    Kelompok Militan
    Hubungan Kabul dan Islamabad memang sudah lama tegang karena Pakistan menuduh Afghanistan melindungi kelompok militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang melakukan serangan lintas batas. Taliban telah berulang kali membantah tuduhan itu. Mereka juga menegaskan bahwa masalah keamanan Pakistan adalah urusan dalam negeri Pakistan sendiri.

    Sejumlah negara langsung merespons perang tersebut. Menurut kantor luar negeri Arab Saudi, Menteri Luar Negeri Pakistan dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi telah berbicara kemarin untuk membahas upaya meredakan ketegangan. Namun, tidak dijelaskan apakah Riyadh terlibat dalam mediasi gencatan senjata.

    Rusia, satu-satunya negara yang secara resmi mengakui pemerintahan Taliban, turut menyerukan penghentian perang yang terjadi. Menurut laporan media pemerintah yang mengutip Kementerian Luar Negeri di Moskow, Kremlin bahkan menyatakan, siap menjadi mediator jika diminta kedua pihak.

    Sementara itu, Sami Omari, pakar keamanan dan urusan strategis Asia Selatan dan Tengah, mengatakan bahwa bentrokan antara Pakistan dan Afghanistan sudah kerap terjadi. Sejak 2021, telah meletus 75 bentrokan antara pasukan Afghanistan dan Pakistan.

    “Selama waktu itu, Pakistan telah melakukan tujuh serangan udara independen yang terdokumentasi di Afghanistan, termasuk serangan terbaru pada hari Jumat (kemarin),” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.

    Terpisah, Direktur Program Asia Selatan di lembaga think tank Stimson Center di Washington DC Elizabeth Threlkeld mengatakan, bentrokan terbaru ini berakar dari ketegangan yang memburuk selama berbulan-bulan antara kedua negara.
    “Jadi, tidak, saya tidak terkejut bahwa setelah serangan-serangan kumulatif tersebut, ketegangan telah memburuk dan keadaan kembali mengarah ke arah ini, sayangnya,” paparnya.

    Pakistan sebenarnya membantu melahirkan Taliban pada awal 1990-an sebagai cara untuk memberi kedalaman strategis dalam persaingannya dengan India.

    Pakistan juga menyambut hangat kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan pada 2021. Namun, Islamabad segera mendapati bahwa Taliban tidak sekooperatif yang diharapkan. (mia/ttg/Jawa Pos)

  • Pidato Donald Trump Dianggap sebagai Penyebaran Kebohongan, Hasil Jajak Pendapat Hanya 27 Persen Waga AS Dukung Kebijakan Presiden

    Pidato Donald Trump Dianggap sebagai Penyebaran Kebohongan, Hasil Jajak Pendapat Hanya 27 Persen Waga AS Dukung Kebijakan Presiden

    POJOKBANDUNG.COM, WASHINGTON DC – Bukan Donald Trump namanya kalau tidak “menepuk dada.”

    Saat kebijakan tarif resiprokalnya dianulir Mahkamah Agung, upayanya menguasai Greenland dan menyerang Iran dikecam banyak pihak, serta dukungan publik di dalam negeri merosot, dia tetap percaya diri menyebut bahwa tahun pertamanya menjabat sebagai presiden di periode kedua adalah sebuah kesuksesan.

    Ada berbagai kesuksesan yang diklaim dan dipamerkan Presiden Amerika Serikat (AS) itu dalam pidato kenegaraan di hadapan sidang gabungan Kongres di Washington DC pada Selasa (24/2/2026) malam waktu setempat, termasuk terkait Iran.

    “Malam ini, setelah hanya satu tahun, kita dapat mengatakan dengan bermartabat dan bangga bahwa kita telah mencapai transformasi yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya dan sebuah perubahan besar yang akan dikenang sepanjang masa,” kata Trump.

    Pidato yang berlangsung hampir dua jam itu merupakan pidato kenegaraan terpanjang seorang presiden AS.

    Trump mengklaim telah membangun kembali negara yang hancur oleh pemerintahan sebelumnya.

    Mengutip The Guardian, pidato Trump disambut kritik tajam. Survei terbaru menunjukkan, hanya 39 persen pemilih menilai Trump positif.

    Lebih banyak yang menilai dia kurang populer dalam isu ekonomi dan imigrasi.

    Reaksi anggota Partai Demokrat beragam. Ada yang meninggalkan ruang sidang, memegang spanduk, atau mengikuti acara tandingan.

    Pemimpin Faksi Demokrat DPR Hakeem Jeffries menilai pidato itu sebagai penyebaran kebohongan, propaganda, dan kebencian.

    “Alih-alih menyajikan visi positif bagi masa depan dan perekonomian bangsa, presiden malah menyalahkan orang lain atas kegagalannya,” katanya.

    Trump juga menyinggung isu keamanan nasional dan hubungan dengan Iran. “Saya lebih memilih menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi. Tetapi satu hal yang pasti, saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu di dunia memiliki senjata nuklir,” katanya.

    Pengarahan Tertutup

    Masih terkait Iran, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memberikan pengarahan tertutup kepada para anggota parlemen senior AS.

    Briefing itu digelar hanya beberapa jam sebelum Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan.

    Dalam pernyataan singkat seusai briefing, Rubio menegaskan pemerintah AS tetap mengedepankan diplomasi, namun tidak menutup opsi lain.

    “Presiden sudah sangat jelas menyebut Iran tidak boleh dan tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Kami masih membuka jalur diplomatik, tetapi semua opsi tetap berada di meja,” ujar Rubio.

    Di Jenewa, Swiss, pembicaraan Amerika dengan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).

    Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi, sebelumnya menyatakan negaranya siap mencapai kesepakatan secepat mungkin, sembari menegaskan bahwa negosiasi hanya akan membahas program nuklir.

    Merosot 35 Persen

    Lalu, bagaimana tingkat dukungan publik terhadap Trump? Dikutip dari The Strait Times, pamor Trump menunjukkan tren penurunan pada awal 2026.

    Hanya sekitar 27 persen warga AS yang menyatakan mendukung seluruh atau sebagian besar kebijakan dan rencana Trump. Angka itu merosot dari 35 persen saat ia kembali menjabat pada 2025.

    Penurunan tersebut sepenuhnya terjadi di kalangan Partai Republik. Partai ini merupakan basis politik utama Trump.

    Laporan Cook Political Report yang memantau pemilih kulit putih non-perguruan tinggi mencatat, persetujuan bersih terhadap Trump turun tajam.

    Dari keunggulan 13 poin pada awal 2025, kini tersisa hanya 3,5 poin per 23 Februari. Dari sisi ekonomi, survei Associated Press-NORC yang digelar 5 sampai 8 Februari terhadap 1.156 orang dewasa menemukan hanya 39 persen responden menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump.

    Padahal, sejumlah indikator makroekonomi relatif stabil. Pertumbuhan produk domestik bruto mencapai 2,2 persen pada 2025. Tingkat pengangguran berada di kisaran 4,3 persen pada Januari, tergolong rendah secara historis. Inflasi juga melambat menjadi 2,4 persen pada Januari, turun dari 2,7 persen pada Desember.

    Namun, banyak warga Amerika mengaku belum merasakan dampak langsung pada kondisi keuangan pribadi mereka. Harga bahan makanan, layanan kesehatan, dan perumahan masih tinggi.

    “Kesenjangan antara Trump dan rakyat Amerika terlihat jelas selama pidato tersebut,” ujar Direktur Debat di University of Michigan Aaron Kall.

    Menurut Kall, pidato Trump lebih menyerupai selebrasi kemenangan.

    “Dengan rating yang rendah, seharusnya dia lebih berempati kepada mereka yang belum merasakan kebangkitan yang dia bicarakan,” katanya. (lyn/ttg/Jawa Pos)

  • Trump Bantah Jenderal AS Tolak Serangan ke Iran, Kepala Staf Gabungan Khawatirkan Kekurangan Amunisi dan Dukungan Sekutu

    Trump Bantah Jenderal AS Tolak Serangan ke Iran, Kepala Staf Gabungan Khawatirkan Kekurangan Amunisi dan Dukungan Sekutu

    POJOKBANDUNG.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah laporan sejumlah media yang menyebut Kepala Staf Gabungan Dan Caine memperingatkan dia tentang risiko besar jika melancarkan operasi militer terhadap Iran.

    Trump juga membantah Caine menolak opsi serangan ke Teheran.

    Sebelumnya, sejumlah media AS melaporkan bahwa Caine telah mengingatkan adanya berbagai risiko terkait rencana serangan terhadap Iran.

    Dalam hal ini, termasuk potensi keterlibatan AS dalam jangka panjang.

    Namun, melalui akun Truth Social-nya, Trump menyebut bahwa laporan tersebut tidak benar.

    “Jenderal Caine, seperti kita semua, tentu tidak ingin melihat perang. Tetapi, jika keputusan militer terhadap Iran diambil, menurutnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan,” tulis Trump seperti dikutip dari AFP kemarin.

    Trump juga menegaskan bahwa Caine tidak pernah menyatakan, penolakan terhadap serangan militer, termasuk opsi serangan terbatas.

    “Dia hanya tahu satu hal, bagaimana cara menang. Dan jika diperintahkan, dia akan memimpin di garis depan,” lanjutnya.

    Harian The Washington Post melaporkan bahwa Caine menyampaikan kekhawatiran di Gedung Putih dan Pentagon mengenai kekurangan amunisi serta minimnya dukungan sekutu yang dapat meningkatkan risiko terhadap personel Amerika.

    Sementara itu, The Wall Street Journal menyebut Caine dan sejumlah pejabat Pentagon lain mengingatkan, potensi jatuhnya korban dari pihak AS dan sekutu. Selain itu, ada risiko terkurasnya sistem pertahanan udara AS jika serangan terhadap Iran dilakukan.

    Axios juga melaporkan bahwa Caine memperingatkan kemungkinan Amerika Serikat terseret dalam konflik berkepanjangan.

    Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa utusan khusus Trump Steve Witkoff serta sang menantu Jared Kushner mendorong agar presiden menunda serangan dan memberi ruang bagi jalur diplomasi.

    Trump menuduh berbagai media tersebut menulis laporan yang keliru dan disengaja. “Saya yang membuat keputusan. Saya lebih memilih kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya,” tuturnya.

    Bakal Sulit Dikontrol

    Mantan Ketua Komite Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Seyyed Hussein Mousavian juga mengingatkan, jika AS menyerang Iran, konflik yang terjadi bakal sulit dikontrol. Kondisinya berbeda dibandingkan Perang 12 Hari tahun lalu.

    “Bagi Iran, serangan AS-Israel berikutnya tak ubahnya ‘perang eksistensial’, tak akan lagi menahan diri dan bakal memicu konflik yang sulit dikontrol,” tulis Mousavian di Middle East Eye.

    Juni lalu, Israel meluncurkan serangan militer ke Iran berdasarkan strategi “pemerintahan dari atas ke bawah jatuh, akar rumput naik”.

    Israel dan AS berasumsi bahwa dengan membunuh para pejabat politik, militer, keamanan, dan nuklir Iran, rakyat Negeri Para Mullah itu akan mendesak perubahan rezim dan tumpah ke jalanan.

    Israel dan AS juga mengasumsikan bahwa jika mereka menyerang misil Iran, hal itu akan mencegah terjadinya serangan balik yang pada akhirnya membuka jalan terjadinya perubahan cepat.

    “Serangan Juni tahun lalu menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, tetapi rakyat ternyata tetap mendukung pemerintah,” tulis Mousavian lagi.

    Iran membalas dengan tembakan ratusan misil dan drone ke Israel, yang menyebabkan dampak signifikan.

    AS kemudian memerintahkan penyerangan ke tiga fasilitas nuklir Iran yang tidak sampai menghancurkan, tetapi membuat progres nuklir Iran tertunda hingga beberapa tahun ke depan. Gencatan sementara kemudian terjadi, yang terutama dimaksudkan untuk melindungi Israel dari serangan misil Iran berikutnya.

    Pidato di Tengah Tekanan

    Isu Iran diperkirakan menjadi salah satu fokus utama dalam pidato kenegaraan Trump di Gedung Capitol kemarin (24/2) waktu setempat (pagi ini WIB).

    Berdasarkan laporan France 24, Trump akan menggunakan momentum tersebut untuk memaparkan rencananya terkait Iran, termasuk kemungkinan intervensi militer.

    Pidato tersebut menjadi sorotan karena disampaikan di tengah menurunnya tingkat dukungan publik terhadap Trump serta meningkatnya kekhawatiran atas kondisi ekonomi domestik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.

    Selain Iran, Trump juga diperkirakan menyinggung putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif globalnya.

    Dia disebut akan menguraikan langkah alternatif untuk memberlakukan kembali sebagian besar bea masuk.

    Di bidang ekonomi, Trump juga disebut akan mengklaim keberhasilan melalui penguatan pasar saham, investasi sektor swasta, dan legislasi pemotongan pajak.

    Dia juga diperkirakan kembali menegaskan kebijakan perbatasan yang lebih ketat dan kampanye deportasi imigran ilegal.

    Namun, pidato tersebut berpotensi diwarnai ketegangan politik.

    Sejumlah anggota Partai Demokrat dilaporkan akan memboikot acara tersebut dan menggelar aksi tandingan di luar gedung parlemen.

    Tahun lalu, beberapa legislator Demokrat sempat melakukan interupsi sebelum akhirnya keluar dari ruang sidang.

    “Ini adalah satu-satunya kesempatan presiden saat seluruh dunia memperhatikan apa yang akan dia katakan,” kata Ahli Strategi Partai Republik Amanda Makki. (lyn/ttg/Jawa Pos)

  • Jika Diserang AS, Selat Hormuz Jadi “Kuncian” Iran, Bakal Ditutup dan Bisa Guncang Pasokan Energi dan Harga Minyak Dunia

    Jika Diserang AS, Selat Hormuz Jadi “Kuncian” Iran, Bakal Ditutup dan Bisa Guncang Pasokan Energi dan Harga Minyak Dunia

    POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Salah satu “kuncian” Iran adalah Selat Hormuz.

    Jika Amerika Serikat benar-benar menyerang, Iran akan menutup Selat Hormuz yakni selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

    Dan, itu berarti, mengutip Al Jazeera, terhentinya distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari dengan nilai nominal USD 500 miliar (sekitar Rp 8,4 triliun) per tahun.

    Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melalui selat yang titik tersempitnya sekitar 33 kilometer tersebut.

    Sekitar 84 persen aliran minyak mentah dan 83 persen pengiriman gas alam cair menuju pasar Asia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, melalui selat tersebut. Iran pun sudah berlatih menerapkan penutupan itu.

    Pada latihan militer pasukan elite mereka, Garda Revolusi, pada 16–17 Februari lalu, Iran menutup pelayaran dan wilayah udara Selat Hormuz pada hari kedua latihan. Foto resmi Garda Revolusi menunjukkan bagaimana perahu-perahu bermanuver di sekitar tanker.

    Araghchi menekankan, latihan itu sebagai upaya pertahanan dan peringatan agar konsekuensi ekonomi dapat dihindari.

    Pakar energi Colby Connelly memperingatkan dampak ketegangan di selat sempit sepanjang 50 kilometer tersebut.

    “Penutupan penuh atau signifikan Selat Hormuz akan memiliki dampak besar pada harga minyak. Saat ini, tidak ada sumber alternatif yang dapat menggantikan pasokan dari Teluk Persia secara cepat, apalagi 70 persen kapasitas cadangan OPEC+ berada di kawasan itu,” katanya.

    Karena pasokan energi terganggu akibat gangguan di Selat Hormuz sebagai dampak eskalasi militer, ekonomi global pasti terdampak.

    Samuel Ramani dari Royal United Services Institute mengatakan, kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya produksi dan inflasi di seluruh dunia, termasuk Tiongkok hingga kawasan Teluk.

    Hampir separuh impor minyak mentah India dan sekitar 60 persen pasokan gas alamnya melewati Selat Hormuz.

    Korea Selatan juga memperoleh sekitar 60 persen minyak mentahnya melalui jalur yang sama.

    Sementara Jepang bergantung pada selat ini untuk hampir tiga perempat impor minyaknya.

    Siap dengan Kemungkinan Terburuk

    Sementara itu, Iran dan AS dijadwalkan melanjutkan negosiasi terkait program nuklir di Jenewa, Swiss, Kamis (26/2/2026) lusa.

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa para negosiator bakal berusaha agar bisa cepat mencapai kesepakatan.

    “Beberapa elemen dari kesepakatan baru dapat menjadi perbaikan dari perjanjian sebelumnya, namun akan berkomitmen agar program nuklir Iran berlangsung damai selamanya,” kata Araghchi seperti dikutip dari The Guardian.

    Iran optimistis negosiasi tersebut akan membuahkan hasil.

    Namun, seandainya tidak, Iran siap dengan kemungkinan terburuk: berperang dengan AS.

    AS saat ini sudah memobilisasi 40 ribu personel militer ke Timur Tengah.

    Ada dua kapal induk bertenaga nuklir, USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, yang dilibatkan.

    Juga tujuh skuadron udara dengan total 70 jet tempur yang telah bersiaga.

    Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan, tengah mempertimbangkan untuk melakukan serangan terbatas ke Iran.

    Ketegangan Domestik

    Iran tetap menegaskan haknya untuk memperkaya uranium demi tujuan damai dengan pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

    Sebagai imbalan, Teheran bersedia mengurangi persediaan uranium yang sangat diperkaya dan membuka akses penuh ke situs nuklir yang pernah dibom.

    Ketegangan domestik juga membayangi Iran berupa demonstrasi mahasiswa di Teheran dan Mashhad yang berlanjut untuk hari kedua kemarin.

    Para pejabat AS juga menilai, tokoh konservatif Iran seperti Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian semakin terpinggirkan perannya.

    Araghchi dan Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani memimpin strategi diplomatik.

    Kesepakatan baru dipandang sebagai kesempatan untuk membatasi program nuklir Iran lebih ketat daripada perjanjian 2015, namun tetap memungkinkan Iran mempertahankan hak nuklir untuk tujuan damai. (lyn/ttg/Jawa Pos)