POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Antropolog, Eka Zaki, memandang persoalan Sungai Citarum hari ini tidak bisa lagi dibaca semata sebagai isu pencemaran lingkungan. Menurutnya, krisis yang terjadi di sepanjang DAS Citarum merupakan gambaran tentang rusaknya relasi manusia dengan ruang hidupnya sendiri.
Pandangan itu muncul ketika ia membaca ulang buku foto Aliran Kehidupan di Sungai Citarum terbitan program Cita-Citarum tahun 2013. Buku tersebut mendokumentasikan kondisi Sungai Citarum dari hulu hingga hilir melalui ratusan foto udara dan darat: kawasan hulu yang gundul, limbah industri, sedimentasi sungai, hingga banjir tahunan di Baleendah dan Dayeuhkolot.
“Yang menarik, hampir semua masalah yang ada di buku itu masih kita lihat hari ini. Artinya, selama dua belas tahun kita seperti hanya mengulang krisis yang sama,” kata Eka Zaki saat ditemui di Bandung, Jumat (29/5/2026).
Menurut Eka, buku foto tersebut bukan sekadar arsip visual pencemaran sungai, melainkan dokumentasi tentang perubahan budaya masyarakat di sekitar Citarum. Ia melihat adanya perubahan besar dalam cara manusia memandang sungai: dari ruang kehidupan bersama menjadi objek eksploitasi ekonomi. “Dulu sungai itu bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Sekarang sungai lebih dilihat sebagai saluran produksi, tempat membuang limbah, bahkan ruang yang boleh dikorbankan demi pembangunan,” ujarnya. Ia menilai fenomena yang terjadi di Citarum hari ini menunjukkan adanya normalisasi terhadap krisis ekologis.
Banjir di Baleendah dan Dayeuhkolot, misalnya, menurutnya sudah berubah menjadi rutinitas sosial yang diterima sebagai sesuatu yang wajar. “Masyarakat akhirnya dipaksa beradaptasi dengan bencana yang terus berulang. Rumah ditinggikan, aktivitas disesuaikan dengan musim banjir, tapi akar masalahnya tidak pernah benar-benar selesai,” katanya.
Eka juga menyoroti bagaimana isu Citarum kini sering berhenti pada level visual dan pencitraan. Sungai yang berubah warna viral di media sosial, kegiatan bersih-bersih sungai dipublikasikan, tetapi persoalan mendasar seperti industrialisasi tanpa kontrol, alih fungsi lahan di hulu, dan lemahnya tata ruang tetap berjalan. “Kita terlalu sibuk memperbaiki tampilan sungai, tapi lupa memperbaiki sistem yang membuat sungai terus rusak,” ujar Eka.
Menurutnya, program pemulihan seperti Citarum Harum memang penting, tetapi tidak akan cukup jika pendekatannya hanya bersifat teknis dan seremonial. Ia menilai pemulihan Citarum seharusnya juga menyentuh persoalan budaya dan cara pandang masyarakat terhadap alam. “Kalau relasi manusia dengan sungai masih relasi eksploitasi, program apa pun akan terus berputar di masalah yang sama,” katanya.
Ia menambahkan, buku Aliran Kehidupan di Sungai Citarum justru terasa semakin relevan hari ini karena memperlihatkan bahwa negara, industri, dan masyarakat sebenarnya sudah lama mengetahui kondisi sungai tersebut. Namun pengetahuan itu, menurutnya, tidak pernah benar-benar diikuti keberanian untuk mengubah pola pembangunan yang menjadi sumber kerusakan.
“Citarum hari ini seperti ruang tempat semua kontradiksi pembangunan ditumpahkan. Sungai dipaksa menopang industri, listrik, pertanian, urbanisasi, tapi tubuh ekologisnya terus dikorbankan,” ujar Eka.
Bagi Eka Zaki, persoalan terbesar Citarum bukan hanya soal limbah atau sampah, melainkan hilangnya kesadaran kolektif bahwa sungai adalah bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama. “Ketika sungai rusak lalu dianggap biasa, sebenarnya yang sedang hilang bukan cuma kualitas air, tapi juga sensitivitas manusia terhadap krisis itu sendiri,” katanya. (kus)

















