Kategori: Kabupaten Bandung

  • Citarum Hari Ini Krisis Cara Manusia Hidup

    Citarum Hari Ini Krisis Cara Manusia Hidup

    POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Antropolog, Eka Zaki, memandang persoalan Sungai Citarum hari ini tidak bisa lagi dibaca semata sebagai isu pencemaran lingkungan. Menurutnya, krisis yang terjadi di sepanjang DAS Citarum merupakan gambaran tentang rusaknya relasi manusia dengan ruang hidupnya sendiri.

    Pandangan itu muncul ketika ia membaca ulang buku foto Aliran Kehidupan di Sungai Citarum terbitan program Cita-Citarum tahun 2013. Buku tersebut mendokumentasikan kondisi Sungai Citarum dari hulu hingga hilir melalui ratusan foto udara dan darat: kawasan hulu yang gundul, limbah industri, sedimentasi sungai, hingga banjir tahunan di Baleendah dan Dayeuhkolot.

    “Yang menarik, hampir semua masalah yang ada di buku itu masih kita lihat hari ini. Artinya, selama dua belas tahun kita seperti hanya mengulang krisis yang sama,” kata Eka Zaki saat ditemui di Bandung, Jumat (29/5/2026).

    Menurut Eka, buku foto tersebut bukan sekadar arsip visual pencemaran sungai, melainkan dokumentasi tentang perubahan budaya masyarakat di sekitar Citarum. Ia melihat adanya perubahan besar dalam cara manusia memandang sungai: dari ruang kehidupan bersama menjadi objek eksploitasi ekonomi. “Dulu sungai itu bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Sekarang sungai lebih dilihat sebagai saluran produksi, tempat membuang limbah, bahkan ruang yang boleh dikorbankan demi pembangunan,” ujarnya. Ia menilai fenomena yang terjadi di Citarum hari ini menunjukkan adanya normalisasi terhadap krisis ekologis.

    Banjir di Baleendah dan Dayeuhkolot, misalnya, menurutnya sudah berubah menjadi rutinitas sosial yang diterima sebagai sesuatu yang wajar. “Masyarakat akhirnya dipaksa beradaptasi dengan bencana yang terus berulang. Rumah ditinggikan, aktivitas disesuaikan dengan musim banjir, tapi akar masalahnya tidak pernah benar-benar selesai,” katanya.

    Eka juga menyoroti bagaimana isu Citarum kini sering berhenti pada level visual dan pencitraan. Sungai yang berubah warna viral di media sosial, kegiatan bersih-bersih sungai dipublikasikan, tetapi persoalan mendasar seperti industrialisasi tanpa kontrol, alih fungsi lahan di hulu, dan lemahnya tata ruang tetap berjalan. “Kita terlalu sibuk memperbaiki tampilan sungai, tapi lupa memperbaiki sistem yang membuat sungai terus rusak,” ujar Eka.

    Menurutnya, program pemulihan seperti Citarum Harum memang penting, tetapi tidak akan cukup jika pendekatannya hanya bersifat teknis dan seremonial. Ia menilai pemulihan Citarum seharusnya juga menyentuh persoalan budaya dan cara pandang masyarakat terhadap alam. “Kalau relasi manusia dengan sungai masih relasi eksploitasi, program apa pun akan terus berputar di masalah yang sama,” katanya.

    Ia menambahkan, buku Aliran Kehidupan di Sungai Citarum justru terasa semakin relevan hari ini karena memperlihatkan bahwa negara, industri, dan masyarakat sebenarnya sudah lama mengetahui kondisi sungai tersebut. Namun pengetahuan itu, menurutnya, tidak pernah benar-benar diikuti keberanian untuk mengubah pola pembangunan yang menjadi sumber kerusakan.

    “Citarum hari ini seperti ruang tempat semua kontradiksi pembangunan ditumpahkan. Sungai dipaksa menopang industri, listrik, pertanian, urbanisasi, tapi tubuh ekologisnya terus dikorbankan,” ujar Eka.

    Bagi Eka Zaki, persoalan terbesar Citarum bukan hanya soal limbah atau sampah, melainkan hilangnya kesadaran kolektif bahwa sungai adalah bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama. “Ketika sungai rusak lalu dianggap biasa, sebenarnya yang sedang hilang bukan cuma kualitas air, tapi juga sensitivitas manusia terhadap krisis itu sendiri,” katanya. (kus)

  • Bupati Bandung Dadang Supriatna Nilai Implementasi UU Pesantren Masih Membingungkan Daerah

    Bupati Bandung Dadang Supriatna Nilai Implementasi UU Pesantren Masih Membingungkan Daerah

    POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Pemerintah Kabupaten Bandung menilai implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren hingga kini masih menimbulkan kebingungan di tingkat daerah, terutama terkait pembagian kewenangan dan mekanisme dukungan anggaran untuk pondok pesantren.
    Hal itu disampaikan Bupati Bandung Dadang Supriatna saat menggelar silaturahmi bersama jajaran Kementerian Agama dan pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten Bandung, Jumat (29/5/2026).
    Menurut Dadang, meski Undang-Undang Pesantren dan Peraturan Daerah tentang Pesantren sudah diterbitkan, implementasinya di lapangan masih belum berjalan maksimal.
    Ia menyebut pemerintah daerah masih menghadapi kebingungan terkait batas kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam pengelolaan serta pembinaan pesantren.
    “Undang-Undang Pesantren ini belum dirasakan betul manfaatnya karena belum ada kejelasan pembagian kewenangan. Daerah akhirnya masih bingung untuk melangkah,” ujar Dadang.
    Menurutnya, kondisi tersebut berdampak terhadap belum optimalnya dukungan pemerintah daerah kepada pondok pesantren, terutama dalam hal pembangunan infrastruktur dan bantuan fasilitas pendidikan. Dadang mengatakan banyak pondok pesantren di Kabupaten Bandung yang membutuhkan perhatian karena kondisi bangunan asrama maupun ruang belajar sudah tidak layak.
    “Namun di sisi lain, pemerintah daerah masih berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran karena aturan teknis pelaksanaan Undang-Undang Pesantren dinilai belum sepenuhnya jelas,” ujar dia.
    “Saya melihat langsung di lapangan, banyak pesantren yang kondisinya membutuhkan bantuan segera. Tapi daerah juga harus memastikan penggunaan anggaran memiliki dasar hukum yang jelas,” katanya.
    Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bandung berencana mengawal langsung aspirasi para pimpinan pondok pesantren ke pemerintah pusat guna memperjelas implementasi regulasi tersebut.
    Dadang berharap pemerintah pusat segera memberikan kepastian aturan agar daerah memiliki landasan yang kuat untuk membantu pengembangan pesantren tanpa menimbulkan persoalan administrasi maupun hukum di kemudian hari.
    Sementara itu, Ketua Forum Pondok Pesantren Kabupaten Bandung KH Aang Syamsul Ulum menyambut baik langkah Pemkab Bandung yang siap memperjuangkan kejelasan implementasi Undang-Undang Pesantren. “Kami berharap ada kejelasan aturan sehingga pesantren bisa mendapatkan dukungan yang lebih optimal,” kata KH Aang. (kus)
  • Kunjungan Wisata di Kabupaten Bandung Diprediksi Tidak Signifikan

    Kunjungan Wisata di Kabupaten Bandung Diprediksi Tidak Signifikan

    POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung memprediksi jumlah kunjungan wisatawan saat libur Idul Adha dan hari lahir Pancasila 2026 tidak akan mengalami lonjakan signifikan seperti momen libur panjang sebelumnya.
    Kepala Disparekraf Kabupaten Bandung Wawan A Ridwan mengatakan salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah momentum libur Idul Adha yang berdekatan dengan masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
    Menurutnya, banyak masyarakat yang saat ini lebih memprioritaskan kebutuhan pendidikan dibandingkan pengeluaran untuk berwisata bersama keluarga.
    “Libur kali ini berdekatan dengan penerimaan siswa baru. Maka saya kira masyarakat bakal memprioritaskan pendidikan,” ujar Wawan, Kamis (28/5/2026).
    Ia mengatakan kondisi tersebut membuat potensi kunjungan wisata ke sejumlah destinasi di Kabupaten Bandung diperkirakan tidak akan seramai momen akhir pekan panjang maupun hari libur nasional sebelumnya.
    Selain faktor pendidikan, kondisi cuaca yang tidak menentu juga disebut mempengaruhi minat masyarakat untuk berwisata, khususnya ke kawasan wisata selatan Kabupaten Bandung.
    “Cuaca sekarang sedang pancaroba. Kadang hujan, kadang panas. Wilayah selatan juga rawan bencana seperti pohon tumbang dan angin puting beliung,” katanya.
    Menurut Wawan, kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan memilih menahan diri untuk datang ke kawasan wisata alam di Kabupaten Bandung.
    Ia menyebut pada beberapa momen libur panjang sebelumnya memang terjadi peningkatan kunjungan wisatawan, namun kenaikannya tidak terlalu signifikan.
    Selain itu, daya beli masyarakat juga dinilai masih menjadi faktor penting yang mempengaruhi tingkat kunjungan wisata di Kabupaten Bandung.
    “Daya beli masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan yang datang ke Kabupaten Bandung,” ungkapnya.
    Meski demikian, pihaknya tetap berupaya meningkatkan minat kunjungan wisata dengan memperkuat pelayanan dan menjaga kualitas lingkungan di setiap destinasi wisata.
    “Disparekraf Kabupaten Bandung juga mengimbau para pengelola wisata untuk mengelola sampah secara mandiri dan menjaga kebersihan lingkungan demi menciptakan kawasan wisata yang nyaman bagi pengunjung,” ujur dia. (kus)
  • WALHI Sebut Pemkab Bandung Gagal Mitigasi Dampak Alih Fungsi Lahan

    WALHI Sebut Pemkab Bandung Gagal Mitigasi Dampak Alih Fungsi Lahan

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG – WALHI Jawa Barat menilai Pemerintah Kabupaten Bandung gagal membangun mitigasi terhadap dampak pembangunan dan alih fungsi lahan yang menyebabkan banjir dan longsor terus berulang di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung.

    Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat Wahyudin mengatakan bencana banjir dan longsor yang terjadi bukan semata-mata akibat faktor cuaca ekstrem, tetapi juga dipicu kerusakan lingkungan dan lemahnya tata kelola ruang.

    Menurutnya, kerusakan kawasan hulu, alih fungsi lahan, serta buruknya sistem drainase memperparah kondisi lingkungan di Kabupaten Bandung.

    “Bencana ini bukan sekadar faktor alam, melainkan dampak langsung dari rusaknya ekosistem sungai dan buruknya sistem drainase,” ujar Wahyudin, Kamis (28/5/2026).

    Ia menilai pemerintah daerah belum mampu mengantisipasi dampak pembangunan yang terus terjadi di kawasan resapan dan wilayah hulu sungai.

    “Banjir yang merendam wilayah Dayeuhkolot hingga Sapan Cikeruh menjadi bukti lemahnya mitigasi lingkungan di Kabupaten Bandung,” ungkap dia.

    Selain banjir, longsor juga terjadi di sejumlah wilayah seperti Kertasari, Pacet dan Pangalengan akibat kondisi tanah yang semakin rentan setelah perubahan tata guna lahan.

    “Sebelumnya, di Kecamatan Majalaya, lebih dari 400 kepala keluarga terdampak banjir. Sementara di Kecamatan Pacet, sejumlah rumah warga mengalami kerusakan hingga warga terpaksa mengungsi,” ungkap dia.

    WALHI Jawa Barat meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pembangunan dan tata ruang agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas.

    “Penanganan bencana tidak cukup hanya dilakukan setelah banjir dan longsor terjadi, tetapi harus dibarengi langkah pencegahan yang serius terhadap kerusakan kawasan hulu dan alih fungsi lahan,” ungkap dia. (kus)

  • Harga Cabai Anjlok di Ciwidey, Petani Keluhkan Biaya Produksi yang Terus Naik

    Harga Cabai Anjlok di Ciwidey, Petani Keluhkan Biaya Produksi yang Terus Naik

    POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Petani cabai di kawasan Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, mengeluhkan anjloknya harga cabai di tingkat petani yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat para petani kesulitan menutup biaya produksi yang terus mengalami kenaikan.

    Salah seorang petani cabai asal Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Dani Saputra mengatakan, saat ini harga cabai gendot di tingkat petani hanya berkisar Rp9.000 per kilogram. Padahal, agar petani masih mendapatkan keuntungan dan mampu menutup modal tanam, harga ideal minimal berada di angka Rp15.000 per kilogram.

    “Sekarang harga cabai turun jauh. Sementara biaya produksi terus naik, jadi petani makin berat,” kata Dani saat ditemui, Senin (18/5/2026).

    Menurutnya, tingginya biaya produksi menjadi persoalan utama yang saat ini dihadapi para petani. Harga pupuk dan obat-obatan pertanian disebut mengalami kenaikan rata-rata hingga 20 persen dibanding tahun sebelumnya.

    Tak hanya itu, harga plastik mulsa yang biasa digunakan petani untuk budidaya cabai juga melonjak tajam. Jika sebelumnya satu rol plastik mulsa dijual sekitar Rp600 ribu, kini harganya mencapai Rp1,5 juta per rol.

    “Kenaikannya sangat terasa. Mulsa sekarang mahal sekali, padahal itu kebutuhan utama untuk tanaman cabai,” ujarnya.

    Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat keuntungan petani semakin menipis. Bahkan tidak sedikit petani yang terancam merugi karena hasil penjualan panen tidak mampu menutup seluruh biaya produksi.

    “Selain harga yang rendah, para petani juga menghadapi ketidakpastian cuaca yang memengaruhi kualitas hasil panen. Hal itu membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan tanaman agar tetap bertahan,” ujar dia.

    Dani berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga cabai di pasaran. Menurutnya, petani membutuhkan perhatian serius agar sektor pertanian tetap berjalan di tengah tekanan biaya produksi dan harga jual yang rendah.

    “Kalau harga terus seperti ini dan biaya makin naik, petani bisa makin banyak yang berhenti menanam cabai,” katanya.

    Para petani di Ciwidey juga berharap adanya bantuan subsidi sarana produksi pertanian serta pengawasan distribusi hasil panen agar harga di tingkat petani tidak terus mengalami penurunan. (kus)

  • Jelang Idul Adha, Distan Kabupaten Bandung Perketat Jalur Masuk Ternak di Nagreg

    Jelang Idul Adha, Distan Kabupaten Bandung Perketat Jalur Masuk Ternak di Nagreg

    POJOKBANDUNG.COM, KAB BANDUNG – Dinas Pertanian Kabupaten Bandung mulai memperketat pengawasan lalu lintas hewan ternak yang masuk ke wilayah Kabupaten Bandung menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan hewan kurban yang beredar dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit menular.

    Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania, mengatakan pengawasan difokuskan di kawasan Nagreg yang menjadi salah satu pintu masuk utama ternak dari luar daerah menuju Kabupaten Bandung.

    “Lalu lintas hewan ini kita tempatkan di Nagreg. Di sana memang khusus untuk mengawasi hewan-hewan yang akan masuk ke Kabupaten Bandung,” ujar Ina, Minggu (17/5/2026).

    Menurut Ina, pemeriksaan dilakukan terhadap kondisi fisik hewan serta kelengkapan administrasi kesehatan ternak. Pengawasan diperketat untuk mengantisipasi masuknya hewan yang terindikasi membawa penyakit menular.

    Ia menjelaskan, apabila ditemukan hewan ternak yang menunjukkan gejala sakit, maka petugas akan melakukan penanganan lanjutan dengan mekanisme karantina sementara di Rumah Potong Hewan (RPH) Baleendah.

    “Jika berkenan tidak kembali, nanti kita tempatkan di RPH Baleendah untuk dikarantina dulu. Di sana kita siapkan dokter hewan dan paramedik yang mengawasi. Kalau nanti sembuh dan layak jual, bisa kita keluarkan. Jika tidak, tetap di sana atau dibawa pulang kembali,” katanya.

    Ina menyebutkan, saat ini Distan Kabupaten Bandung menetapkan Mei sebagai “Bulan Peternakan” dengan fokus utama memastikan ketersediaan stok hewan kurban sekaligus menjaga kesehatan ternak menjelang Idul Adha.

    Menurut dia, koordinasi antara Bidang Peternakan dan Bidang Kesehatan Hewan terus diperkuat untuk mengantisipasi potensi penyebaran penyakit hewan, termasuk sisa kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun ancaman zoonosis dari luar daerah.

    “Kesehatan hewan ini terkait upaya pencegahan penyakit, bagaimana menjaga kesehatan calon hewan kurban. Peternakan memastikan ketersediaan stok, baik dari lokal Kabupaten Bandung maupun kiriman luar daerah untuk mendukung Hari Besar Keagamaan Nasional,” ujarnya.

    Untuk mendukung pengawasan di lapangan, Pemerintah Kabupaten Bandung menerjunkan sebanyak 66 personel tenaga medik dan paramedik ke sejumlah titik pemeriksaan serta lokasi penjualan hewan kurban.

    Selain itu, Distan Kabupaten Bandung juga menggandeng Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) serta Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran untuk membantu pemeriksaan kesehatan hewan di lapangan.

    “Kami tidak sendiri, teman-teman dari PDHI juga membantu. Kemudian dari Fakultas Kedokteran Hewan Unpad juga menurunkan mahasiswa dan dosen untuk membantu,” ucap Ina.

    Berdasarkan data tahun sebelumnya, terdapat sekitar 547 lapak pedagang dan peternak yang menjadi sasaran pemeriksaan kesehatan hewan kurban di Kabupaten Bandung.

    Ina optimistis kualitas hewan kurban tahun ini tetap terjaga karena tingkat temuan kasus penyakit pada tahun lalu tergolong rendah. Ia juga menilai para peternak dan pedagang kini semakin memahami standar kesehatan hewan kurban sesuai ketentuan syariat dan medis.

    “Kalau melihat kejadian kemarin, temuan penyakit sedikit, tidak sampai lima persen. Artinya hewan yang dijual sebagai calon kurban adalah hewan sehat. Para peternak kita sudah semakin paham bagaimana menyediakan hewan kurban yang benar secara syariah agama dan sehat secara medis,” pungkasnya. (kus)

  • Kadin Kabupaten Bandung Siapkan Pembinaan hingga Permodalan bagi UMKM

    Kadin Kabupaten Bandung Siapkan Pembinaan hingga Permodalan bagi UMKM

    POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Kadin Kabupaten Bandung menyiapkan program pembinaan dan dukungan permodalan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bandung sebagai upaya mendorong usaha lokal naik kelas dan berkembang lebih berkelanjutan.

    Ketua Kadin Kabupaten Bandung, Boni Anggara mengatakan, pembinaan dilakukan untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kemampuan bisnis, mulai dari branding, pemasaran, hingga pengelolaan usaha.

    Menurutnya, banyak pelaku usaha sebenarnya sudah memiliki produk yang cukup baik, namun belum memahami strategi pengembangan bisnis secara optimal.

    “UMKM ini sebenarnya tinggal satu langkah lagi menuju naik kelas, bagaimana cara menjual produk, branding, sampai komunikasi dengan pelanggan,” ujar Boni, Jumat (15/5/2026).

    Ia menjelaskan, Kadin Kabupaten Bandung membuka pelatihan rutin melalui program Kadin University UMKM yang digelar setiap pekan dengan menghadirkan narasumber kompeten dari berbagai bidang usaha.

    “Setiap minggu kita buka kelas. Kita ajarkan cara mereka berbisnis dan membangun branding usaha,” katanya.

    Tidak hanya pelatihan, peserta juga akan mendapatkan pendampingan usaha selama enam bulan untuk melihat perkembangan bisnis masing-masing pelaku UMKM.

    Boni mengatakan, pelaku usaha yang dinilai memiliki perkembangan baik dan prospek usaha menjanjikan nantinya akan memperoleh dukungan permodalan melalui skema investasi dari Kadin.

    “Kalau memang sudah bagus, kita injek modal dan investasikan kepada mereka,” ujarnya.

    Menurut dia, pola pembinaan hingga bantuan modal tersebut penting agar pengembangan UMKM tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi benar-benar mampu meningkatkan kapasitas usaha masyarakat.

    Selain membantu penguatan usaha lokal, program tersebut juga diharapkan mampu menciptakan UMKM yang lebih mandiri, memiliki daya saing tinggi, serta mampu memperluas pasar di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat. (kus)

  • Siasat Air, Ketika Limbah Sungai Citarum Menjadi Medium Seni

    Siasat Air, Ketika Limbah Sungai Citarum Menjadi Medium Seni

    POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Di sebuah ruangan semi terbuka di Gelanggang Olah Rasa yang beralamat di Jalan Bukit Pakar Utara Nomor 31, Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, aroma kain basah bercampur tanah dan serat tumbuhan menyambut pengunjung yang datang sore itu. Cahaya matahari yang masuk dari sela bangunan jatuh di atas lembar-lembar kain biru indigo yang digantung memanjang seperti cucian di tepian sungai.

    Di sudut lain, cyanotype limbah yang dibentuk menyerupai baju tercetak samar pada lembar berwarna biru tua. Pameran bertajuk Siasat Air karya seniman asal Yogyakarta, Arif Furqan, menghadirkan sungai bukan sebagai lanskap romantik, melainkan ruang luka yang terus menyimpan ingatan.

    Bagi Arif, Sungai Citarum bukan sekadar aliran air yang melintasi kawasan industri Jawa Barat. Sungai itu adalah tubuh yang perlahan dipenuhi residu pembangunan, limbah pabrik, dan perubahan sosial yang berlangsung puluhan tahun. Melalui karya-karyanya, ia mencoba membaca ulang hubungan manusia dengan air, termasuk bagaimana masyarakat perlahan kehilangan tradisi merawat sungai.

    Di dalam ruang pamer, pengunjung akan menemukan berbagai eksperimen visual berbasis material sungai. Salah satu yang paling banyak menyita perhatian adalah seri cyanotype menggunakan limbah tekstil sebagai medium utama. penyebab pendangkalan sungai itu diolah menjadi material visual berbentuk pakaian manusia, lalu dicetak menggunakan teknik fotografi alternatif berbasis cahaya matahari.
    Bentuk baju dari limbah eceng gondok itu disusun di atas media sensitif cahaya hingga meninggalkan jejak bayangan berwarna. Hasilnya menyerupai arsip tubuh manusia yang perlahan larut bersama sungai. Siluet pakaian itu tampak seperti identitas yang tertinggal di tengah kerusakan ekologis dan perubahan lanskap kawasan Citarum.

    “Eceng gondok selalu dianggap sampah atau pengganggu aliran sungai. Tapi saya melihat ia justru tumbuh dari situasi ekologis yang rusak. Kehadirannya adalah tanda,” kata Arif saat ditemui di sela pameran, Jumat (15/5).
    Baginya, tanaman itu tidak hadir secara netral. Ledakan populasi eceng gondok di Citarum berkaitan dengan tingginya kandungan limbah dan sedimentasi yang membuat ekosistem sungai berubah drastis. Dalam situasi tersebut, eceng gondok menjadi semacam penanda biologis atas krisis yang berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun.

    Selain cyanotype, Arif juga menghadirkan karya berupa lembaran kain hasil celupan pewarna alami indigofera. Kain-kain biru itu digantung memanjang, bergerak perlahan tertiup angin, menghadirkan suasana seperti berada di antara jemuran warga bantaran sungai. Namun di balik tampilannya yang tenang, karya tersebut menyimpan pembacaan sejarah yang panjang.
    Indigofera atau tarum pernah menjadi tanaman penting di tanah Priangan. Pada masa kolonial, tanaman pewarna alami itu dibudidayakan besar-besaran dan menjadi bagian dari rantai perdagangan global. Namun perlahan, keberadaannya tergeser oleh industri tekstil modern dan pewarna kimia yang kemudian ikut menyumbang pencemaran sungai-sungai di Jawa Barat, termasuk Citarum.

    Arif mencoba menghubungkan sejarah tersebut melalui material. Biru pada kain-kain itu bukan hanya warna estetis, tetapi juga simbol tentang sejarah industri, kolonialisme, hingga kerusakan ekologis yang diwariskan lintas generasi. Dalam beberapa karya, noda air dan bercak oksidasi sengaja dibiarkan muncul sebagai bagian dari narasi visual.
    “Air itu menyimpan memori. Bahkan limbah sekalipun sebenarnya menyimpan cerita tentang bagaimana manusia hidup dan memperlakukan lingkungannya,” ujar Arif.
    Pendekatan artistik yang ia gunakan banyak bersandar pada riset lapangan di kawasan DAS Citarum.

    Ia mengumpulkan material dari bantaran sungai, berbincang dengan warga, hingga mengamati perubahan lanskap yang kini dipenuhi kawasan industri dan permukiman padat. Baginya, seni tidak cukup hanya menghadirkan visual yang indah, tetapi juga perlu membuka ruang refleksi terhadap realitas sosial dan ekologis.
    Di beberapa sudut ruang pamer, suara gemericik air diputar pelan bercampur bunyi mesin industri dan rekaman percakapan warga bantaran sungai. Instalasi itu menciptakan atmosfer yang intim sekaligus muram.

    Pengunjung tidak hanya melihat karya, tetapi seperti diajak masuk ke dalam tubuh sungai yang penuh endapan sejarah.
    Pameran Siasat Air juga menjadi bagian dari upaya Arif membaca ulang hubungan antara seni, material organik, dan praktik perawatan lingkungan. Di tengah derasnya produksi industri dan budaya konsumsi, ia mencoba menunjukkan bahwa benda-benda yang dianggap limbah masih memiliki kemungkinan hidup lain melalui proses artistik.

    Bayangan pakaian dari limbah eceng gondok tampak semakin tajam di permukaan kertas. Seperti Sungai Citarum sendiri, karya-karya itu tidak menawarkan jawaban pasti tentang masa depan. Namun setidaknya, melalui seni, Arif Furqan mencoba memastikan bahwa ingatan tentang air belum sepenuhnya hilang.(kus)

  • Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kabupaten Bandung Soroti Ancaman Kerusakan Kawasan Hulu

    Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kabupaten Bandung Soroti Ancaman Kerusakan Kawasan Hulu

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung mengungkap masih luasnya lahan kritis di wilayah Kabupaten Bandung. Berdasarkan hasil kajian masterplan penanganan lahan kritis, total luasan lahan kritis dan sangat kritis mencapai 37.750,22 hektare yang tersebar di puluhan kecamatan.

    Dari jumlah tersebut, lahan kritis tercatat seluas 26.189,81 hektare, sedangkan lahan sangat kritis mencapai 11.560,41 hektare. Kepala Bidang Konservasi dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Erna Marlena mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap kelestarian lingkungan dan kawasan hulu di Kabupaten Bandung.

    “Penanganan lahan kritis menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kelestarian lingkungan, pengendalian erosi, potensi bencana, hingga keberlanjutan sumber daya air di Kabupaten Bandung,” ujar Erna, Selasa (12/5/2026).

    Hasil identifikasi menunjukkan lahan kritis ditemukan di 26 kecamatan, sementara lahan sangat kritis tersebar di 20 kecamatan. DLH Kabupaten Bandung menetapkan tiga kategori prioritas penanganan.

    “Prioritas I meliputi delapan kecamatan dengan tingkat kerawanan tinggi karena berada di kawasan hulu dan pegunungan dengan luasan lahan kritis cukup besar, yakni Kecamatan Kertasari, Pangalengan, Pacet, Pasirjambu, Kutawaringin, Rancabali, Ciwidey, dan Ibun,” ungkap dia.

    Sementara Prioritas II mencakup Kecamatan Arjasari, Cimenyan, Nagreg, Cimaung, Cicalengka, Cilengkrang, dan Paseh yang dinilai berpotensi mengalami peningkatan kerusakan apabila tidak segera dilakukan penanganan.

    “Sedangkan Prioritas III merupakan wilayah dengan luasan lebih kecil namun tetap membutuhkan intervensi lokal, terutama pada kawasan lereng curam, drainase buruk, dan sempadan sungai,” ujar dia.

    Menurut Erna, faktor utama yang mempengaruhi munculnya lahan kritis di Kabupaten Bandung dipengaruhi kondisi tutupan lahan, morfologi wilayah, hingga karakteristik geologi dan jenis tanah.

    “Sebagian besar lahan memiliki potensi produktif, namun sangat bergantung pada perlindungan topsoil, penutupan vegetasi, dan pengendalian aliran permukaan,” jelasnya.

    Ia menegaskan penanganan lahan kritis tidak bisa dilakukan secara parsial dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor serta lintas kewenangan. Pasalnya, sejumlah kawasan lahan kritis berada di wilayah milik Perhutani, PTPN, hingga area kewenangan Pemerintah Kabupaten Bandung.

    “Karena itu penanganannya harus dilakukan secara kolaboratif antara seluruh pemangku kebijakan. Tidak bisa hanya dilakukan pemerintah daerah saja, tetapi perlu sinergi bersama Perhutani, PTPN, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, masyarakat hingga pelaku usaha,” katanya.

    DLH Kabupaten Bandung juga merekomendasikan penanganan berbasis konservasi terpadu, tidak hanya melalui penanaman pohon, tetapi juga agroforestri, tanam kontur, penggunaan tanaman penutup tanah, mulsa, pembangunan guludan dan terasering, hingga penguatan bahan organik tanah.

    “Penanganan harus dilakukan secara spesifik sesuai kondisi satuan lahan agar efektif mengendalikan erosi, memperbaiki kualitas tanah, dan menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan,” tambah Erna.

    Selain itu, DLH Kabupaten Bandung tengah menyusun estimasi kebutuhan anggaran konservasi vegetatif per hektare sebagai bagian dari pedoman teknis rehabilitasi lahan kritis secara lebih komprehensif.

    “Kajian masterplan tersebut diharapkan menjadi acuan pemerintah daerah dalam menentukan arah kebijakan konservasi lingkungan dan rehabilitasi lahan di Kabupaten Bandung, khususnya di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang selama ini menjadi wilayah rentan degradasi ekologis,” ungkap dia. (kus)

  • Polisi Bekuk Komplotan Begal Sadis terhadap WNA Asal Cina di Solokan Jeruk

    Polisi Bekuk Komplotan Begal Sadis terhadap WNA Asal Cina di Solokan Jeruk

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG – Satreskrim Polresta Bandung bersama Polsek Solokan Jeruk berhasil membekuk komplotan pelaku pencurian dengan kekerasan yang menyerang seorang warga negara asing (WNA) asal Cina di wilayah Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung.

    Sebanyak lima orang pelaku berhasil diamankan Satreskrim Polresta Bandung bersama Polsek Solokan Jeruk beserta sejumlah barang bukti yang digunakan saat melakukan aksi kekerasan terhadap korban.

    Peristiwa tersebut terjadi di depan PT Tertawa Panas Panas, kawasan PT Kahatex, Jalan Raya Majalaya–Rancaekek No.389, Desa Solokan Jeruk, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Jumat (9/5/2026).

    Korban diketahui bernama Chen Bin (34), seorang komisaris perusahaan asal Cina. Korban mengalami luka sobek di bagian tangan, pundak, dan pipi akibat serangan senjata tajam saat aksi pembegalan terjadi.

    Kapolresta Bandung Aldi Subartono melalui Kasat Reskrim mengatakan, pihaknya langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan usai menerima laporan polisi dari pelapor bernama Zahra Nur Annisa Hasan.

    “Begitu laporan diterima, anggota Satreskrim Polresta Bandung bersama Polsek Solokan Jeruk langsung melakukan olah TKP, pemeriksaan saksi, pencarian CCTV, serta pengejaran terhadap para pelaku. Alhamdulillah seluruh pelaku berhasil diamankan dalam waktu singkat,” ujar Aldi Subartono, selasa (12/5).

    Dari hasil penyelidikan, polisi mengungkap masing-masing pelaku memiliki peran berbeda dalam aksi pencurian dengan kekerasan tersebut. Dua orang pelaku diketahui melakukan pembacokan terhadap korban menggunakan senjata tajam jenis golok, sementara pelaku lainnya berperan sebagai pengendara sepeda motor dan membantu jalannya aksi di lokasi kejadian.

    “Selain mengamankan para tersangka, polisi turut menyita sejumlah barang bukti berupa dua bilah golok, pakaian yang digunakan saat beraksi, sepasang sandal dan sepatu, serta dua unit sepeda motor yang digunakan pelaku,” ungkap dia.

    Kapolresta Bandung menegaskan pihaknya tidak akan memberikan ruang terhadap segala bentuk tindak kriminalitas jalanan yang meresahkan masyarakat, terutama aksi kejahatan yang menggunakan kekerasan dan membahayakan keselamatan korban.

    “Kami pastikan Polresta Bandung akan bertindak tegas terhadap para pelaku kejahatan jalanan maupun tindak pidana yang meresahkan masyarakat. Saat ini para tersangka sedang menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut dan akan dilakukan penahanan,” katanya.

    Para tersangka dijerat dengan Pasal 262 dan atau Pasal 479 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Saat ini penyidik masih melakukan pendalaman serta koordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum untuk proses hukum lebih lanjut.

    “Polresta Bandung berkomitmen memberikan rasa aman kepada masyarakat dan menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif di wilayah hukum Polresta Bandung,” pungkasnya.  (kus)

  • Jelang Iduladha 2026, Distan Kabupaten Bandung Perketat Pengawasan Kesehatan Hewan Kurban

    Jelang Iduladha 2026, Distan Kabupaten Bandung Perketat Pengawasan Kesehatan Hewan Kurban

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG – Pemeriksaan kesehatan hewan kurban di Kabupaten Bandung terus ditingkatkan oleh Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung menjelang Hari Raya Iduladha 2026.

    Kepala Distan Kabupaten Bandung Ina Dewi Kania mengatakan, pengawasan kesehatan hewan ternak sebenarnya telah dilakukan secara rutin sepanjang tahun melalui program Pos Pelayanan Terpadu Kesehatan Hewan/Ternak Keliling (Posterling).

    “Pada Posterling itu sebetulnya kami punya 10 puskeswan. Satu puskeswan biasanya melayani tiga kecamatan. Di sana ada dokter hewan dan paramedis juga,” ujar Ina Dewi Kania kepada awak media, Selasa (12/5/2026).

    Ia menjelaskan, pelayanan kesehatan hewan di puskeswan berlangsung setiap Senin hingga Jumat. Sementara khusus hari Rabu, dokter hewan bersama paramedis turun langsung mengunjungi kelompok peternak untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ternak di lapangan.

    Selain layanan rutin, Distan Kabupaten Bandung juga menyiapkan pengawasan khusus menjelang Iduladha. Petugas akan melakukan pemeriksaan langsung ke lapak penjualan hewan kurban maupun peternak guna memastikan kondisi hewan tetap sehat dan layak disembelih.

    “Di samping itu, kita juga akan melakukan kunjungan khusus ke lapak atau ke peternak yang menyediakan hewan kurban. Jadi setiap hari Selasa dan Jumat kita akan melakukan pelayanan kesehatan,” katanya.

    Tak hanya pemeriksaan sebelum penyembelihan, Distan Kabupaten Bandung juga akan melakukan pemeriksaan pasca penyembelihan guna memastikan daging hewan kurban aman dikonsumsi masyarakat.

    “Nanti ada tim kami yang akan keliling di beberapa tempat untuk mengecek hewan yang sudah disembelih. Jadi untuk memastikan dagingnya aman dikonsumsi atau tidak,” ucap Ina.

    Distan Kabupaten Bandung memastikan pengawasan dilakukan secara intensif untuk menjaga kesehatan hewan kurban sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat menjelang pelaksanaan Iduladha 2026. (kus)

  • Produksi Kopi Nasional 2026

    Produksi Kopi Nasional 2026

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG – Petani mengolah biji kopi arabika yang sudah di panen di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Rabu (6/5/2026).

    Produksi Kopi Nasional 2026
    Petani mengolah biji kopi arabika yang sudah di panen di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Rabu (6/5/2026). Foto-foto : Taofik Achmad Hidayat/Pojok Bandung

    Kementerian Pertanian memproyeksikan produksi kopi nasional pada 2026 menjadi 834.822 ton atau meningkat dibandingkan 2025 yang berada di kisaran 800.000 ton karena adanya perbaikan kondisi budidaya dan iklim. (opk)

  • Hari Pendidikan Nasional, DPRD Kabupaten Bandung Soroti Beragam Persoalan Pendidikan

    Hari Pendidikan Nasional, DPRD Kabupaten Bandung Soroti Beragam Persoalan Pendidikan

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG — Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini dinilai sebagai momentum penting untuk merefleksikan berbagai persoalan yang masih membayangi dunia pendidikan, termasuk di Kabupaten Bandung.

    Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Cecep Suhendar, menyampaikan bahwa masih ada sejumlah tantangan besar yang harus segera dibenahi, mulai dari pemerataan mutu hingga keterbatasan fasilitas pendidikan.

    “Selama ini fokus pendidikan masih berkutat pada akses, padahal tantangan saat ini adalah memastikan kualitas pendidikan yang merata dan berkeadilan. Menurutnya, mutu pendidikan tidak hanya dilihat dari aspek akademik, tetapi juga karakter dan kemampuan adaptasi siswa,” ujar dia melalui sambungan telepon, Minggu (3/5/2026).

    Selain itu, kesenjangan digital menjadi persoalan lain di tengah upaya transformasi pendidikan. Wilayah perkotaan dinilai lebih siap dibanding daerah pegunungan atau terpencil yang masih terbatas dari sisi infrastruktur dan akses teknologi.

    “Kondisi sarana dan prasarana pendidikan juga masih menjadi sorotan. Ia mengungkapkan masih ditemukan ruang kelas yang tidak layak, bahkan digunakan secara terbagi atau dengan kondisi minim fasilitas,” ungkap dia.

    Di sisi lain, relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dinilai perlu diperkuat melalui pendekatan yang lebih aplikatif, tanpa mengesampingkan pendidikan karakter.

    “Pentingnya peran masyarakat dalam mendukung pendidikan. Menurutnya, tanggung jawab pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah dan pemerintah semata,” ungkap dia.

    Selain itu, masih adanya keterbatasan fasilitas dasar seperti sanitasi dan ruang kelas menunjukkan perlunya prioritas pembangunan di sektor pendidikan.

    “Dengan berbagai persoalan tersebut, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan,” ujar dia.

    Melalui momentum Hardiknas, DPRD Kabupaten Bandung berharap seluruh pihak tidak hanya merayakan, tetapi juga bersama-sama mencari solusi untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkelanjutan. (kus)

  • Bupati Tekankan Pentingnya Raperda untuk Pengembangan Olahraga Kabupaten Bandung

    Bupati Tekankan Pentingnya Raperda untuk Pengembangan Olahraga Kabupaten Bandung

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG — Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan pentingnya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Keolahragaan sebagai dasar dalam memperkuat pembangunan sektor olahraga di daerah.
    Menurutnya, kehadiran Raperda tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia melalui pembinaan olahraga yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan.

    Ia menyampaikan bahwa regulasi ini tidak hanya berfungsi sebagai aturan administratif, tetapi juga menjadi pijakan dalam meningkatkan kualitas pembinaan atlet di Kabupaten Bandung.

    “Dengan adanya landasan hukum yang jelas, pemerintah daerah dapat lebih optimal dalam merancang program pembinaan, peningkatan prestasi, hingga pengembangan potensi olahraga di berbagai tingkatan,” ujar dia, Minggu (3/5/2026).

    Bupati juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai organisasi keolahragaan dalam mendukung implementasi Raperda tersebut, mulai dari tingkat pembinaan hingga pengembangan olahraga masyarakat.
    “Selain itu, ia mendorong agar olahraga tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran,” ujar dia.

    Ia menilai, sektor olahraga memiliki peran penting dalam membangun karakter, menanamkan nilai sportivitas, serta memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.
    “Raperda ini juga diharapkan mampu memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga, termasuk memberikan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas,” ungkapnya.

    Lebih jauh, pemerintah daerah optimistis regulasi tersebut dapat mendorong lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
    Dengan dukungan semua pihak, Bupati berharap pengembangan olahraga di Kabupaten Bandung dapat berjalan lebih terarah dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan daerah. (kus)

     

  • Mantap! Warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya Bersihkan Aliran Sungai

    Mantap! Warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya Bersihkan Aliran Sungai

    POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG – Tingginya curah hujan di Mei ini membuat warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya Desa Jabayaya Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung melakukan pembersihkan aliran sungai, Minggu (3/5/2026).

    Mantap! Warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya Bersihkan Aliran Sungai
    Warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya Desa Jabayaya Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung berjibaku membersihkan aliran sungai, Minggu (3/5/2026). Foto-foto : Tangkapan layar

    “Ini merupakan antisipasi terhadap curah hujan yang tinggi sehingga aliran sungai di lingkungan RW 13 Komplek Griya Jagabaya harus bersih sehingga air lancar jaya,” ujar Ketua RW 13 Abah Acek Sudrajat.

    Mantap! Warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya Bersihkan Aliran Sungai
    Warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya Desa Jabayaya Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung berjibaku membersihkan aliran sungai, Minggu (3/5/2026). Foto-foto : Tangkapan layar

    “Kami ucapkan terima kasih atas kekompakan warga RW 13 Komplek Griya Jagabaya dalam setiap kegeiatan termasuk kerja bakti membersihkan sungai ini,” pungkas Abah Acek . (**)