Antrean Panjang SPBU Picu Pemudik Kehabisan Bensin di Jalur Cileunyi–Nagreg

POJOKBANDUNG.COM KABUPATEN BANDUNG – Arus mudik Lebaran di jalur Cileunyi menuju Nagreg tahun ini menyimpan cerita lain di balik kepadatan kendaraan. Bukan semata soal kemacetan, tetapi keputusan-keputusan kecil para pemudik yang justru berujung masalah—salah satunya memaksakan diri tidak ikut antre di SPBU.

Antrean Panjang SPBU Picu Pemudik Kehabisan Bensin di Jalur Cileunyi–Nagreg

Arus lalu lintas terpantau padat Simpang Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Rabu (18/3) malam. Taofik Achmad Hidayat/Pokjok Bandung. Sementara foto atas, Sekelompok pemudik berhenti karena mogok, menunggu rekanya membeli bensin dari SPBU terdekat. Foto : Agung Eko Sutrisno / Pojok Bandung

Di sepanjang jalur tersebut, antrean panjang di sejumlah SPBU kerap terlihat mengular hingga ke badan jalan. Bagi sebagian pemudik, pemandangan itu menjadi alasan untuk terus melaju. Harapannya sederhana: menemukan SPBU lain yang lebih sepi di depan.
Namun keputusan itu tak selalu berakhir baik. Di beberapa titik, pengendara justru terlihat menepi sambil mendorong motor mereka. Tangki yang kosong menjadi konsekuensi dari pilihan untuk menghindari antrean.
Rudi (34), pemudik asal Cimahi yang hendak menuju Tasikmalaya, menjadi salah satunya. Ia mengaku sengaja melewati dua SPBU karena tidak ingin membuang waktu mengantre di tengah perjalanan yang sudah padat.
“Saya lihat antreannya panjang, mikirnya nanti saja isi di depan. Eh ternyata enggak ketemu yang sepi, malah habis di jalan,” ujarnya, Jumat (20/3).
Kondisi lalu lintas yang tersendat membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros dari perkiraan. Kendaraan yang terus berhenti dan berjalan perlahan mempercepat habisnya bensin, terutama bagi sepeda motor yang menempuh jarak jauh.
Hal serupa dialami Siti (29), yang mudik bersama keluarganya menggunakan mobil menuju Cilacap. Ia mengaku sempat beberapa kali melewati SPBU karena melihat antrean panjang, sebelum akhirnya panik saat indikator bahan bakar menunjukkan angka kritis.
“Kita pikir masih cukup, karena biasanya segitu masih aman. Tapi karena macet parah, jadi cepat habis. Akhirnya tetap antre juga, tapi sudah waswas,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, warga sekitar memanfaatkan peluang dengan menjual bensin eceran di pinggir jalan. Meski lebih mahal, bahan bakar dalam botol itu menjadi penyelamat bagi pemudik yang terlanjur kehabisan bensin akibat terlalu lama menunda pengisian.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana keinginan untuk menghemat waktu justru berbalik menjadi kerugian. Menghindari antrean yang dianggap menghambat perjalanan malah membuat pemudik kehilangan lebih banyak waktu—bahkan tenaga ketika harus berhenti di tengah jalan.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan BBM selama mudik dalam kondisi aman dan tidak ada pembatasan pembelian. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengimbau masyarakat untuk tetap tertib dan tidak melakukan pembelian berlebihan. (kus)

loading...

Feeds

Keluarga Petarung MMA, Yudi Cahyadi Bangga

POJOKBANDUNG.COM, SUMEDANG – Petarung Mixed Martial Art (MMA) asal Desa Trunamanggala, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Yudi Cahyadi (34), gagal melangkah …