POJOKBANDUNG.COM, KAB BANDUNG BARAT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat bersama Badan Geologi mulai mencari lahan relokasi bagi warga terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Petugas SAR Gabungan melakukan pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat menggunakan alat berat, Jumat (30/1/2026). Foto : HENDRA HIDAYAT-TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/ POJOK BANDUNG
Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Barat Ade Zakir mengatakan, saat ini ada tiga titik lahan milik pemerintah desa yang diprediksi bakal jadi tempat hunian baru warga terdampak bencana.
“Titiknya kita sudah identifikasi yang secara visual atau diskusi ringan dengan Geologi aman. Kemarin sudah tiga titik yang kita survei,” katanya, Selasa (3/2/2026).
Ia menambahkan, terkait penetapan lahan tersebut masih menunggu keputusan pasti stakeholder terkait yakni kesepakatan antara pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan pihak terkait lainnya.
“Setelah ada keputusan resmi, Pemkab Bandung Barat akan mengajukan permohonan kajian lanjutan kepada Badan Geologi guna memastikan faktor keamanan dan kelayakan lokasi secara menyeluruh,” jelasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi Pemkab Bandung Barat untuk berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pembangunan rumah relokasi bagi warga terdampak.
“Tapi nanti tentu kalau sudah pasti kita akan berkirim surat dan memperoleh rekomendasi resmi tentang keamaan lokasi yang akan dipakai. Dari BNPB yang penting ada tanah nanti, yang bangun kami (BNPB),” kata Ade Zakir.
Ia menegaskan, lokasi relokasi rumah korban longsor tidak akan keluar dari wilayah Desa Pasirlangu agar warga tetap dapat beraktivitas di lingkungan asalnya.
“Data sementara 53 yang tertimbun dan terancam, tapi datanya masih fluktuatif. Lokasinya masih di Pasirlangu karena kalau jauh nanti takutnya tidak dihuni,” ucap Ade Zakir.
Selain persoalan hunian, Pemkab Bandung Barat juga memikirkan keberlanjutan mata pencaharian warga yang terdampak, khususnya mereka yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
“Tentu kita harus menyesuaikan pertama mata pencaharian, mereka ada di sini sehingga hunian jangan jauh-jauh. Kebanyakan kan dari sektor pertanian, kita support. Kita lihat dari keseluruhan yang kita pikirkan hunian relokasi dan mata pencaharian. Nanti dari dinas akan menganalisa,” ujar Ade Zakir.
Ia menegaskan, Pemkab Bandung Barat lebih memilih pembangunan Hunian Tetap (Huntap) dibandingkan Hunian Sementara (Huntara), dengan memanfaatkan tanah carik desa yang ada.
“Sebenarnya kita memilih opsi Hunian Tetap (Huntap). Barangkali untuk memanfaatkan tanah carik Desa kan harus ada persetujuan melalui musyawarah Desa. Itu sedang kita dorong. Kita gak bisa memaksakan untuk cepat. Karena menyesuaikan situasi dan kondisi sikologis para perangkat desa.” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD KBB, Nurjulaeha mengatakan, Pemkab Bandung Barat harus memiliki pertimbangan matang saat menentukan lokasi relokasi bagi warga terdampak bencana di Pasirlangu.
“Kalau ada tanah yang bisa ditempati untuk relokasi di sana itu perlu pertimbangan yang matang dan kajian lagi,” imbuhnya.
Ia menegaskan, pertimbangan matang tersebut perlu dilakukan agar warga terdampak bencana benar-benar berada di lokasi relokasi yang aman.
“Jangan sampai mereka yang sekarang korban itu ditempatkan di area yang rawan longsor juga itu yang harus benar-benar diperlukan kajian yang sangat teliti,” pungkasnya. (kro)
RENCANA RELOKASI LAHAN
– Pemkab Bandung Barat mencari lahan relokasi bagi warga terdampak longsor.
– Sudah tiga titik lahan milik pemdes yang disurvei.
– Penetapan lahan menunggu keputusan pemdes, BPD dan pihak terkait lainnya.
– Pemkab Bandung Barat mengajukan kajian kepada Badan Geologi memastikan faktor keamanan dan kelayakan.
– Lokasi relokasi rumah korban longsor masih disekitar Desa Pasirlangu.
– Lokasi relokasi tidak jauh agar warga tetap beraktivitas di lingkungan asalnya.
– Selain hunian, pemkab menyiapkan keberlanjutan mata pencaharian warga.
– Khususnya warga terdampak yang menggantungkan dari sektor pertanian.
UPDATE DATA KORBAN
1. 155 warga terdampak.
2. 75 orang selamat.
3. 85 jenazah sudah ditemukan.
4. 61 jenazah sudah teridentifikasi.
5. 20 jenazah dalam proses identifikasi.
#Update data terakhir Selasa (3/2/2026) pukul 18.20 WIb




















