Baru Mulai, Kemarau Sudah Picu Kenaikan Karhutla, BMKG: Rata-Rata Hutan di Mayoritas Zona Musim Lebih Rendah Ketimbang 2025

Ilustrasi. Kemarau tahun ini tidak bersahabat. Durasinya panjang karena hadir lebih awal. BMKG menyebutnya sebagai kemarau terhebat sepanjang 30 tahun terakhir. Foto : Dok.Radar Bojonegoro

Ilustrasi. Kemarau tahun ini tidak bersahabat. Durasinya panjang karena hadir lebih awal. BMKG menyebutnya sebagai kemarau terhebat sepanjang 30 tahun terakhir. Foto : Dok.Radar Bojonegoro

POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Kemarau tahun ini tidak bersahabat. Durasinya panjang karena hadir lebih awal. BMKG menyebutnya sebagai kemarau terhebat sepanjang 30 tahun terakhir.

Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani menjelaskan, Indonesia mempunyai 699 zona musim (ZOM). Sebagian besar dari ZOM tersebut di tahun ini mempunyai rata-rata hujan yang lebih rendah dibandingkan tren yang sama sepanjang 30 tahun terakhir.

Data BMKG menyebutkan, ada 451 ZOM atau 64,5 persen yang mempunyai curah hujan di bawah normal. Indikator lain kuatnya musim kemarau tahun ini adalah, ada 400 ZOM (57,2 persen) yang durasi musim kemaraunya lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

“Musim kemarau akan dimulai dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, kemudian bergerak ke arah barat,” katanya, Selasa (7/4/2026) (lihat grafis).

Faisal menambahkan, musim kemarau dimulai bulan ini sampai Mei depan. Puncaknya terjadi pada Agustus, lalu berakhir pada September hingga awal Oktober. Secara garis besar, dia menuturkan, kemarau musim ini datang lebih cepat.

Lemah hingga Moderat

Belum lagi ada pengaruh gelombang El Nino, yang membuat udara kering serta minim pembentukan awan. “El Nino ini juga kita pantau. Saat ini, (El Nino) masih lemah hingga moderat,” jelas Faisal.

Terpisah, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, sepanjang tahun ini, luasan karhutla sudah mencapai sekitar 32.600 hektare. Pada periode yang sama tahun lalu, karhutla dilaporkan hanya terjadi di 1.617 hektare. “Artinya, terjadi peningkatan berlipat-lipat,” katanya di Jakarta, kemarin (7/4/2026).

Saat ini, lanjut Hanif, adalah waktu yang tepat untuk menggeber pencegahan karhutla. Sebab, mengejar puncak musim kemarau yang terjadi Agustus sampai September depan.

Sampai dengan 5 April lalu, terpantau sekitar 700 titik panas. Jumlah ini meningkat dari periode yang sama tahun lalu, di angka 260 titik panas. (wan/ttg/Jawa Pos)

Data Fakta Musim Kemarau 2026

  • April: NTB, NTT, Bali, sebagian kecil Sulsel, sebagian Jatim, sebagian besar Jogja, pesisir utara dan selatan Jateng, serta pesisir utara Jawa bagian barat.
  • Mei: Sumatera, Kalimantan, Gorontalo, Maluku, hingga Papua.
  • Juni: meluas ke seluruh wilayah Indonesia.

 

Curah Hujan Bulanan

  • April: Rendah–menengah. Wilayah yang mengalami curah hujan rendah di antaranya sebagian besar Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
  • Mei: Rendah–menengah. Wilayah yang mengalami curah hujan rendah di antaranya sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Jambi, Lampung, Sulsel, dan Papua Selatan.
  • Juni–September: Rendah–menengah. Wilayah yang mengalami curah hujan rendah di antaranya sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Perbandingan dengan Kondisi Normal

  • 400 Zona Musim (ZOM): durasi kemarau lebih panjang dari normal.
  • 85 ZOM: durasi kemarau sama dengan normal.
  • 101 ZOM: durasi kemarau lebih pendek dari normal.

Puncak Kemarau

  • Juli (12,6 persen ZOM)
  • Agustus (61,4 persen ZOM)
  • September (14,3 persen ZOM)

Sumber: BMKG

loading...

Feeds

Bapor Korpri Subang Gelar Ngabret Pedal Tournamen

POJOKBANDUNG.COM, SUBANG-Badan Pembina Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia (BAPOR KORPRI) Kabupaten Subang menyelenggarakan Ngabret Padel Mini Tournament Session 1 yang …

Keluarga Petarung MMA, Yudi Cahyadi Bangga

POJOKBANDUNG.COM, SUMEDANG – Petarung Mixed Martial Art (MMA) asal Desa Trunamanggala, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Yudi Cahyadi (34), gagal melangkah …