Wakil Dekan Unhan RI Soroti RUU Sisdiknas, Harus Jadi Momentum Koreksi Pendidikan Nasional

POJOKBANDUNG.COM, BANDUNG- Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Logistik Militer Universitas Pertahanan RI, Hikmat Zakky Almubaroq, menegaskan pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) tidak boleh hanya dipandang sebagai revisi administratif semata, melainkan momentum koreksi arah pendidikan nasional agar kembali selaras dengan amanat konstitusi.

Menurut Hikmat Zakky, pembahasan RUU Sisdiknas yang tengah berlangsung di DPR RI saat ini mempertaruhkan arah masa depan peradaban bangsa Indonesia.

“Jangan pernah main-main dengan pendidikan. Sebab taruhannya bukan sekadar kurikulum, melainkan masa depan peradaban bangsa Indonesia,” ujar Hikmat Zakky dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Ia menilai sistem pendidikan nasional saat ini belum sepenuhnya berjalan sesuai amanat Pasal 31 ayat (3) dan ayat (5) UUD 1945 yang menempatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia sebagai fondasi utama mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurutnya, Pasal 3 UU Sisdiknas yang berlaku saat ini masih menempatkan seluruh tujuan pendidikan dalam posisi sejajar, mulai dari aspek keimanan, ilmu pengetahuan, kreativitas hingga demokrasi.

Kondisi tersebut dinilai membuat pendidikan nasional lebih menitikberatkan kompetensi teknis dibanding pembentukan karakter moral dan spiritual.

“Pendidikan agama dan pembentukan karakter akhirnya sering diperlakukan hanya sebagai mata pelajaran administratif, bukan sebagai ruh pendidikan nasional,” katanya.

Hikmat Zakky menegaskan konstitusi tidak pernah menghendaki perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan tanpa arah moral dan spiritual.

Ia menyebut Indonesia bukan negara yang dibangun di atas paham sekularisme ekstrem yang memisahkan pendidikan dari nilai ketuhanan.

“Demokrasi tanpa moral hanya akan melahirkan kebebasan tanpa batas. Teknologi tanpa etika hanya akan mempercepat kerusakan manusia. Kecerdasan tanpa akhlak justru dapat menjadi ancaman bagi bangsa itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyoroti arah kebijakan pendidikan nasional yang kini mulai menitikberatkan penguatan karakter melalui sekolah berbasis kepemimpinan dan patriotisme seperti SMA Taruna Nusantara dan SMA Garuda yang didorong Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, penguatan pendidikan karakter menjadi langkah penting di tengah dunia yang memasuki era ketidakpastian global.

Hikmat Zakky mengatakan dunia saat ini tidak hanya membutuhkan manusia yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya tahan mental, spiritual dan moral.

“Kalau pendidikan hanya berorientasi pada angka, ranking, ijazah, dan kompetensi teknis semata, tetapi gagal membangun daya tahan moral dan spiritual, maka kita sedang memproduksi generasi yang tampak hebat di luar tetapi rapuh di dalam,” katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi melahirkan “generasi mainan”, yakni generasi yang mudah dipengaruhi algoritma media sosial, mudah kehilangan arah hingga mudah mengorbankan nilai demi kepentingan sesaat.

Karena itu, Hikmat Zakky meminta rumusan tujuan pendidikan nasional dalam RUU Sisdiknas diperbaiki secara mendasar agar benar-benar menempatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia sebagai poros utama pendidikan nasional.

“Bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang berilmu, beradab, tangguh, memiliki daya tahan, serta memahami bahwa ilmu bukan sekadar alat mencari keuntungan dan kekuasaan, melainkan sarana pengabdian kepada Tuhan, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.

loading...

Feeds

Keluarga Petarung MMA, Yudi Cahyadi Bangga

POJOKBANDUNG.COM, SUMEDANG – Petarung Mixed Martial Art (MMA) asal Desa Trunamanggala, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Yudi Cahyadi (34), gagal melangkah …