Ada Jejak Pewaris Kerajaan Kosmetik di Balik Ambisi Donald Trump Kuasai Greenland

POJOKBANDUNG.COM, WASHINGTON – Donald Trump boleh berbusa-busa menyebar alasan keamanan nasional sebagai motif di balik niatnya menguasai Greenland.

Ada Jejak Pewaris Kerajaan Kosmetik di Balik Ambisi Donald Trump Kuasai Greenland

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto : Istimewa. Sementara foto atas, Greenland. Foto : Instagram/@visitgreenland.

Tapi, satu per satu “udang di balik batu” Donald Trump terungkap.

Selain kekayaan mineral Greenland, terutama tanah jarang, ide awal menguasai pulau terbesar di dunia yang berada di bawah kekuasaan Denmark tersebut ternyata justru pertama kali datang dari lingkar pertemanan bisnis Donald Trump, Ronald Lauder.

Lauder triliuner dari bisnis kosmetik sekaligus teman lama presiden Amerika Serikat (AS) tersebut.

Fakta tersebut diungkap mantan Penasihat Keamanan Nasional AS tahun 2018 John Bolton.

Dikutip dari The Guardian kemarin (16/1), Bolton menceritakan bagaimana pada suatu hari di masa jabatan pertama Trump, dirinya dipanggil ke Ruang Oval Gedung Putih untuk membahas usulan yang terdengar tak lazim tersebut.

“Ia (Trump) mengatakan, seorang pengusaha terkemuka baru saja menyarankan agar AS membeli Greenland,” kenang Bolton.

Greenland wilayah otonom Denmark. Kekayaan mineralnya yang melimpah dan posisinya yang strategis di antara Eurasia, Amerika Utara, dan ,ona Arktik, membuat pulau dengan penduduk tak banyak itu sangat strategis secara geopolitik.

Lauder diketahui memiliki kepentingan bisnis di wilayah yang bertetangga dengan Kanada tersebut. Dia pewaris bisnis kerajaan kosmetik Estée Lauder.

Dia dan Trump telah saling mengenal lebih dari enam dekade, sebagai sesama warga New York yang kaya raya.

Setelah panggilan tersebut, Bolton kemudian melakukan pembahasan lebih lanjut terkait pembelian Greenland dengan Lauder.

Bahkan setelah intervensi sang miliarder, tim Gedung Putih membuat tim untuk menjajaki cara-cara meningkatkan pengaruh AS di wilayah Arktik tersebut.

Sederhana tapi Berbahaya

Menurut Bolton, cara kerja Trump kerap tampak sederhana namun berbahaya.

Ia seringkali menganggap informasi yang diterima dari lingkaran dekatnya sebagai kebenaran mutlak.

“Dan sulit sekali mengubah pandangannya,” ujarnya.

Pola ini kembali terlihat ketika Trump menghidupkan lagi ide Greenland pada masa jabatan keduanya saat ini.

Bahkan, kali ini dengan nada yang jauh lebih agresif.

Bukan hanya mempertimbangkan untuk membeli Greenland, tetapi juga keinginan menggunakan kekuatan militer untuk merebutnya.

Trump menyebut AS sangat membutuhkan Greenland untuk alasan keamanan nasional.

Dia melempar argumen, kalau bukan AS, Rusia atau Tiongkok yang akan menguasainya. Sebuah pernyataan yang kemudian memicu kecaman internasional, terutama dari Denmark dan sekutu NATO lainnya.

Namun, di titik inilah kepentingan bisnis Lauder mulai disorot. Seiring meningkatnya ancaman Trump untuk merebut Greenland, Lauder justru tercatat memperluas investasinya di sana.

Catatan perusahaan Denmark menunjukkan sebuah perusahaan beralamat New York, dengan pemilik yang tidak disebutkan, baru-baru ini membeli saham di sejumlah proyek di Greenland.

Pada Desember lalu, Media Denmark melaporkan kalau Lauder berada di balik kelompok investor itu.

“Lauder dan rekan-rekannya dalam kelompok investor memiliki pemahaman yang sangat baik dan akses ke pasar mewah,” ujar seorang pengusaha Greenland yang terlibat.

Kelompok investor yang sama juga disebut tengah menjajaki pembangunan pembangkit listrik tenaga air dari danau terbesar Greenland. Listrik ini untuk memasok pabrik peleburan aluminium.

Langkah-langkah itu kemudian memperkuat dugaan tumpang tindih antara kepentingan bisnis Lauder dan arah kebijakan luar negeri AS. Lauder sendiri bukan figur asing di dunia politik.

Setelah bekerja di perusahaan keluarga, ia pernah bertugas di Pentagon pada era Presiden Ronald Reagan.

Ia juga pernah menjabat Duta Besar AS untuk Austria.

Pada Pemilu 2016, Lauder menjadi salah satu penyumbang dana besar untuk kemenangan Trump.

Bahkan tak jarang, pria 81 tahun itu secara terbuka membela Trump ketika kesehatan mentalnya dipertanyakan atas keputusan-keputusannya kala itu. Pada 2018, Lauder bahkan mengklaim membantu Trump menangani tantangan diplomatik paling kompleks.

Hingga setahun kemudian, minat Trump terhadap Greenland terungkap ke publik.

Pemerintah Denmark bereaksi keras. Trump menanggapi dengan cuitan bergambar menara emas Trump Tower menjulang di atas desa Greenland, disertai kalimat satir:
“Saya berjanji tidak akan melakukan ini.”
Namun obsesi Trump tak pernah benar-benar padam.

Begitu pun Lauder. Pada Februari lalu, setelah kembali ke Gedung Putih, Trump kembali melontarkan wacana pengambilalihan Greenland.

Dan seperti biasa, Lauder langsung pasang badan untuk sahabatnya itu. Dalam kolom opininya di New York Post, ia menyebut ide Greenland bukanlah hal absurd, melainkan langkah strategis. Pria yang juga diketahui hobi mengkoleksi barang seni itu menyoroti kandungan logam tanah jarang, potensi jalur pelayaran baru akibat mencairnya es, serta posisi Greenland di tengah persaingan kekuatan besar dunia.

“Selama bertahun-tahun saya bekerja erat dengan pemimpin bisnis dan pemerintahan Greenland untuk mengembangkan investasi strategis,” tulis Lauder. Pernyataan itu sekaligus mempertegas kedekatan dirinya dengan elite lokal Greenland.

Konsorsium Investor

Keterlibatan Lauder dalam urusan kebijakan Trump tidak berhenti di Greenland. Namanya juga muncul dalam konsorsium investor yang mengincar tambang litium di Ukraina. Setelah Washington dan Kyiv meneken kesepakatan eksploitasi mineral bersama, konsorsium tersebut dilaporkan memenangkan tender pertama.

Situasi tersebut kembali memicu pertanyaan soal konflik kepentingan di lingkaran terdekat Trump.

Hubungan Lauder dan Trump tapi tak selalu romantis. Mereka sempat merenggang pada 2022, ketika Trump menerima tokoh sayap kanan ekstrem, Nick Fuentes, di Mar-a-Lago. Lauder, yang memimpin World Jewish Congress, mengecam keras pertemuan itu.

Namun keretakan tersebut tak berlangsung lama. Buktinya, pada 2025, Lauder kembali menyumbang jutaan dolar untuk organisasi penggalangan dana pro-Trump dan menghadiri jamuan eksklusif bersama presiden.

Memang ide pertama muncul dari Lauder, tapi nyatanya sejumlah orang kaya dunia ikut menaruh perhatian besar pada Greenland usai Trump berkelakar akan mengambilalih kawasan.

Dari laporan Forbes, orang-orang terkaya dunia seperti Jeff Bezos, Bill Gates, dan Michael Bloomberg mulai melakukan investasi strategis di pulau kaya mineral tersebut.

Menurut dokumen regulator yang diajukan pada Mei 2025 oleh 80 Mile Plc, mantan mitra eksplorasi Kobold (sebuah startup pertambangan inovatif yang didukung miliarder Bill Gates dan Jeff Bezos) di Greenland, Kobold tidak lagi memiliki kepemilikan saham dalam usaha patungan kedua perusahaan untuk mencari mineral baterai di Greenland barat. Meski demikian, Kobold tetap akan menerima royalti atas produksi masa depan dari proyek tersebut.

Dalam dokumen yang sama disebutkan bahwa Kobold telah melakukan aktivitas eksplorasi berkualitas tinggi senilai sekitar USD 13,4 juta pada 2022. Meski tidak melanjutkan ke tahap pengeboran.

Sebagai informasi, Bezos, Gates, dan Bloomberg pertama kali dilaporkan berinvestasi di Kobold pada awal 2019, ketika perusahaan tersebut menutup pendanaan Seri A.

Investasi ini dilakukan beberapa bulan setelah Trump mulai menelusuri kemungkinan membeli Greenland.

Investasi tersebut dilakukan melalui Breakthrough Energy, dana yang dipimpin Gates dengan tujuan mempercepat inovasi energi hijau dan membangun industri masa depan. (mia/ttg/Jawa Pos)

loading...

Feeds

Bapor Korpri Subang Gelar Ngabret Pedal Tournamen

POJOKBANDUNG.COM, SUBANG-Badan Pembina Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia (BAPOR KORPRI) Kabupaten Subang menyelenggarakan Ngabret Padel Mini Tournament Session 1 yang …

Keluarga Petarung MMA, Yudi Cahyadi Bangga

POJOKBANDUNG.COM, SUMEDANG – Petarung Mixed Martial Art (MMA) asal Desa Trunamanggala, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Yudi Cahyadi (34), gagal melangkah …