POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Amerika Serikat (AS) mengulangi kebiasaan lamanya menyerang Iran saat perundingan berlangsung. Serangan kali ini malah terasa sangat paradoksal dilakukan saat delegasi kedua negara sedang merundingkan kesepakatan damai di Qatar.
Serangan sebelumnya dilakukan AS bersama Israel ke Iran pada 28 Februari, sebelum kemudian AS-Iran menyepakati gencatan senjata yang mulai dijalankan 8 April lalu. Serangan tersebut juga dilakukan di tengah negosiasi terkait nuklir di Swiss yang sudah hampir mencapai kesepakatan.
Serangan terbaru ke sisi selatan Iran itu kemungkinan besar bakal mengancam proses negosiasi damai yang sedang berlangsung di Doha, Qatar. Mengutip Al Jazeera, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim, serangan tersebut untuk membela diri dengan tujuan melindungi pasukan AS dari ancaman Iran.
“Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau,” kata Juru Bicara CENTCOM Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins pada Senin malam (25/5) waktu setempat.
Teheran mengakui adanya ledakan di Bandar Abbas, kota di bagian selatan wilayah mereka, dekat Selat Hormuz. Namun, kepada Al Jazeera, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menyebut, pihaknya berhasil menembak jatuh Reaper drone atau pesawat nirawak tempur dan pengintai. Namun, tak dijelaskan secara pasti di mana lokasinya.
Dari Washington DC, Alan Fisher, jurnalis Al Jazeera, mengatakan, insiden-insiden kecil serupa pernah terjadi di awal gencatan senjata. “Tapi, waktu itu (Presiden AS) Donald Trump tak menganggapnya sebagai pelanggaran gencatan,” katanya.
Mengenai skala serangan kali ini, tak banyak informasi yang disampaikan Gedung Putih maupun Pentagon. Tidak ada rincian, misalnya, tentang jumlah korban atau berapa banyak peluncur rudal dan kapal yang diserang.
IRGC sebelumnya menargetkan sebuah kapal di Selat Hormuz sebelum serangan AS terjadi. Namun, tidak ada keterangan resmi mengenai kapal apa dan siapa yang dimaksud.
Yang jelas, ketika AS menyerang, delegasi Iran yang di antaranya berisi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, dilaporkan sudah berada di Doha, Qatar. Presiden Amerika Donald Trump sebelumnya menyebut, kesepakatan dengan Iran harus mencakup penyerahan stok uranium.
“Tidak akan ada kesepakatan kecuali syarat itu dipenuhi,” ujar Trump seperti dikutip dari Middle East Eye kemarin (26/5).
Namun, serangan terbaru tersebut justru berpotensi memperburuk situasi. Apalagi, Iran juga menegaskan, tidak akan ada tekanan yang membuat mereka takut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan, pembicaraan dengan AS saat ini masih berfokus pada penghentian perang. Namun, Baghaei juga menegaskan, tak ada jaminan bahwa Washington DC akan mematuhi komitmen yang dirumuskan dalam kesepakatan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio mengatakan, proses negosiasi kemungkinan membutuhkan waktu beberapa hari lagi. Sebab, kedua pihak masih membahas detail bahasa dalam dokumen awal kesepakatan.
“Ada banyak pembicaraan bolak-balik mengenai bahasa spesifik dalam dokumen awal,” kata Rubio.
Peringatan Keras
Ketegangan juga meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan peringatan keras kepada AS. Dikutip dari The Guardian, Khamenei mengatakan, Negeri Paman Sam itu tidak lagi memiliki tempat aman di kawasan Timur Tengah.
“Kekuatan-kekuatan di Teluk Persia tidak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan-pangkalan AS dan AS tidak akan lagi memiliki tempat berlindung yang aman di kawasan tersebut,” tulis Mojtaba melalui saluran Telegram-nya.
Mojtaba juga menyebut, Israel sebagai kanker yang berbahaya dan mematikan bagi kawasan. “Israel harus dihancurkan dan memang akan hancur,” kata penerus kedudukan sang ayah, Ayatullah Ali Khamenei itu.
Sementara itu, Middle East Eye melansir, sejumlah analis menilai Iran justru berhasil mempertahankan pengaruh strategisnya di kawasan meski terus mendapat tekanan militer dari Amerika dan Israel. Hassan Ahmadian, salah seorang analis, menyebut, Teheran masih memegang kartu penting, terutama kendali de facto atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Media tersebut juga menilai, perang berkepanjangan justru memperlihatkan kegagalan AS mempertahankan dominasinya di Timur Tengah. Iran dinilai tetap mampu menjadi penyeimbang kekuatan regional melalui kemampuan drone, rudal, hingga pengaruh politiknya di kawasan. (lyn/ttg/Jawa Pos)