Tag: pedagang

  • Pedagang di Terminal Cicaheum Kota Bandung Minta BRT Dikaji Ulang

    Pedagang di Terminal Cicaheum Kota Bandung Minta BRT Dikaji Ulang

    POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Rencana perpindahan aktivitas Terminal Cicaheum ke Terminal Leuwipanjang kembali menuai penolakan dari para pedagang dan warga terminal yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan Terminal Cicaheum.  Mereka meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan proyek Bus Rapid Transit (BRT) karena dinilai mengancam mata pencaharian masyarakat kecil.

    Perwakilan warga terminal dan pedagang Terminal Cicaheum, Ronny mengatakan sebagian besar pedagang hingga pekerja informal di sekitar terminal belum siap menghadapi penutupan aktivitas terminal. Kompensasi maupun solusi pengganti yang dijanjikan pemerintah hingga kini belum memberikan kepastian yang jelas.

    “Kami hanya meminta jangan ditutup dulu sebelum ada kejelasan. Karena kehidupan kami memang dari jualan di sini. Kalau langsung dipindahkan atau ditutup, kami harus makan dari mana,” ujar Ronny saat ditemui di Terminal Cicaheum, Senin (1/6/2026).

    Ronny mengungkapkan aspirasi tersebut sebelumnya sudah disampaikan kepada pihak Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan, hingga pengelola proyek BRT saat sosialisasi berlangsung di kawasan terminal. Dalam pertemuan itu, para pedagang meminta pemerintah mempertimbangkan ulang dampak sosial yang muncul akibat relokasi terminal.

    Menurut Ronny, yang terdampak bukan hanya pedagang kios resmi, tetapi juga pedagang asongan, tukang cuci kendaraan, buruh jasa angkut, hingga warga yang tinggal di sekitar terminal. Sebagian bahkan menjadikan lapak jualan sebagai tempat tinggal bersama keluarga mereka.

    “Kami ini bukan hanya jualan, ada yang tidur di sini, anak-anaknya tinggal di sini juga. Jadi kalau dipindah mendadak, kami bingung harus bagaimana,” katanya. (dsn)

  • Pedagang Oleh-oleh di Jalur Cileunyi – Nagreg Sepi Pembeli, Banting Stir Jual Jas Hujan Hingga Bensin

    Pedagang Oleh-oleh di Jalur Cileunyi – Nagreg Sepi Pembeli, Banting Stir Jual Jas Hujan Hingga Bensin

    POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Suasana berbeda terlihat di sepanjang jalur mudik Cileunyi hingga Nagreg pada musim Lebaran tahun ini. Deretan kios oleh-oleh yang biasanya ramai diserbu pemudik, kini tampak lengang. Sejumlah pedagang mengaku penjualan turun drastis dibandingkan dua tahun sebelumnya.

    Pedagang Oleh-oleh di Jalur Cileunyi – Nagreg Sepi Pembeli, Banting Stir Jual Jas Hujan Hingga Bensin
    Toko panganan oleh-oleh di Jalur Cileunyi – Nagreg sepi pengunjung, Jumat (20/3/2026) Foto-foto :AGUNG EKO SUTRISNO/ POJOK BANDUNG

    Salah seorang pedagang, Heru (45), mengatakan kondisi ini mulai terasa sejak awal pekan arus mudik. Jika sebelumnya pembeli bisa datang silih berganti, kini banyak kendaraan hanya melintas tanpa berhenti.

    “Biasanya H-3 sampai H-1 itu ramai, orang beli makanan atau oleh-oleh buat keluarga di kampung. Sekarang mah sepi, paling yang berhenti cuma beberapa saja,” ujarnya saat ditemui di kiosnya, Jumat (20/3/2026).

    Menurut Heru, penurunan jumlah pembeli berdampak langsung pada pendapatan harian. Ia menyebut omzet tahun ini turun hingga lebih dari separuh dibandingkan musim mudik dua tahun lalu.

    Kondisi serupa dirasakan pedagang lainnya, Sita (38). Ia mengaku harus memutar otak agar tetap bisa bertahan, terutama untuk menutup biaya operasional dan membayar pegawai.

    “Kalau cuma mengandalkan jualan makanan, nggak nutup. Sekarang terpaksa jual bensin eceran sama buka parkir buat pemudik yang mau istirahat,” katanya.

    Di beberapa titik jalur tersebut, memang terlihat pedagang mulai menambah layanan. Selain menjual makanan ringan dan oleh-oleh khas, mereka menyediakan bensin eceran dalam botol serta membuka lahan parkir sederhana di depan kios.

    Langkah ini dilakukan sebagai strategi bertahan di tengah perubahan pola mudik. Banyak pemudik kini memilih perjalanan lebih cepat tanpa banyak berhenti, atau sudah menyiapkan kebutuhan sejak dari kota asal.

    Selain itu, faktor efisiensi pengeluaran juga diduga memengaruhi daya beli pemudik. Beberapa pengendara yang ditemui mengaku lebih fokus pada biaya perjalanan dibandingkan membeli oleh-oleh di jalan.

    “Sekarang lebih hemat, beli secukupnya saja. Takut biaya membengkak di jalan,” ujar Rudi (29), pemudik asal Bandung yang hendak menuju Jawa Tengah.

    Meski demikian, para pedagang tetap berharap situasi dapat membaik hingga puncak arus mudik dan arus balik nanti. Mereka menggantungkan harapan pada pemudik yang mungkin masih akan berhenti di perjalanan pulang.

    “Harapan masih ada di arus balik. Biasanya orang lebih santai, mungkin bisa mampir,” kata Heru.

    Di tengah sepinya pembeli, para pedagang di jalur Cileunyi – Nagreg hanya bisa bertahan dengan berbagai cara, menjaga usaha tetap hidup di tengah arus mudik yang terus berubah dari tahun ke tahun. (kus)

     

  • Tanggapi Aksi Unjuk Rasa Pedagang, Bupati Subang Reynaldy: Jangan Mau Terprovokasi, Mau Dihasut, Mau Diadu Dombakan

    Tanggapi Aksi Unjuk Rasa Pedagang, Bupati Subang Reynaldy: Jangan Mau Terprovokasi, Mau Dihasut, Mau Diadu Dombakan

    POJOKBANDUNG.COM, SUBANG – Ratusan pedagang terdampak penggusuran di Jalancagak Subang berunjukrasa di bundaran Tugu Nanas, Selasa (10/6/2025).

    Tanggapi Aksi Unjuk Rasa Pedagang, Bupati Subang Reynaldy: Jangan Mau Terprovokasi, Mau Dihasut, Mau Diadu Dombakan

    Ilustrasi demo. Foto : Dokumentasi Jawapos.com. Sementara foto atas, aksi unjuk rasa pedagang terdampak penggusuran di Jalancagak Subang, dipaustakan di bundaran Tugu Nanas, Selasa (10/6/2025).

    Para pedagang terdampak penggusuran di Jalancagak Subang ini menagih janji Pemprov Jabar dan pemerintah daerah yang belum juga menyiapkan lahan relokasi.

    Sejak lapaknya dibongkar, pedagang terdampak penggusuran di Jalancagak Subang mengaku tak punya kini tak punya penghasilan hampir 1 bulan.

    Ketua Paguyuban Pedagang Nanas (Papanas), Muhammad Husni, menegaskan bahwa tujuan aksi adalah untuk menagih janji yang dua minggu lalu disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

    Merespons aksi ini, disebutkan perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah meminta perwakilan pedagang untuk datang langsung ke Gedung Sate, Bandung.

    Rencananya, sebanyak 100 orang dari paguyuban pedagang hari ini juga akan diberangkatkan untuk menyampaikan langsung aspirasi mereka kepada Dedi Mulyadi ke gedung Sate.

    Menanggapi itu, Bupati Kabupaten Subang, Reynaldi Putra Andita melalui akun resminya di Instagram mengatakan sangat menyayangkan dengan adanya aksi tersebut.

    “Untuk para pedagang di Jalancagak yang saya dengar hari ini melakukan unjuk rasa ke Kantor Pak Gubernur, Saya sangat menyayangkan dan ingin mencoba memberikan pandangan dan berharap para pedagang ini jangan mau Terprovokasi, mau di hasut, mau diadu dombakan dengan Pemerintah Daerah oleh oknum-oknum tertentu,” ujarnya.

    Ia juga menghimbau kepada para pedagang agar jangan mau di politisasi.

    “Kenapa saya bilang jangan mau di politisasi, karena bisa kita lihat dari izin yang mereka sampaikan ingin mendemo, itu kordinatornya sama sekali orang -orangnya tidak ada yang pedagang disitu, mungkin juga kordinatornya tidak tau permasalahan intinya disitu seperti apa, kita sama -sama lihat dalam surat demo kordinatornya bukan dari pedagang disitu asli, ada dari oknum ormas dan LSM, kita bisa sama sama menilai itu,” imbuhnya.

    “Saya berharap para pedagang tidak terprovokasi.Intinya sabar, uang dagangan sudah kita ganti, sekarang tinggal uang duduk dua bulan. Jujur, uang duduk dua bulan itu akan kita berikan di minggu-minggu ini rencananya, tapi begitu ada kejadian ini, ternyata ko pedagang mau di hasut dan di provokasi, maka saya dan pak gubernur akan menunggu
    akan seperti apa, ” sambung Rey.

    Pada prinsipnya Bupati Subang dan Gubernur Jabar akan mengurus dan menyayangi serta menempatkan juga memberikan hak-haknyan itu kepada masyarakat yang mau diurus.

    “Jadi kalau pedagangnya tidak mau di urus, tidak mau ditata, tidak mau berkalaborasi dengan pemerintah daerah, ya silahkan nanti uang ganti rugi, penempatan lagi berdagangnya, mintanya ke koordinator-koordintor yang mengajak para pedagang pergi ke gedung sate har ini, karena kami akan mengurus dan memberikan pelayanan kepada masyarakat pedagang -pedagang khususnya yang mau diurus,” ungkapnya.

    Jujur, pemerintah itu tidak ada kewajiban untuk memborong dagangannya, untuk memberikan uang tunggunya, untuk menempatkannya.

    “Jadi, kalau kita disebut tidak sayang kepada masyarakat, harus seperti apalagi kita, saya hanya meminta masyarakat untuk sabar dan jangan mau terprovokasi, ” pungkasnya. (anr)

     

  • Pemkab Subang Tunaikan Janji, Pemilik Kios Terdampak Penertiban Dapat Ganti Rugi, Asda : Besarannya Variatif

    Pemkab Subang Tunaikan Janji, Pemilik Kios Terdampak Penertiban Dapat Ganti Rugi, Asda : Besarannya Variatif

    POJOKBANDUNG.COM, SUBANG –Para pedagang yang digusur di Jalur Provinsi Subang selatan, tepatnya di Jalan Raya Jalancagak pada Senin (26/5/2025) lalu akhirnya mendapat ganti rugi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Subang.

    Pemkab Subang Tunaikan Janji, Pemilik Kios Terdampak Penertiban Dapat Ganti Rugi, Asda : Besarannya Variatif
    Penyaluran dana konpensasi kepada para pedagang terdampak penertiban di wilayah jalancagak Subang. Foto -foto:M.Anwar/Pojok Bandung

    Proses penyaluran ganti rugi atau konpensasi ini berlangsung di Aula Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang pada Sabtu (31/5/2025).

    “Alhamdulillah, sesuai komitmen Pak Bupati, Pak Reynaldy dan dan Pak Gubernur, hari ini para pedagang di Jalancagak Subang yang terdampak penertiban pada hari Senin kemarin sudah ada yang mendapat konpensasi. Konpensasi ini untuk ganti rugi barang dagangannya. Untuk besaran nilainya varitif,” ujar Asda l Rahmat Efendi di sela kegiatan itu.

    “Nah, untuk dana kerohiman biaya hidup satu dua bulan ke depan, saat ini masih tahap pendataan.Yang pasti secepatnya akan segara salurkan sesui komitmen Pemkab Subang dan Pemprov Jabar, ” tambah Rahmat Efendi

    Semenatara itu Kepala Desa Jalancagak Indra Zainal Alim, menjelaskan bahwa pencairan ganti rugi ini akan dilakukan secara bertahap.

    “Untuk hari ini, sedikitnya ada 150 pedagang yang mendapat ganti rugi barang dagangannya, dari desa Binihayu, Desa Tambakan Desa Jalancagak. Ini adalah tahap awal, selanjutnya akan disalurkan juga dana untuk biaya hidup selama 2 bulan bagi para padagang terdampak, ” ujar Indra.

    Salah seorang pedagang durian, Tria, menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Barat dan Bupati Subang yang telah menepati janjinya.

    “Haturnuhun Pa Gubernur, Pa Bupati, Alhamdulillah, uang ganti ruginya sudah diterima. Uangnya Rp 4 juta, ” ucap Tria seraya menujukan uang pecahan lima puluh ribuan. (anr)