Tag: itb

  • BTN Dukung Akulturasa ITB, Industri Kuliner Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

    BTN Dukung Akulturasa ITB, Industri Kuliner Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

    POJOKBANDUNG.COM, BANDUNG- Industri kuliner tidak lagi sekadar urusan makanan dan minuman. Namun, menyimpan potensi besar untuk menggerakkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, hingga melahirkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.

    Makanya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendukung festival Akulturasa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang akan digelar di kawasan Kampus Kampus ITB, Jalan Ganesha, pada 20-21 Juni 2026. Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Barat Asvianti Handaru W menuturkan, Akulturasa ITB menjadi ruang penting yang sejalan dengan komitmen BTN dalam mendukung ekosistem pertumbuhan ekonomi kreatif dan industri pangan nasional. Festival ini mempertemukan akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif.

    Asvianti menilai, investasi terbaik bukan hanya pada proyek yang menghasilkan keuntungan finansial semata. Tapi juga kegiatan yang mampu menciptakan dampak ekonomi dan sosial jangka panjang.

    “Dalam satu ekosistem kolaboratif ini dapat memperkuat jejaring, membuka peluang usaha, dan mendorong pertumbuhan ekonomi sektor kuliner,” kata Asvianti usai acara pengenalan Akulturasa di International Relation Office (IRO) ITB, Selasa (2/6).

    Industri kuliner merupakan salah satu sektor yang memiliki daya tahan kuat. Sekaligus kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sektor tersebut juga menjadi ruang tumbuh bagi jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.

    “Industri makanan dan minuman memiliki efek berganda yang sangat besar. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, sektor ini juga menciptakan lapangan kerja dan membuka peluang usaha bagi banyak masyarakat,” terangnya.

    Karena itu, BTN terus memperkuat dukungannya terhadap pelaku UMKM. Baik melalui program pembiayaan, pendampingan usaha, serta pemanfaatan teknologi digital. Sehingga pelaku usaha dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pasar mereka.

    Transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha. Termasuk di sektor kuliner. Karena mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memberikan pengalaman transaksi yang lebih baik bagi konsumen.

    “Bank tidak hanya hadir sebagai penyedia pembiayaan. Kami juga ingin membantu UMKM naik kelas melalui pendampingan dan digitalisasi agar bisnis mereka semakin kuat dan berkelanjutan,” jelas Asvianti.

    Makanya, selama penyelenggaraan Akulturasa ITB, BTN juga mendorong penggunaan transaksi digital oleh pengunjung maupun tenant. Selain memberikan kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi, langkah tersebut diharapkan dapat memperluas literasi keuangan digital di tengah masyarakat.

    Mengingat, teknologi finansial memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan bisnis kuliner. Sistem pembayaran yang praktis dan aman memungkinkan pelaku usaha lebih fokus mengembangkan produk serta meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.

    Di sisi lain, BTN mengapresiasi kolaborasi yang terbangun antara dunia pendidikan dan industri melalui Akulturasa ITB. Perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai pusat inovasi yang dapat menjawab berbagai tantangan masa depan. Termasuk isu ketahanan pangan dan perubahan perilaku konsumen.

    “Akulturasa ITB diharapkan dapat menjadi momentum untuk inovasi, keberlanjutan, pengembangan talenta muda, serta praktik bisnis pangan yang bertanggung jawab terhadap ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa festival tersebut lahir dari keinginan kampus untuk menghadirkan berbagai hasil riset dosen dan mahasiswa kepada masyarakat luas.

    Menurut Rikrik, selama ini banyak inovasi yang dihasilkan sivitas akademika ITB. Namun belum memiliki ruang yang cukup untuk diperkenalkan secara luas. Karena itu, Akulturasa hadir sebagai wadah yang menjembatani dunia akademik dengan masyarakat.

    “Makanya saya lapor ke Rektor, dan disambut baik. Ini sangat inspiratif sehingga dibuatkan acara yang lebih besar di bawah payung Akulturasa. Ada kultur dan rasa, pertemuan sains, teknologi, seni dan budaya yang digabungkan,” ujar Rikrik.

    Dia menjelaskan, sedikitnya empat fakultas terlibat dalam penyelenggaraan festival tersebut. Yakni Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Teknologi Industri Kesehatan, Sekolah Farmasi, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).

    Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat akan diperlihatkan berbagai inovasi pangan hasil penelitian dosen dan mahasiswa. Salah satunya, produk pangan fermentasi yang dikembangkan dari bahan baku lokal seperti umbi-umbian dan rempah-rempah.

    “Jadi lewat festival ini kami harapkan dapat mengundang sivitas ITB maupun masyarakat datang ke ITB untuk melihat berbagai fenomena makanan yang diolah sedemikian rupa. Dari hasil lokal, teknologi lokal, olahan lokal, lalu bagaimana kemudian masyarakat bisa memanfaatkan apa yang sudah diperbuat oleh ITB,” paparnya.

    Rikrik menilai, keberadaan festival tersebut juga disambut antusias oleh dosen dan mahasiswa. Sebab, inovasi yang selama ini dikembangkan di laboratorium dan ruang kelas dapat langsung diperkenalkan kepada masyarakat. Serta berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

    “Nanti saya harapkan banyak ide-ide muncul dari UKM kita, dari masyarakat, dari adik-adik, dari pedagang dan sebagainya. Semoga apa yang sudah dimiliki oleh ITB ini bisa berdampak pada peningkatan keekonomian kita,” harapnya.

    Akulturasa ITB terbuka bagi masyarakat umum. Selain menjadi ajang edukasi dan pameran inovasi pangan, festival tersebut juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pangan nasional yang inovatif dan berkelanjutan.

  • ITB dan TBM Insan Motekar Luncurkan Studio JM TV, Dorong Literasi Digital dan Kewirausahaan Masyarakat

    ITB dan TBM Insan Motekar Luncurkan Studio JM TV, Dorong Literasi Digital dan Kewirausahaan Masyarakat

    POJOKBANDUNG.COM, SUMEDANG– Tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Insan Motekar, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Insan Motekar, dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Jatinunggal menggelar pelatihan sekaligus launching Studio Jatinunggal Motekar TV (JM TV), Jumat–Sabtu (8–9/5/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Aula PKBM Insan Motekar, Desa Sarimekar, Kecamatan Jatinunggal tersebut mengusung tema “Optimalisasi Peran Taman Bacaan Masyarakat dalam Membudayakan Literasi Kewirausahaan Masyarakat Berbasis Digital”.

    Tema tersebut dinilai strategis dalam memperkuat fungsi TBM sebagai pusat literasi, edukasi, informasi, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat berbasis digital.

    Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Persandian dan Statistik Kabupaten Sumedang Drs. H. Sonson Mukhamad Nurikhsan, M.Si., Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sumedang Khaidir Gumilar, S.STP., Camat Jatinunggal Nurhayat, S.STP., Ketua KIM Jatinunggal Dedi Asmara, Kepala PKBM Insan Motekar Abdul Hamid, S.Pd., M.M., serta Ketua TBM Insan Motekar Cucu Warlina, S.Sos.

    Dalam sambutannya, Kadiskominfosanditik Sumedang Sonson Mukhamad Nurikhsan mengapresiasi kolaborasi yang dibangun antara tim PM ITB, TBM dan PKBM Insan Motekar, serta KIM Jatinunggal dalam menghadirkan studio JM TV dan pelatihan literasi digital tersebut.

    Menurutnya, literasi kewirausahaan dan digital menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.

    “Media digital harus dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran informasi yang edukatif, membangun, dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat,” ujarnya.

    Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB, Dr. Ir. Siti Herni Rochana, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mendorong masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi digital secara produktif.

    Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengelola informasi, membuat konten positif, serta memanfaatkan media digital untuk mendukung promosi usaha dan potensi lokal.

    “Kami berharap gerakan literasi kewirausahaan berbasis digital ini dapat berkembang secara berkelanjutan di masyarakat,” katanya.

    Sementara itu, Ketua TBM Insan Motekar, Cucu Warlina, menyebut TBM memiliki peran strategis dalam membangun budaya literasi masyarakat.

    “TBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang belajar, pusat informasi, dan wadah penguatan keterampilan masyarakat, termasuk dalam bidang kewirausahaan digital,” ucapnya.

    Launching Studio Jatinunggal Motekar TV menjadi agenda utama dalam kegiatan tersebut. Kehadiran studio itu diharapkan mampu menjadi media informasi masyarakat yang menampilkan berbagai kegiatan positif di Kecamatan Jatinunggal.

    Studio JM TV juga akan dimanfaatkan sebagai sarana publikasi potensi desa, produk UMKM, kegiatan pendidikan, budaya lokal, aktivitas sosial, hingga program pemberdayaan masyarakat.

    Melalui JM TV, masyarakat didorong tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen konten digital yang kreatif, edukatif, dan bertanggung jawab.

    Studio tersebut nantinya akan dikelola secara kolaboratif oleh TBM Insan Motekar, PKBM Insan Motekar, dan KIM Jatinunggal.

    Selain launching studio, kegiatan juga diisi dengan pelatihan literasi kewirausahaan berbasis digital. Peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan teknologi digital untuk promosi usaha, penguatan jejaring pemasaran, pengelolaan informasi, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital.

    Kegiatan selama dua hari itu mendapat respons positif dari peserta. Mereka menilai pelatihan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pentingnya literasi digital dan kewirausahaan dalam kehidupan masyarakat.

    Kolaborasi antara masyarakat, komunitas literasi, lembaga pendidikan nonformal, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi itu diharapkan mampu memperkuat Kecamatan Jatinunggal sebagai wilayah yang aktif membangun budaya literasi, kreativitas, kewirausahaan, dan transformasi digital masyarakat. (tha)

  • Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau PLTP, Pakar Geothermal ITB Sebut Emisi Panas Bumi Sepersepuluh Pembangkit Batu Bara

    Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau PLTP, Pakar Geothermal ITB Sebut Emisi Panas Bumi Sepersepuluh Pembangkit Batu Bara

    POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Pengembangan energi panas bumi atau geothermal dinilai tidak hanya bermanfaat positif bagi lingkungan.

    Energi panas bumi atau geothermal juga mampu mendorong perekonomian masyarakat.

    “Pemanfaatan energi panas bumi sangat penting untuk mendukung penurunan emisi karbon dan memenuhi kebutuhan energi nasional,” ujar pakar geothermal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ali Ashat, dikutip Jumat (19/9/2025).

    Ali menekankan bahwa pembangkit geotermal memiliki keunggulan dibanding energi baru terbarukan (EBT) lainnya karena dapat beroperasi penuh 24 jam, layaknya pembangkit batu bara, namun dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah.

    “Geotermal menghasilkan emisi yang sangat kecil. Perbandingannya, jika pembangkit batu bara menghasilkan emisi karbon dioksida hingga 1.000, geotermal hanya sekitar 100 atau bahkan kurang,” jelasnya.

    Tak hanya itu, Ali juga meluruskan berbagai miskonsepsi soal panas bumi, termasuk kekhawatiran terkait dampak lingkungan seperti pencemaran air tanah atau eksploitasi berlebihan.

    “Sumber energi panas bumi berada jauh di bawah permukaan bumi, terpisah dari sistem air tanah yang digunakan masyarakat. Jadi tidak mengganggu kebutuhan air warga. Selain itu, emisinya sangat rendah dibandingkan pembangkit konvensional,” tegasnya.

    Ali mencontohkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang di Jawa Barat, yang telah beroperasi sejak 1983. PLTP ini, menurutnya, menjadi bukti konkret keberhasilan pengembangan energi hijau di Indonesia.

    Sebagai contoh keberhasilan, Ali menilai; kolaborasi antara industri dan masyarakat. “Di Kamojang, masyarakat dan industri telah hidup berdampingan secara harmonis lebih dari 40 tahun,” ujarnya.

    Hal tersebut juga diamini oleh Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Gunung Kamojang, Sudarman. Ia menyebut kehadiran PLTP justru membawa banyak manfaat bagi warga sekitar.

    “Tidak ada dampak negatif. Warga nyaman tinggal di sekitar pembangkit. Kami justru mendapat banyak bantuan, seperti bibit, pupuk, dan alat pengolahan kopi. Saya sendiri bisa memperluas kebun kopi hingga tiga hektare karena dukungan itu,” ungkapnya.

    Sudarman menambahkan, manfaat dari keberadaan PLTP juga dirasakan melalui pembukaan lapangan kerja, program tanggung jawab sosial (CSR), hingga pengembangan ekonomi lokal. Salah satu inovasi warga adalah produk wanakis, olahan kulit kopi yang dikembangkan menjadi teh, tepung, hingga produk kecantikan.

    “Kami bisa berinovasi karena ada dukungan dari pembangkit. Banyak warga yang dulu menganggur, kini punya pekerjaan. Ekonomi masyarakat pun tumbuh,” tutup Sudarman. (jpc)

     

  • Sri Mulyani Tetapkan Efisiensi Jilid II, LPDP Jamin  Pembiayaan Beasiswa dan Riset Tak Terdampak

    Sri Mulyani Tetapkan Efisiensi Jilid II, LPDP Jamin Pembiayaan Beasiswa dan Riset Tak Terdampak

    POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Pemerintah memutuskan untuk melanjutkan kembali kebijakan efisiensi anggaran.

    Meski anggaran belanja kementerian/lembaga dipangkas, dipastikan pembiayaan untuk beasiswa dan riset tak terdampak.

    Setidaknya, ada 15 item anggaran belanja barang dan modal yang dipangkas melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 56 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pelaksanaan Efisiensi Belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

    Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Mohammad Lukmanul Hakim mengungkapkan, kebijakan pemangkasan anggaran belanja kementerian/lembaga ini tidak akan terlalu berpengaruh pada program LPDP.

    Sebab, program LPDP dibiayai melalui dana abadi. Yang mana, anggarannya pun sejak awal sudah dedicated untuk program-program LPDP itu sendiri.

    “Jadi ketika (dana abadi, red) Rp 154 triliun itu kemudian dikelola portofolio investasinya, dia tidak nyebar kemana-mana, dia tidak blended dengan dana yang lainnya,” ujarnya ditemui dalam acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) di ITB Kota Bandung, Sabtu (10/8/2025).

    Sehingga, pengelolaan investasi dana abadi akan kembali lagi ke program masing-masing dari dana abadi.

    Misalnya, dana abadi pendidikan. Hasil investasi yang dikelolah LPDP akan dikembalikan lagi pada program dana abadi pendidikan.

    Demikian juga dengan dana untuk beasiswa dan riset.

    “Sehingga kurang lebihnya ketika ada pemangkasan atau refocusing dari kementerian dan lembaga, itu tidak terlalu berpengaruh sebenarnya kepada LPDP,” ungkapnya.

    “Karena tetap saja LPDP itu mengelola hasil pengembangan secara khusus,” sambungnya.

    Dia pun sempat meluruskan isu terkait pengurangan jumlah kuota.

    Lukman menegaskan, meski ada pengurangan tersebut, anggaran beasiswa ini tidak kemudian dialihkan ke program lainnya.

    Sebab, sejak awal, dana tersebut sudah di-dedicated untuk biasiswa.

    “Kalaupun akhirnya dikurangi saat ini, ya nanti tetap akan ada di rekeningnya LPDP untuk membiayai tahun yang berikutnya,” jelasnya.

    Menurutnya, pengurangan kuota ini berkaitan dengan upaya LPDP menjaga keseimbangan pelaksanaan programnya.

    Tidak melulu semua program digenjot habis-habisan di tahun ini.

    Pihaknya diwajibkan untuk bisa menganalisis kebutuhan yang juga harus mempertimbangkan kebutuhan di tahun-tahun berikutnya.

    Seperti halnya terkait rencana format baru pendaftaran beasiswa LPDP di tahun depan.

    Meski belum final, namun rencananya, pendaftar tak bisa lagi bebas memilih kampus dan jurusan semauanya.

    Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), hingg Kemenko PMK akan menetapkan kampus dan jurusan apa saja yang nantinya dapat dipilih pendaftar.

    Yang jelas, menurut Lukmanul, jurusan pilihan yang tersedia akan diprioritaskan untuk bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM).

    Keputusan ini diambil lantaran pemerintah menginginkan adanya refocusing program biasiswa LPDP pada bidang-bidang prioritas presiden.

    Yakni, yang berkaitan dengan pangan, energi, sains dan teknologi, maritime, dan lainnya.

    Meski begitu, dia menegaskan, bukan berarti jurusan non-stem akan dinihilkan.

    Hanya saja, bagi pendaftar beasiswa dengan pilihan jurusan STEM akan mendapatkan poin lebih dari non-STEM.

    “Yang jelas, baik STEM maupun non-STEM itu tidak lagi menjadi pilihan bebas (jurusan dan kampusnya, red). Tapi nanti akan ada arahan atau pilihan kampus mana dan prodi mana yang bisa dipilih,” tegasnya.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pun sempat membahas format baru tersebut saat memberikan pengantar darlam pembukaan KSTI 2025 hari pertama.

    Dia menyebut pemerintah sudah menetapkan kampus dan jurusan yang dapat dipilih pendaftar beasiswa LPDP.

    “Nanti Pak Brian (Mendiktisaintek Brian Yuliarto, red) dan Pak Pratik (Menko PMK Pratikno, red) yang akan menentukan sekolah mana yang akan menjadi destinasi dan bidangnya apa saja,” ujarnya. (mia/jawa pos)

  • 1.513 Peserta Lolos Jalur Mandiri ITB, Siapkan Bayar Rp 25 Juta plus Iuran

    1.513 Peserta Lolos Jalur Mandiri ITB, Siapkan Bayar Rp 25 Juta plus Iuran

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) mengumumkan hasil kelulusan jalur Seleksi Mandiri, Jumat (28/8/2020). Sebanyak 1.513 dari total 22.750 pendaftar dinyatakan lolos jalur ketiga penyaringan calon mahasiswa baru program sarjana non-subsidi itu.

    Pengumuman tersebut dapat dilihat melalui halaman utama https://usm1.itb.ac.id. “Berdasarkan data dari Direktorat Pendidikan ITB, 1.513 peserta SM-ITB yang diterima di ITB tersebut mewakili 29 provinsi di Indonesia di mana komposisinya 50,2% adalah laki-laki dan 49,8% adalah perempuan,” kata Direktur Pendidikan ITB Arief Hariyanto lewat keterangan tertulis Jumat (28/8/2020).

    Selain itu, distribusi asal daerah pada SM-ITB tahun ini yaitu, 64% dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, 21% dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan 15% dari luar Jawa.

    Perlu diketahui, ITB menerima tiga jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana.

    Ketiga jalur tersebut yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan Seleksi Mandiri ITB (SM-ITB). Masing-masing jalur tersebut memiliki presentasi SNMPTN (35%), SBMPTN (35%), dan SM-ITB (30%).

    Informasi mengenai pelaksanaan pendaftaran ulang bagi calon mahasiswa lulusan SM-ITB 2020 dapat diperoleh di laman https://usm1.itb.ac.id.

    Dari laman resmi penerimaan mahasiswa baru ITB, uang kuliah tunggal per semester bagi mahasiswa yang lolos Seleksi Jalur Mandiri hanya dua pilihan: Rp 25 juta atau Rp 12,5 juta bagi pemohon beasiswa yang bisa diangsur 2-3 kali per semester.

    Selain itu ada kewajiban lain yaitu membayar Iuran Pengembangan Institusi minimal Rp 25 juta. Khusus di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB minimum Rp 40 juta.

    (apt)

  • Masker N-95 Disterilkan Cuman Dua Jam, Ini Alat yang Dikembangkan ITB

    Masker N-95 Disterilkan Cuman Dua Jam, Ini Alat yang Dikembangkan ITB

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tim Laboratorium Energi Terbarukan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan Kabin Sterilisasi untuk masker N-95. Pembuatan alat yang diketuai Dr. Yuli Setyo Indartono ini diharapkan mampu menyeterilkan masker N95 yang telah digunakan oleh tenaga medis.

    Alat tersebut memiliki spesifikasi yaitu menggunakan teknologi ionisasi udara, penurun kelembapan udara, rak sterilisasi masker N-95, dengan dimensi kabin 1x1x2 m3. Selain Dr. Yuli, tim yang intensif terlibat dalam pembuatan Kabin Sterilisasi masker N-95 diantaranya Andhita Mustikaningtyas, ST., Musfirin, ST., MT., (Horizon Teknologi), Mukhlis Ali, ST., M.T., (alumni FTMD ITB yang bekerja di Universitas Nusa Putra) dan Taufik Rahman (mahasiswa bimbingan Mukhlis Ali, ST., MT di Universitas Nusa Putra).

    Dr. Yuli menjelaskan, Kabin Sterilisasi dibuat dengan tujuan untuk penggunaan kembali masker N-95 karena dengan jumlah pasien COVID-19 yang saat ini semakin bertambah, kebutuhan masker N-95 pun semakin meningkat bagi tenaga kesehatan baik di rumah sakit maupun puskesmas. Di sisi lain, ketersediaan masker N95 bagi tenaga kesehatan, semakin sedikit.

    Ia melanjutkan, berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan, sterilisasi masker bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama disimpan di kantong kertas dan dibiarkan selama 3-4 hari dengan prinsip kalau ada virus akan rusak karena tidak ada media untuk berkembang biak.

    Rekomendasi kedua adalah, bisa dipanaskan sampai 70oC di dalam oven, dan ketiga diberi uap panas. Metode yang tidak direkomendasikan untuk sterilisasi masker adalah dengan menggunakan sinar UV karena bisa merusak lapisan masker N-95.

    “Dari berbagai cara tersebut, saya melihat perlu ada metode sterilisasi berbasis pengujian yang bisa menghancurkan bakteri dan virus, namun tidak menimbulkan kerusakan pada masker N95. Maka kami tidak menggunakan sinar UV, dan tidak menggunakan pemanasan karena khawatir menyebabkan penurunan kualitas masker N95,” ujar Dr. Yuli.

    Supaya tidak merusak masker, maka proses sterilisasinya dilakukan di temperatur kamar (tidak dipanaskan).

    “Maka kami menggunakan ionisasi udara. Dari berbagai penelitian ilmiah, ion negatif bisa merusak struktur bakteri dan virus. Kami juga menggunakan _dehumidifier_ untuk menurunkan kelembapan udara. Jika kelembapan udara rendah, maka udara akan menyerap air dari masker. Tidak perlu memanaskan masker,” jelasnya.

    Kabin Sterilisasi tersebut kedap udara. Di dalamnya terdapat tiga komponen utama yaitu alat yang menghasilkan ion udara, kipas/ _fan_ kecil, dan alat untuk menurunkan kelembapan udara. Kabin tersebut juga dipasang timer untuk mengatur waktu sterilisasi.

    Pada spesifikasi alat, selain menghasilkan ion, alat tersebut juga menghasilkan hidrogen peroksida. Proses sterilisasinya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

    Kemampuan alat ini mendekontaminasi bakteri telah diuji di Laboratorium Mikrobiologi di Sekolah Farmasi ITB oleh Prof Marlia Singgih Wibowo, dan juga diuji oleh Prof. Pingkan Aditiawati di SITH ITB.

    Hasil pengujian menunjukkan bahwa kabin ini mampu mendekontaminasi koloni bakteri _Staphylococcus_ aureus dan _E.coli_ pada permukaan kasa sebanyak 90% selama 90 menit.

    Penyerahan Kabin Sterilisasi kepada RSHS Bandung untuk dievaluasi

    Pada Senin, 20 April 2020, Kabin Sterilisasi Masker N-95 buatan Tim Laboratorium Energi Terbarukan, FTMD – ITB diserahkan kepada Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk pengujian lebih lanjut.

    Penyerahan dilakukan di kantor BPUDL-ITB. Pihak RSHS sangat menyambut baik alat Kabin Sterilisasi tersebut. Alat tersebut akan dipasang dan diuji coba secara langsung di RSHS Bandung. Selain RSHS, disampaikan Dr. Yuli, masih ada 8 rumah sakit lain yang juga telah meminta dikirim Kabin Sterilisasi.

    Ia berharap dengan alat tersebut dapat membantu mempercepat proses sterilisasi masker N-95. Selain untuk masker, alat tersebut juga bisa menyeterilkan berbagai APD yang _reusable_. Namun desain saat ini dirancang untuk masker N-95.

    “Mudah-mudahan kabin ini mampu meningkatkan metode sterilisasi masker N95 yang selama ini dilakukan di RS,” ungkapnya.

    (apt)

  • ITB Prediksi Puncak Covid-19 Capai 600 Orang Per Hari, Akhir Maret hingga Pertengahan April

    ITB Prediksi Puncak Covid-19 Capai 600 Orang Per Hari, Akhir Maret hingga Pertengahan April

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) mengkhawatirkan virus Corona akan mengalami puncak jumlah kasus harian 600 orang pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020. Hal tersebut setelah Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) ITB melakukan simulasi dan pemodelan sederhana prediksi penyebaran Corona Virus Desease (COVID-19) di Indonesia.

    Tim peneliti yang melakukan simulasi tersebut dilakukan oleh Dr. Nuning Nuraini S.Si., M.Si., dosen Program Studi Matematika ITB beserta Kamal Khairudin S. dan Dr. Mochamad Apri S.Si, M.Si. Pemodelan tersebut ditulis dengan judul “Data dan Simulasi COVID-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika”.

    “Tentu perlu dicatat, ini adalah hasil pemodelan dengan satu model yang saya rasa ‘cukup sederhana’ dan sama sekali tidak mengikutkan faktor-faktor yang kompleksitasnya tinggi, “ ujar Nuning dalam rilisnya kepada Pojokbandung, Kamis (19/3/2020) .

    Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kasus COVID-19 di Indonesia yang menjadi bagian dari pandemi global dan telah melahirkan berbagai riuh rendah serta kontroversi apakah tindakan yang diambil telah cukup untuk menangkal penyebaran lebih lanjut, ataukah terlampau berlebihan. Kesimpangsiuran informasi tentang hal ini dikhawatirkan mengganggu usaha nyata untuk menanggulangi bencana yang sebenarnya.

    “Dalam penelitian ini, kami berusaha menjawab pertanyaan mendasar tentang epidemi yang sedang terjadi saat ini di Indonesia melalui suatu model matematika sederhana,” ujar Nuning.

    Dalam penelitian yang menjadi jurnal ilmiah tersebut, Nuning dengan tim membangun model representasi jumlah kasus COVID-19 dengan menggunakan model Richard’s Curve karena sesuai dengan kajian Kelompok Pemodelan Tahun 2009 yang dibimbing oleh Prof. Dr. Kuntjoro A. Sidarto.

    Model tersebut terbukti berhasil memprediksi awal, akhir, serta puncak endemi dari penyakit SARS di Hong Kong tahun 2003. Model Richard’s Curve terpilih ini lalu mereka uji pada berbagai data kasus COVID-19 terlapor dari berbagai macam negara, seperti RRT, Iran, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat – termasuk data akumulatif seluruh dunia.

    Ternyata, secara matematik, ditemukan bahwa model Richard’s Curve Korea Selatan adalah yang paling cocok (kesalahannya kecil) untuk disandingkan dengan data kasus terlapor COVID-19 di Indonesia jika dibandingkan dengan model yang dibangun dari data negara lain (kesesuaian ini terjadi saat Indonesia masih memiliki 96 kasus).

    “Jadi, bisa dikatakan, jika kita punya penanganan yang mungkin sama, sesuai dengan publikasi yang ada dengan Korea Selatan, tanpa memasukkan faktor kompleksitas lainnya seperti temperatur lingkungan, kelembaban, dll, seharusnya kita bisa mendapat kesimpulan yang sama persis dengan apa yang ditulis pada publikasi kami,“ terang peneliti yang juga banyak berperan dalam penanganan kasus demam berdarah di Indonesia ini.

    Namun menurut Nuning, hal tersebut bukan merupakan perkara mudah. “Korea Selatan itu ‘kan salah satu dari beberapa negara di dunia yang paling baik penanganan kasus COVID-19-nya. Ini waktu terus berjalan, tentu sulit untuk bisa persis seperti mereka, tetapi, setidaknya, dari tulisan ini kita bisa mengetahui bahwa Indonesia perlu melakukan sesuatu untuk tetap berada dalam tren yang baik,“ tambah Nuning.

    Oleh karena itu, kata Nuning, merujuk pada model yang dibangun (termasuk faktor-faktor yang krusial), perlu dilakukan pencegahan dari meluasnya penyebaran COVID-19. “Tingkat penyebaran yang tinggi akan memberatkan rumah sakit karena tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung pasien COVID-19 sehingga krusial sekali bagi kita untuk menjaga laju penyebaran tetap ada di dalam kontrol kita (jika belum bsia dihilangkan sepenuhnya),“ jelas Nuning.

    Penerapan Kebijakan Social Distancing

    Karena sampai sekarang belum ditemukan vaksin COVID-19, maka bentuk pencegahan dari meluasnya penyebaran virus dapat dilakukan dengan cara memutus rantai penularannya. Salah satu metode untuk memutus rantai penularan tersebut ialah dengan melakukan pembatasan sosial (social distancing). Dengan adanya pembatasan sosial, harapannya, setiap masyarakat tidak akan menjadi penular maupun tertular karena tidak melakukan kontak dengan siapapun sehingga laju penyebaran dapat menurun atau setidaknya terjaga konstan.

    Hasil dari kajian tersebut bagi Nuning ditujukkan untuk memberikan informasi yang benar dan jelas untuk pemberitaan yang simpang siur terkait gambaran dan penanganan yang seharunya dari fenomena pandemik COVID-19 secara eksak di Indonesia.

    “Saya makanya cukup terkejut ketika tulisan saya ini viral dan ramai dibahas oleh netizen Indonesia. Gara-gara keresahan saya ini, publik jadi semakin tahu bahwa matematika juga bisa membantu dan mengambil peran dalam menghadapi kasus pandemi,“ ujar Nuning.

    (apt/Pojokbandung)

  • Hatta Rajasa Terima Gelar Doktor Honoris Causa

    Hatta Rajasa Terima Gelar Doktor Honoris Causa

    POJOKBANDUNG.com,BANDUNG – Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa menerima anugerah gelar doktor kehormatan (doktor honoris causa) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung. Gelar doktor kehormatan diberikan sebagai penghormatan atas prestasi dan capaian yang dicatatkan Hatta dalam kebijakan publik.

    Ketua Tim Promotor, Prof Dr B Kombaitan MSc mengatakan, Hatta Rajasa tampil dalam bidang kebijakan publik di Indonesia dimana kebijakan publik tengah menghadapi tantangan baik dalam aspek praktis maupun keilmuan. Hatta menekankan pentingnya bergerak lebih jauh dari kebijakan ekonomi Keynesian, menuju Beyond Keynesian.

    Selain itu, dengan mengadopsi pemikiran Michael E Porter tentang keunggulan kompetitif, Hatta mendorong peranan negara dalam meningkatkan daya saing dan kemampuan para produsen untuk memproduksi barang-barang yang berdaya saing, sehingga konsumen membeli barang-barang tersebut.

    “Pemikirannya (Hatta) membawa perubahan besar dalam kebijakan ekonomi nasional,” ujar Kombaitan membacakan sambutan pertanggungjawaban akademik saat penganugerahan doktor kehormatan di Aula Barat ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Senin (25/11/2019).

    Dalam orasi ilmiahnya berjudul Kebijakan Publik Unggul: Tantangan Indonesia Kemarin, Kini dan Esok, Hatta Rajasa menawarkan premis, bahwa Kebijakan publik menentukan keberhasilan suatu negara. Dengan kebijakan unggul, pemerintah dapat mengelola negara dengan efektif.

    “Jadi bukan karena pemerintahnya kuat sehingga efektif, namun karena kebijakan publik yang unggul sehingga didukung rakyatnya,” tegas Hatta.

    Mantan Menko Perekonomian 2012 itu juga berbagi kiat ‘menjinakkan’ potensi krisis yang datang dari Eropa dan AS. Hatta membahas juga soal mewujudkan Indonesia Maju 2045. Ia menawarkan lima agenda, yaitu penguatan SDM dan penguasaan iptek, membangun pusat-pusat pertumbuhan baru, penguatan konektivitas dan infrastruktur, transformasi ekonomi ekstraktif menuju value added economy dan entrepeneurial economy.

    “Indonesia memasuki bonus demografi. Ini bisa dimanfaatkan menjadi kekuatan penggerak ekonomi nasional. Tentunya inovasi, kreativitas dan entrepreneurship harus menjadi budaya bangsa, termasuk pembangunan SDM,” tutur Hatta.

    Sementara Rektor ITB, Kadarsyah menekankan, pemikiran Beyond Keynesian Dr (HC) Hatta Rajasa sebagai basis akademik/keilmuan, yang menjadi pijakan dalam perumusan dan implementasi kebijakan publik baik di sektor riset dan teknologi, sektor transportasi dan sektor ekonomi secara keseluruhan.

    “Capaian yang diraih oleh Dr (HC) Hatta Rajasa sebagai seorang alumni ITB, baik di bidang praktik maupun keilmuan kebijakan publik, adalah hal yang layak dibanggakan sekaligus sumber inspirasi bagi peningkatan dan perluasan kontribusi ITB di bidang kebijakan publik,” pungkasnya.

    (arh/bbs)

  • BCA Berikan Kuliah Umum di Institut Teknologi Bandung

    BCA Berikan Kuliah Umum di Institut Teknologi Bandung

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) senantiasa berkomitmen dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Komitmen BCA ini diimplementasikan dengan pembekalan Kuliah Umum kepada para mahasiswa dan mahasiswi Universitas Institut Teknologi Bandung. Menteri Komunikasi dan Informatika RI (Menkominfo) periode 2014 – 2019 Rudiantara hadir sebagai pembicara pada kuliah umum kali ini.

    Turut hadir dalam pembekalan kuliah umum ini Senior Vice President Network Management and Regional Development BCA Setiawan Wijono, Kepala Kantor Cabang Utama BCA Dago Linda Yulia Tanti, Perwakilan ITB Miming Miharja di Bandung, Sabtu (9/11).

    Perkembangan teknologi terus menerus mengalami perubahaan setiap tahunnya baik dari sisi pengguna teknologi maupun penggagas inovasi teknologi. Dalam rangka mempersiapkan para mahasiswa ITB menghadapi perubahan perubahan tersebut, BCA menyelenggarakan kuliah umum bertema Teknologi Digital Masa Kini dan Masa Depan yang dibawakan oleh Menkominfo Rudiantara.

    Pada kesempatan ini, disampaikan kepada para mahasiswa bagaimana teknologi dapat mempermudah hampir seluruh pemenuhan kebutuhan masyarakat di berbagai bidang, seperti transportasi, kuliner, perbelanjaan, pengiriman barang, hingga transaksi perbankan. Untuk itulah, BCA selalu berupaya mengikuti perkembangan teknologi yang diselaraskan dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang. Seperti BCA yang menawarkan beragam solusi tepat melalui aplikasi digital, kemudahan pembukaan rekening secara online melalui BCA mobile dan pembayaran uang kuliah melalui Virtual Account BCA.

    Perkembangan antara teknologi dengan kebutuhan masyarakat berbanding lurus. Dengan adanya perkembangan teknologi yang baru, maka sedikit banyak akan ada perubahan yang terhadap kebutuhan masyarakat. Jika suatu institusi tidak bergerak mengikuti perkembangan yang ada, cukup sulit untuk bertahan dan memenangkan kompetisi,” tutup Setiawan.

    (apt)

  • Perjuangan Para Peneliti ITB Ciptakan Aneka BBM Berbahan Dasar Sawit

    Perjuangan Para Peneliti ITB Ciptakan Aneka BBM Berbahan Dasar Sawit

    Tak Perlu Impor Minyak Mentah Lagi

    Indonesia memproduksi sekitar 46 juta ton sawit setiap tahun. Tapi, baru 25 persen yang terserap untuk berbagai kebutuhan. Karena itu, riset dan pengembangan bahan bakar minyak (BBM) dari sawit terus digalakkan.

    TAUFIQURRAHMANBandung

    BENDA berwarna putih berbentuk bubuk yang bergumpal jadi ulir-ulir kecil ini disebut katalis. Bagi keluarga besar Fakultas Teknologi Industri (FTI), khususnya program studi teknik kimia, gumpalan-gumpalan putih kecil tersebut adalah tiket menuju kemandirian energi Indonesia.

    Sesuai namanya, katalis adalah pemicu alias katalisator untuk berbagai bahan mentah pengumpan yang akan disuling menjadi aneka BBM sesuai kebutuhan.

    Katalis itu adalah buah kerja keras para peneliti kimia ITB sejak 1982 untuk menemukan energi terbarukan menggantikan energi fosil. Mereka menamainya “Katalis Merah Putih”.

    Kini pengembangan katalis difokuskan untuk mengolah beragam jenis minyak olahan sawit menjadi BBM. Upaya itu didukung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi.

    Di salah satu sudut lab kimia, doktor bidang kimia dan peneliti energi terbarukan ITB I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha membuka kaitan sebuah tabung reaktor. Mengungkap sebuah slang kecil yang diapit semacam gabus besar. “Katalis ini diletakkan di sini. Ya, jadi cuma dilewati saja oleh bahan mentahnya,” jelasnya kepada awak media.

    Awalnya, minyak sawit dipompa ke dalam tabung reaksi, bertemu dengan katalis dengan kode BIPN 308-1T. Campuran itu akan memicu reaksi kimia perengkahan (cracking). Output yang dihasilkan adalah biogasoline alias bensin nabati yang memiliki kandungan oktan (research octane number: RON) hingga 110. “Ketika ini dicampurkan bensin kelas premium, derajatnya akan naik menjadi pertamax turbo,” jelas Makertihartha bersemangat.

    Tentu saja tidak ada gunanya menjual bensin dengan RON 110. Selain pasti jauh lebih mahal daripada bensin biasa, sebagian besar mesin kendaraan memang diciptakan untuk memproses kadar oktan paling tinggi 90 hingga 95. Lebih dari itu, mesin akan kehilangan efisiensi bahan bakarnya.

    Syukurlah, kata Makertihartha, biogasoline itu termasuk kategori bahan bakar yang sudah drop in. Alias siap dicampur dengan bahan bakar apa pun. Bahkan dengan minyak konsentrat alias bensin berkualitas rendah. “Mencampurnya tidak perlu tabung reaksi. Campur saja kayak mencampur kopi dan gula,” jelasnya.

    Bahkan, kata Makertihartha, proses dari katalisasi minyak sawit menjadi biogasoline menghasilkan gas yang komponennya sama dengan liquefiedpetroleum gas (LPG). Namun, skala produksi yang ada saat ini masih setingkat pilot project. Dibutuhkan skala produksi yang lebih besar lagi untuk mendapatkan output tekanan gas yang sesuai kebutuhan.

    Meski namanya Katalis Merah Putih, warnanya tak selalu merah dan putih. Ada banyak katalis yang dikembangkan ITB untuk berbagai keperluan. Ada yang hijau sampai cokelat. Bahkan, mereka mengklaim salah satu katalis bisa digunakan untuk memproses minyak mentah (crude oil) menjadi BBM.

    Katalis diproduksi di ruangan khusus di kompleks lab reaksi kimia ITB. Walaupun direndam atau dipasang di aliran bahan bakar pengumpan, bentuk katalis tak akan berubah sehingga bisa digunakan lagi. Hanya, setelah beberapa ratus kali penggunaan, sejumput katalis akan kehilangan daya picu.

    Setelah jadi, katalis dipindahkan ke ruangan lain untuk dimasukkan ke tabung reaktor dan dicampur dengan bahan bakar pengumpan. Output-nya adalah aneka BBM. Salah satu tabung reaktor, kata peneliti lab reaksi kimia ITB Melia Laniwati, diberikan oleh Pertamina sebagai sarana uji katalis dalam memproses minyak mentah (crude oil).

    Katalis yang diciptakan lab reaksi kimia ITB itu, kata Melia, sudah digunakan di beberapa kilang minyak Pertamina. Mulai Refinery Unit (RU) II Dumai, RU IV Balongan, hingga RU V Balikpapan. Laboratorium itu juga berhasil menggunakan katalis dengan kode PIDO 130-1,3T untuk mengonversi minyak sawit (IPO) menjadi diesel nabati melalui proses hidrodeoksigenasi (HDO). Lalu, katalis dengan kode PIDO 130-1,3 T berhasil mengonversi minyak inti sawit (IKO) menjadi bensin pesawat alias avtur.

    Bahkan, bioavtur yang dihasilkan tersebut termasuk yang paling siap untuk tahap komersialisasi. Fadhli, dosen ITB peneliti di lab reaksi kimia, mengungkapkan bahwa bioavtur mereka telah dikembangkan dengan dua proses. Ketika hanya menggunakan HDO, avtur tidak tahan suhu dingin sehingga cepat membeku. “Jadi, titik beku maksimalnya sekitar minus 20 hingga 30 derajat Celsius. Sedangkan standar aviasi harus minimal minus 50 derajat Celsius,” jelasnya.

    Avtur dengan ketahanan beku rendah otomatis tak bisa digunakan pesawat yang terbang tinggi dengan udara tipis dan suhu beku. “Tapi, dengan proses kedua, yakni hidroisomerisasi, ketahanan titik bekunya meningkat ke -70 derajat Celsius,” jelasnya. Uji coba terhadap bioavtur itu sudah berlangsung kurang lebih setahun. Tentu saja, kata Fadhli, uji coba langsung dengan mesin-mesin jet adalah eksperimen yang tidak murah.

    Prof Subagio, ketua tim peneliti, mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia mengimpor 360.000 barel minyak mentah per hari. Atau setara 41 persen kapasitas kilang minyak Pertamina. Juga, 400.000 ribu BBM atau sekitar 30 persen kebutuhan nasional. “Ini menjadi sumber defisit anggaran yang terbesar. Padahal, kita bisa memanfaatkan sawit dan kita adalah penghasil sawit terbesar di dunia,” katanya.

    Output beberapa katalis dan produk BBM memang saat ini masih dalam skala pilot alias eksperimental bersama industri-industri mitra. Namun, jika terus dikembangkan, Katalis Merah Putih bisa jadi solusi energi nasional.

    Subagio mengatakan bahwa saat ini ITB sedang bergerak untuk membangun pabrik katalis melalui dana penguatan inovasi yang diberikan Kemenristekdikti. Dengan kapasitas produksi hingga 3 ton per hari. Bekerja sama dengan PT Pupuk Kujang. Pabrik akan berlokasi di dekat kompleks Pupuk Kujang di Cikampek dan akan menjadi pabrik katalis pertama di Indonesia.

    Subagio enggan menyebut seberapa banyak penghematan atau keuntungan bisnis yang akan didapatkan dengan penggunaan aneka BBM sawit itu. Namun, menurut dia, penggunaan katalis lebih baik daripada terus mengimpor minyak mentah dari luar negeri. “Ini bukan soal harga. Tapi, tidak impor saja sudah sangat bagus,” tegasnya.

  • Kementerian PUPR dan ITB Selenggarakan Kompetisi Konstruksi Ramping

    Kementerian PUPR dan ITB Selenggarakan Kompetisi Konstruksi Ramping

    POJOKBANDUNG.com – Pembangunan Infrastruktur yang tengah dilaksanakan Pemerintah saat ini tidak hanya membutuhkan sumber dana yang besar saja, melainkan juga dukungan teknologi. Terutama untuk memberi solusi pada kurangnya efesiensi penyelenggaraan Konstruksi.

    Hal itu menilik kondisi di lapangan dengan masih ditemuinya perbaikan ulang dan pengerjaan ulang di beberapa proyek konstruksi, yang menyebabkan terbuangnya waktu dan sumber daya secara percuma.

    Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, yang salah satu programnya adalah meningkatkan produktivitas industri konstruksi, menjawab persoalan tersebut melalui sosialisasi prinsip konstruksi ramping atau yang biasa disebut lean construction.

    Menindaklanjuti hal tersebut, Kementerian PUPR bekerjasama dengan Institut Teknlogi Bandung (ITB) menyelenggarakan Kompetisi Konstruksi Ramping Kedua (K2R 2.0) 2017.

    Pada pembukaan acara, Minggu (1/10/2017) di Bandung, Dirjen Bina Konstruksi yang diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Panani Kesai mengatakan bahwa sosialisasi prinsip-prinsip konstruksi ramping dalam penyelenggaraan konstruksi merupakan aktualisasi komitmen Kementerian PUPR untuk meningkatkan mutu konstruksi.

    “Kompetisi ini saya harapkan bisa mendorong kreativitas mahasiswa, untuk nantinya bisa di share-ing kepada Pemerintah sebagai masukan melaksanakan pembangunan infrastruktur yang berkualitas” ujar Panani.

    Selanjutnya Panani menyampaikan bahwasanya peran universitas, salah seperti ITB, sangat penting untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) konstruksi, mengingat gencarnya pembangunan infrastruktur sangat membutuhkan SDM yang kompeten.

    Dalam tingkat global, konstruksi ramping dinilai sangat sistematis untuk dapat mengidentifikasi dan meminimalisir pemborosan biaya melalui perbaikan yang berlanjut. Konstruksi ramping juga dapat memaksimalkan value yang ingin dicapai oleh pengguna akhir.

    Dari segi manfaat, penerapan konstruksi ramping sangat membantu meningkatkan efektifitas dan efesiensi perencanaan dan pelaksanaan proyek konstruksi.

  • Keren! Sarjana ITB Ini Menjadi Doktor Termuda Se-Indonesia

    Keren! Sarjana ITB Ini Menjadi Doktor Termuda Se-Indonesia

    POJOKBANDUNG.com – Grandprix Thomryes Marth Kadja, mahasiswa S3 Kimia ITB resmi meraih gelar doktor dari ITB. Hebatnya, Grandprix tercatat sebagai sarjana dengan gelar doktor termuda. Gelar itu diraihnya pada usia 24 tahun.

    Grandprix yang menjalani sidang doktor tertutup pada 6 September 2017 itu mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Prestasinya ini tercatat memecahkan rekor MURI sebagai pemegang gelar doktor termuda di Indonesia.

    Grandprix kemudian mengikuti sidang terbuka Jumat (22/09/2017). Ia lulus dengan predikat cum laude.

    Baca Juga

    Keren, Perempuan Semampai Asal Indonesia Ini Jadi Model di Paris Fashion Week 2017

    Keren! Baru 19 Tahun Gadis Ini Sudah Jadi Sarjana Kedokteran

    Berdasarkan siaran pers dari ITB, pria kelahiran Kupang ini merupakan lulusan S1 Kimia Universitas Indonesia dan melanjutkan S2 pada program studi yang sama di ITB.

    Sebelum ke bangku kuliah, Grandprix bercerita bahwa ia masuk SD pada umur 5 tahun dan lanjut ke kelas akselerasi di SMA sehingga usianya pada waktu masuk kuliah S1 adalah 16 tahun.

    Lulus S1 di umur 19 tahun, ia melanjutkan S2-nya dengan beasiswa Pendidikan Magister menuju doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemenristekdikti.

    Selama studi S3 di ITB, waktu yang ada digunakan untuk melakukan penelitian secara penuh. Untuk disertasinya sendiri Grandprix menjelaskan bahwa ia mengangkat topik tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5.

    Dibimbing Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya, Grandprix menjelaskan bahwa secara garis besar penelitiannya tersebut berfokus pada material yang banyak dipakai di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa.

  • Keren! Alat Pendeteksi Stres Karya ITB Juara di Kancah Asia

    Keren! Alat Pendeteksi Stres Karya ITB Juara di Kancah Asia

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG- Lagi-lagi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menorehkan prestasi di Asia.

    Kali ini ITB menyabet Juara Grand Prize dalam ajang kompetisi bergengsi, The Fifth International Student Joint Capstone Design Project (i-CAPS) Competition di Chonbuk National University, Jeonju, Korea Selatan, pada 24 Agustus 2017 lalu.

    BACA JUGA:

    Intip Kecanggihan Robot Pandai Menari Buatan Mahasiswa ITB

    Izzanardi, Baru 14 Tahun Sudah Masuk ITB

    Salah seorang anggota tim, Arlene Dupe mengungkapkan, kompetisi merupakan perpaduan antara mahasiswa dari negara Indonesia, yakni ITB dengan mahasiswa dari Chonbuk National University.

    Ada sekitar 20 tim yang berlaga dalam kompetisi ini. Tak hanya Indonesia, tim lainnya berasal dari Malaysia, Singapura, Cina dan Taiwan.

    Dalam kompetisi bergengsi itu, ia dan dua anggota tim dari ITB, Iffah Faizah dan Ichwaldo H.S, berhasil menarik perhatian dewan juri dengan alat yang dinamai Relax Me.

    Dokumentasi ITB

    Arlene menuturkan sistem yang terbagi menjadi dua perangkat ini, terdiri dari satu perangkat pendeteksi stres dan satu perangkat lainnya merupakan alat treatment.

    Untuk perangkat pendeteksi stres terdapat 3 sensor utama, yang bentuknya menyerupai case handphone. Dalam perangkat tersebut, terdapat sensor detak jantung, temperatur kulit, hingga pendeteksi temperatur pori-pori.

    Sedangkan untuk perangkat kedua, berisi empat macam treatment yang berfungsi mengurangi tingkat stres seseorang.

    “Alat semacam ini cukup kompleks komponennya. Untuk alat pendeteksi stres, memang pernah ada yang buat. Akan tetapi sepengetahuan kami, belum ada alat yang mampu mendeteksi sekaligus memberikan treatment terhadap hasil deteksi tersebut,” terangnya.

  • Intip Kecanggihan Robot Pandai Menari Buatan Mahasiswa ITB

    Intip Kecanggihan Robot Pandai Menari Buatan Mahasiswa ITB

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Jika umumnya robot dibuat untuk melakukan sebuah pekerjaan atau membantu manusia dalam melakukan sesuatu, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dari tim Dago Concordia membuat sesuatu yang berbeda.

    Tim yang beranggotakan Adi Sutowijoyo, Megah Derlian S, Hasna Shalihah, Fathur Ichwanuttaqwa, Farida Sunar Primastuti, Dzar Bela H, Furqon Aji Y, Chessa Nur, Bernard Renardi, Khayima Arnisti, Kavita Nur F, Yunisa Rahmah, Anggi Jasmine dan Muhammad Daud membuat robot menari.

    Ketua Lembaga Kemahasiswaan (LK) ITB, Eng Sandro Mihradi menuturkan, robot tersebut pernah diikutsertakan dalam Kompetisi Robot Indonesia (KRI) 2017.

    Baca Juga:

    Hebat! Robot Pembantu Petani Buatan SMKN 2 Cimahi Juara di Jepang

    Dunia Bakal Dikuasai Mesin, Namun Riset Robot Indonesia Minim

    “Ini adala robot pertama yang dibuat oleh tim Dago Concordia,” jelasnya melalui pesan singkat, Kamis (14/9/2017).

    Ia menuturkan, pada Kompetisi Robot Indonesia 2017 itu pihaknya pengembangan robot tari yang dimulai dari nol.

    “Tema KRI 2017 untuk kategori Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) yakni tarian Gending Sriwijaya. Gerakan tari tersebut cukup kompleks, sehingga kami cukup kesulitan dalam pengaturan gerakan robotnya agar bisa lebih sesuai,” bebernya.

    Robot yang termasuk dalam jenis robot Humanoid (menyerupai manusia) ini memiliki keunikan, khususnya dalam tingkat derajat kebebasan gerakan.

    Menurutnya, jika umumnya robot humanoid memiliki derajat kebebasan sebanyak kurang lebih 20 namun, pada robot tari ini derajat kebebasannya bisa mencapai 26 gerakan.

    Baca Juga: Pertarungan Robot Tingkat Nasional di UPI Bandung, Ini Hasil Lengkapnya

    Robot yang dinamai Masayu dan Nimas ini pun memiliki sensor suara yang cukup sensitif. Sehingga ketika panitia menyetel musik, maka kedua robot berwajah ayu itu langsung melakukan gerakan khas Gending Sriwijaya.

    “Untuk penilaian kompetisinya, robot harus secara otomatis bergerak saat diperdengarkan musik. Dan berhenti saat musik dimatikan. Penilaian lainnya, yakni soal sinkronisasi gerakan robot dan musik khas tari Gending Sriwijaya,” katanya.

    “Robot juga harus mampu melakukan gerakan tertentu di area yang ditentukan panitia,” tambahnya.

    (nda)

  • Cari Dosen ITB, Polrestabes Bandung Kerja Sama Dengan Polres Cianjur

    Cari Dosen ITB, Polrestabes Bandung Kerja Sama Dengan Polres Cianjur

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pencarian dosen Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Suryo Utomo, terus dilakukan. Pencarian melibatkan Polrestabes Bandung dan Polres Cianjur.

    Kabag Humas Polrestabes Bandung, Kompol Reny Marthaliana, mengatakan sudah menerima laporan dari Polsek Ciranjang, Kabupaten Cianjur.

    Baca Juga:

    Tinggalkan Mobil dalam Kondisi Tak Terkunci, Dosen ITB Suryo Utomo Ingin Bunuh Diri?

    Dosen ITB Hilang Misterius, Mobilnya Ditemukan dalam Kondisi Tak Wajar

    Laporan tersebut tentang pemuan mobil Toyota Vios warna silver dengan nomor polisi F 1031 DC yang diduga digunakan dosen berusia 30 tahun itu sebelum dilaporkan hilang.

    “Mobilnya ditemukan terparkir di seputaran Rest Area Cisokan. Kunci kontaknya pun masih tergantung,” terang Reny, seperti dikutip dari Pojokjabar.com, Sabtu (13/5/2017).

    Ia menjelaskan, sebelum ditemukan di Ciranjang, GPS mobil itu menunjukan posisi di kawasan Salajambe Kecamatan Sukaluyu. Tapi setelah ditelusuri posisinya berada di jebatan Cisokan Ciranjang.

    Sebelumnya dinyatakan hilang, Suryo mengantar ibunya Ika Rini Astuti (58), memakai mobil Vios Nopol F 1031 DC ke Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Rabu (10/5/2017). Ibu Suryo bermaksud pulang ke Bogor, dengan menumpang bus.

    (nda)