Tag: Ekspor

  • Hari Ini Negara Mulai Ambil Alih Kendali Ekspor, Masa Transisi Tujuh Bulan, Transaksi Batu Bara, Kelapa Sawit, dan Ferro Alloy Wajib Dilaporkan ke Danantara

    Hari Ini Negara Mulai Ambil Alih Kendali Ekspor, Masa Transisi Tujuh Bulan, Transaksi Batu Bara, Kelapa Sawit, dan Ferro Alloy Wajib Dilaporkan ke Danantara

    POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Pemerintah resmi memberlakukan kebijakan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) mulai hari ini (1/6/2026). Melalui kebijakan tersebut, ekspor batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy (besi paduan) akan berada di bawah koordinasi badan usaha milik negara (BUMN) bernama PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, pemerintah ingin memastikan manfaat pengelolaan sumber daya alam memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional. “Tujuannya memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor, mencegah praktik under invoicing, transfer pricing, serta pelarian devisa hasil ekspor,” kata Airlangga di Jakarta, kemarin (31/5/2026).

    Menurut dia, tiga komoditas yang menjadi tahap awal implementasi tersebut merupakan penyumbang utama ekspor nasional. Sepanjang 2025, nilai ekspor batu bara, kelapa sawit beserta turunannya, dan ferro alloy mencapai USD 66,13 miliar atau sekitar 23,4 persen dari total ekspor Indonesia.

    Tiga komoditas itu juga menjadi penopang surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut.

    Dalam masa transisi yang dimulai 1 Juni, aktivitas ekspor masih dilakukan eksportir seperti biasa. Namun, seluruh kegiatan ekspor wajib dilaporkan kepada PT DSI melalui sistem yang terintegrasi dengan portal CEISA 4.0 milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

    Airlangga menegaskan, pemerintah memberikan ruang penyesuaian bagi pelaku usaha. Implementasi penuh kebijakan ekspor satu pintu ditargetkan berlaku paling lambat 1 Januari 2027.

    “Kami menjaga kepastian usaha, kelancaran arus barang, realisasi ekspor, serta menghormati kontrak-kontrak dagang yang sudah berjalan,” ujarnya.

    Pemerintah meyakini sistem baru tersebut akan meningkatkan akurasi pencatatan nilai ekspor sehingga penerimaan negara lebih optimal. Selain itu, pengawasan yang lebih terintegrasi diharapkan mampu menekan praktik perdagangan ilegal maupun pelaporan nilai ekspor di bawah harga pasar.

    Dia menambahkan, mekanisme pungutan ekspor dan bea keluar tidak mengalami perubahan. Pengelolaan pungutan sektor sawit tetap dilakukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), sedangkan bea keluar tetap berada di bawah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

    “Tentu ini akan terus kami monitor hingga evaluasi tiga bulan pertama. Ekspor ilegal akan ditertibkan,” tambahnya.

    DHE SDA Wajib Masuk Bank Himbara

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026, eksportir diwajibkan merepatriasi seluruh DHE SDA ke dalam negeri dengan tingkat kepatuhan 100 persen.

    Eksportir sektor nonmigas wajib menempatkan 100 persen DHE SDA pada rekening khusus di dalam negeri selama minimal 12 bulan. Sementara itu, eksportir migas wajib menempatkan sedikitnya 30 persen DHE SDA selama paling singkat tiga bulan.

    Dalam aturan baru tersebut, penempatan DHE SDA wajib dilakukan melalui bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Selain itu, konversi DHE SDA dari valuta asing ke rupiah dibatasi maksimal 50 persen.

    Meski demikian, pemerintah tetap memberikan relaksasi bagi eksportir tertentu, terutama yang memiliki pembeli dari negara mitra dagang Indonesia yang terikat perjanjian bilateral atau kerja sama perdagangan.

    “Berikut ketentuannya, eksportir yang sudah terikat perjanjian bilateral diperbolehkan menempatkan sebagian DHE SDA pada bank non-Himbara. Porsi penempatannya maksimal 30 persen dengan jangka waktu paling lama tiga bulan,” jelasnya.

    Terkait negara yang memperoleh pengecualian, dia menyebut Amerika Serikat menjadi salah satu yang sudah dipastikan. Pemerintah juga membuka kemungkinan pengecualian bagi perusahaan asing yang menggunakan pembiayaan dari luar negeri.

    Danantara Siapkan Tata Kelola Ketat

    Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan, pemerintah telah menyiapkan masa transisi sekitar tujuh bulan agar implementasi kebijakan berjalan optimal tanpa mengganggu aktivitas pelaku usaha.

    Menurut dia, Danantara mendapat mandat besar untuk memastikan pengelolaan sumber daya alam nasional memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian dan masyarakat. Karena itu, aspek tata kelola menjadi prioritas utama.

    Dony menegaskan seluruh proses pengelolaan dana akan dirancang agar dapat diawasi publik. Di sisi lain, Danantara juga mengembangkan sistem teknologi yang akan menjadi tulang punggung operasional perusahaan. Sistem tersebut dirancang untuk mendukung pengelolaan dana secara aman, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan. (mim/oni/Jawa Pos)

  • Himni Sebut Radiasi di Cikande dari Sisa Industri, Kemen LH Bakal Terjunkan Tim ke PT NJS Surabaya

    Himni Sebut Radiasi di Cikande dari Sisa Industri, Kemen LH Bakal Terjunkan Tim ke PT NJS Surabaya

    POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (Himni) menyoroti temuan radiasi Cesium-137 di kawasan Industri Cikande, Banten, yang mencemari udang beku yang diekspor ke Amerika Serikat (AS) hingga mengenai pekerja.

    Himni Sebut Radiasi di Cikande dari Sisa Industri, Kemen LH Bakal Terjunkan Tim ke PT NJS Surabaya
    Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (Himni) Prof. Susilo Widodo (kiri) di forum Simposium Sains dan Teknologi Nuklir (Sistem) 2025 di Serpong (2/10). Foto : Dony. Sementara foto atas, Pengawasan Pelaksanaan Penanganan Kontaminasi Cesium 137 (Cs-137) di Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande. Foto : Humas Bapeten

    Himni menyebut, zat radioaktif itu bukan berasal dari kebocoran reaktor nuklir atau PLTN.

    Namun, dari sisa-sisa industri di area tersebut.

    Ketua Umum Himni Prof Susilo Widodo mengatakan, secara spesifik, dia belum mempelajari seberapa besar pancaran Cesium-137 yang bocor atau beredar di kawasan Industri Cikande itu.

    ”Memang kita harus hati-hati dengan hal-hal yang tidak terduga,” ucapnya.

    Menurut dia, pemanfaatan radiasi nuklir sangat banyak.

    Salah satunya di sektor industri.

    Untuk itu, aspek keamanan dan keselamatan harus menjadi pegangan utama.

    Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kata Widodo, sudah memiliki banyak teknologi terkait nuklir.

    Mulai dari sisi keamanan pengoperasian reaktor, penanganan darurat, hingga teknologi penyimpanan limbah radioaktif.

    Kemampuan mengelola bahan tersebut karena Indonesia sejak era Presiden Soeharto memimpikan adanya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

    ”Tetapi sampai sekarang belum pecah telur (membangun PLTN),” jelasnya.

    Faktor Penyebab

    Zat radioaktif di Cikande, lanjut Widodo, bukan disebabkan kebocoran reaktor nuklir maupun fasilitas PLTN.

    Karena, Indonesia belum memiliki PLTN.

    Yang ada hanya reaktor daya di markas BRIN Serpong.

    Itu untuk keperluan riset dan pendidikan.

    Temuan radiasi Cesium-137 itu berasal dari sisa-sisa industri di kawasan industri Cikande.

    Kemudian, mencemari udang beku yang diekspor ke AS.

    Dia berharap, tim yang bertugas menangani radiasi Cesium-137 itu menjalankan tugasnya dengan baik.

    Sebelumnya, titik pencemaran Cesium-137 di Cikande bertambah.

    Dari enam titik menjadi sepuluh titik. Ada sembilan pekerja yang positif terpapar zat radioaktif itu.

    Paparan Cesium-137 itu diduga berasal dari sebuah industri pengolahan logam di kawasan industri Cikande.

    Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH) menetapkan kasus Cesium-137 di Cikande, sebagai kejadian khusus cemaran radiasi Cesium-137.

    Tim di lapangan sudah bekerja sekitar dua pekan untuk menangani kejadian itu.

    Kasus itu bermula dari temuan sejumlah titik penimbunan material slag hasil peleburan yang mengandung zat radioaktif Cesium-137.

    Kemen LH segera berkoordinasi dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), BRIN, serta Satuan Kimia, Biologi, Radioaktif, dan Nuklir (KBRN) Brimob Polri untuk mengamankan lokasi serta mencegah kontak langsung dengan manusia.

    KBRN segera memasang garis pengaman di delapan titik teridentifikasi.

    Kemudian dilanjutkan proses dekontaminasi oleh Tim Khusus Pelaksana.

    Hingga saat ini, Satgas telah mengidentifikasi sepuluh titik yang memancarkan radiasi Cesium-137 dengan intensitas berbeda-beda.

    Perinciannya, dua titik telah berhasil didekontaminasi.

    Material radioaktif telah dipindahkan ke gudang PT Peter Metal Technology Indonesia yang terkonfirmasi sebagai sumber lokal pencemaran.

    Lalu, delapan titik lainnya akan didekontaminasi secara bertahap.

    Menteri LH Hanif Hanif Faisol Nurofiq memastikan, saat ini, situasi terkendali.

    Dia meminta masyarakat tidak panik.

    Sebab, semua langkah penanganan dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti standar pengamanan yang ketat.

    Menurut Hanif, penanganan radiasi tidak hanya menyangkut aspek teknis.

    Tetapi juga komitmen negara terhadap keselamatan publik.

    Kasus Cengkeh

    Tak hanya udang, produk cengkeh dari Indonesia juga terpapar Cesium-137.

    Produk itu berasal dari PT NJS Surabaya.

    Kemarin, Jawa Pos memantau aktivitas perusahaan tersebut pukul 12.55. Namun, kondisinya sepi.

    Hanif mengungkapkan, produk cengkeh yang dilaporkan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) tercemar zat radioaktif itu dalam proses pengembalian ke Indonesia.

    Pihaknya juga akan menerjunkan tim ke lokasi.

    Sementara itu, Kabid Penataan dan Pengawasan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Andhini Kusumawardani menuturkan, peninjauan lapangan masih menunggu arahan dari Kemen LH.

    Sebab, diduga lokasi perusahaan terdapat paparan zat radioaktif.

    Petugas harus memakai alat pelindung diri (APD).

    Satpol PP Kecamatan Benowo Dedy menambahkan, pihaknya bersama personel lain sudah memantau kondisi di sekitar perusahaan.

    Namun, tidak ada tanda-tanda penanganan dari tim Kemen LH.

    ”Hingga siang (kemarin), belum ada penanganan,” ucapnya. (wan/aph/jawa pos)

  • Dahana Kembali Ekspor Bahan Peledak ke Australia

    Dahana Kembali Ekspor Bahan Peledak ke Australia

    POJOKBANDUNG.COM, SUBANG- PT Dahana menggelar seremoni pelepasan ekspor bahan peledak cartridge emulsion megadrive ke Australia, bertempat di Kampus Dahana Subang,  Jumat (11/4/2025).

    Menurut Direktur Utama Dahana Hary Irmawan, kegiatan ini menandai peresmian ekspor bahan peledak ketujuh yang dilakukan Dahana ke Negeri Kangguru (Australia).

    Selain itu, kegiatan ini menjadi penanda penting atas keberhasilan serta konsistensi perusahaan dalam menembus pasar global.

    Baca Juga :Gelar Ekspos, Polres Subang Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyok Wartawan

    Kali ini PT Dahana mengekspor produk Cartridge Emulsion Megadrive sebanyak 250.000 kilogram atau setara dengan 250 ton.

    “Kepercayaan dari mitra internasional, khususnya di sektor pertambangan Australia, menjadi bukti bahwa produk- produk bahan peledak PT Dahana mampu bersaing dan diakui di tingkat dunia, ” ungkap Hary Irmawan.

    Selain itu, kata Hary, hal ini tentunya lebih dari sekadar pencapaian bisnis.

    Baca Juga :Borneo FC Lawan Persib Bandung Berakhir Imbang 2-2 , Tak Ikuti Arahan

    “Momentum ini kami maknai sebagai langkah strategis dalam memperkuat posisi PT Dahana sebagai penyedia solusi bahan peledak berkualitas tinggi, tidak hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga untuk industri pertambangan global,” sambung Hary

    Dijelasakan Hary, produk Cartridge Emulsion produk Energetic Material Center Dahama dipilih karena formulanya yang telah teruji untuk menghasilkan ledakan yang efisien, minim getaran berlebih, serta aman digunakan dalam berbagai kondisi geologis dan iklim ekstrim Australia.

    Baca Juga :JNE Gelar Halal Bihalal 1446 H Bersama untuk Maju dan Bahagia

    Untuk mempertahankan kepercayaan, Dahana terus meningkatkan kualitas bahan peledaknya, serta mengikuti seluruh prosedur yang ada, dari mulai proses produksi, pengemasan, hingga sampai pengiriman.

    “Seluruhnya menggunakan kualitas tertinggi untuk menjamin produk cartridge emulsion megadrive ini dapat digunakan dengan baik oleh konsumen Australia, ” ujar Hary.  (Anr)

     

  • Dorong Kajian Perluasan Penghasil Teh Jabar

    Dorong Kajian Perluasan Penghasil Teh Jabar

    POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Untuk meningkatkan kuantitas ekspor komuditas teh Jawa Barat, Pemprov harus miliki kajian mendalam terkait perluasan area wilayah penghasil teh. Saat ini, wilayah penghasil teh masih didominasi dari wilayah Jawa Barat Selatan.

    Hal tersebut diungkapkan Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Yuningsih, usai menghadiri Pelepasan Ekspor Teh ke Uni Emirat Arab di Gedung Pakuan Kota Bandung, Jumat (26/3/2021).

    “Jawa Barat terdiri dari wilayah utara dan selatan, sedangkan perkebunan teh banyak tersebar di wilayah selatan, semoga kedepannya ada kajian untuk memperluas perkebunan teh sehingga tidak hanya di wilayah selatan saja,” kata Yuningsih.

    Yuningsih menyatakan, pihaknya terus melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengawal eksistensi teh Jawa Barat.

    “Kami komisi dua akan terus mengawal tidak hanya pengawalan di kualitas, tapi juga mungkin fasilitasi permodalan yang ditujukan kepada petani. Karena hakikatnya eksekutor untuk melakukan fasilitsi terdapat di dinas terkait tetapi kebijakan ada di komisi dua,” paparnya.

    Sebelumnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan ekspor 20 ton teh asli Jabar ke Uni Emirat Arab dengan nilai Rp614 juta.

    (man/mun)

  • 40 Ton Arang UKM Diekspor ke Arab

    40 Ton Arang UKM Diekspor ke Arab

    POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Perusahaan skala kecil dan menengah (UKM) di Subang kembali berhasil melakukan ekspor arang kayu ke berbagai negara di Timur Tengah, salah satunya ke Arab Saudi.

    Bertajuk ” Jawara UKM, Jawara Arang Go Eksport Ke -8″, sebanyak 40 ton arang kayu produk UKM desa Cisaat kecamatan Ciater, Kabupaten Subang dilepas langsung oleh perintis sekaligus penggerak UKM Arang Cisaat, Tono dan buyyer,di desa Cisaat Kamis (18/3).

    “Alhamdulillah, hari ini “Jawara Arang ” kembali melakukan ekspor arang kayu yang ke delapan kalinya. Dengan negara tujuan ke Timur Tengah, salah satunya ke Arab Saudi, ” ujar Tono kepada Radar Bandung.

    Tono mengaku ada yang istimewa dan kebanggan tersendiri bagi UKM Jawara Arang, karena hari ini Kamis (18/3/2021) bertepatan dengan hari ulang tahun Bupati Subang H.Ruhimat.

    “Semoga, tema “Jawara Arang Subang” ekpor ke delapan ini, jadi kado istimewa untuk Pak Bupati dihari ulang tahunnya yang ke 56 di tahun 2021 ini, sekaligus menjadi momentum kebangkitan UKM Subang menembus pasar internasional. ungkap Tono seraya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Kang Jimat saapaan akrab H.Ruhimat.

    “Atas nama keluarga besar UKM desa Cisaat pengucapkan selamat bertambahnya usia bapak bupati kita yang ke 56 dan insyaAllah Pak Bupati H. Ruhimat selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT, Aamin,” ucap Tono.

    Lebih lanjut, kata dia, Pemkab Subang selama ini selalu memberikan sejumlah dorongan, seperti mempermudah kegiatan ekspor. “Kami selalu difasilitasi, salah satunya dengan mempermudah kegiatan ini (ekspor),” katanya.

    Terkait volume ekspor, Tono hanya memberi gambaran bahwa volume ekspor telah puluhan kontainer, dengan tujuan negara Asia dan Timur Tengah.

    “Sebelumya saat ekspor perdana pada September lalu mengekspor 20 ton arang ke Arab Saudi. Permintaan pun kembali dilakukan oleh pihak Arab Saudi dengan jumlah yang meningkat seratus persen, yakni 40 ton arang. Alhamdulillh diekspor ke delapn ini target itu kita penuhi,” ungkap Tono.

    Sementara itu, Andrew Mandala SH, pengusaha muda Subang, mengaku sangat apresiasi kepada UKM “Jawara Arang” yang terus produktif di tengah kondisi pandemi Covid -19, namun terus menjalani usaha dengan tekun.

    Menurut Andrew, UKM sangat strategis bagi penciptaan lapangan kerja dan percepatan pembangunan ekonomi suatu daerah yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    “Keberadaa UKM “Jawara Arang di Subang ini, diharapkan tak hanya berkembang dari segi jumlah, akan tetapi dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khusunya di kabupaten Subang,terlebih ditengah kondisi pendemi seperti ini,” ungkap Kang Andrew sapaan akrabnya.

    (anr/b)

  • Tiap Bulan, Hongkong Habiskan 30 Ton Ubi asal Kab. Bandung

    Tiap Bulan, Hongkong Habiskan 30 Ton Ubi asal Kab. Bandung

    POJOKBANDUNG.com, ARJASARI – Puluhan ton ubi jalar diekspor setiap bulannya ke Hongkong. Hal tersebut, menjadi salah satu bukti ketangguhan sektor pertanian menyangkut ketahanan pangan, selama Pandemi Covid 19. Oleh karena itu, setelah pandemi Covid 19 berakhir, sektor pertanian akan menjadi orientasi utama.

    Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan Kabupaten Bandung berhasil mengekspor 30 ton ubi jalar ke Hongkong setiap bulannya. Sehingga, pertahunnya bisa mencapai ekspor hingga sebanyak 360 ton ubi jalar. Emil berharap, ekspor ini tidak hanya untuk Hongkong, namun juga negara besar lainnya.

    EKSPOR : Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil saat menghadiri Gerakan Ekspor Tiga Kali (Gratieks) produk tanaman pangan di Jawa Barat di Aula Desa Pinggirsari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung, Selasa (8/9). Foto: IST

    “Mudah-mudahan kita bisa ekspor ke negara-negara besar lainnya, agar setiap tahunnya ada ribuan ton yang bisa diekspor ke negara besar lainnya,” ujar pria yang akrab disapa Emil saat acara Gerakan Ekspor Tiga Kali (Gratieks) produk tanaman pangan di Jawa Barat di Aula Desa Pinggirsari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung, Selasa (8/9).

    Dengan banyaknya jumlah ekspor ubi jalar, menjadi salah satu bukti ketangguhan ekonomi selama Pandemi Covid 19. Yaitu dari sektor ketahanan pangan di bidang pertanian. Emil berharap petani bisa menjaga kualitas produknya. Karena, lanjut Emil, pernah ditemukan kasus ekspor produk tertentu yang ditolak, karena ditemukan serangga.

    “Hal-hal seperti itu harus diselesaikan sejak di tingkat desa dan tingkat koperasi,” sambungnya.

    Menurut Emil, ubi jalar ini memiliki keistimewaan. Karena, memang sangat cocok tumbuh di tanah tropis. Kabupaten Bandung memiliki tanah yang sangat subur. Hal tersebut berdasarkan penelitian, salah satunya di Cekungan Bandung.

    “Ubi jalar ini di luar negeri dijadikan tepung untuk kue, es cream, dan lain sebagainya. Harapan saya, tolong di cari negara-negara lain yang punya gaya hidup dan kebutuhan ubi jalar seperti di Hongkong,” tuturnya.

    Selain itu, kata Emil, untuk memenuhi kebutuhan susu nasional, negara harus merogoh kocek hingga Rp17 triliun. Emil mengaku pihaknya akan mengunjungi lahan dengan luas seribu hektar yang ada di Kabupaten Bandung, yang akan digunakan sebagai lokasi sapi susu perah dan pertanian terpadu. Sehingga akan lebih bermanfaat untuk petani, peternak hingga bisa membawa swasembada pangan.

    “Saya yakini setelah pandemi Covid 19 ini, orientasi kami lebih banyak ke pertanian yang dilengkapi dengan teknologi 4.0,” katanya.

    Pihaknya pun akan mendorong anak-anak muda mau tinggal di desa, agar jauh dari penyakit dan jauh dari Covid 19. Oleh karena itu, jika ada anak muda yang tinggal di desa tapi rejeki kota, maka harus menguasai digital.

    “Saat ini kita sedang kampanyekan petani milenial dan peternak milenial yang tinggal di desa berbisnis ketahanan pangan, tapi menggunakan keahlian digital untuk berjualan atau untuk transaksinya,” pungkas Emil.

    (fik)

  • Dongkrak Perekonomian, Penawaran Ekspor ke China Dinilai Krusial

    Dongkrak Perekonomian, Penawaran Ekspor ke China Dinilai Krusial

    JAKARTA– Pemerintah Indonesia membuka peluang mengekspor minyak kelapa sawit, buah-buahan dan sarang burung walet ke China. Hal tersebut dinilai bisa mendongkrak perekonomian secara signifikan.

    Seperti diketahui, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita memulai serangkaian kerja ke China. Upaya tersebut mendapat apresiasi dari kalangan asosiasi pengusaha dan DPR.

    Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengatakan target menembus pasar China sangat strategis dan potensial. Indikatornya, populasi disana mencapai 1.2 miliar.

    “Pangsa pasar yang punya prospek besar pula,” kata Sarman kepada wartawan, belum lama ini.

    Strategi pendekatan B to B (bisnis dengan bisnis) dan G to G (pemerintah dengan pemerintah) harus dilakukan, karena China juga memiliki kebijakan yang membatasi impor. Selama ini, transaksi perdagangan antara Indonesia dan China tidak seimbang.

    “Sudah saatnya kita lebih proaktif mencari peluang baru di China dengan produk-produk yang mereka sangat butuhkan dari Indonesia,” kata Sarman.

    Di kesempatan lain, Ketua Dewan Pertimbangan sosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan langkah Mendag sudah tepat dengan melobi China langsung. Menurutnya, perdana menteri China pernah berjanji akan membeli CPO lebih banyak dari Indonesia.

    Namun, Sofjan melihat kendala dalam kelapa sawit. Menurutnya, dari manufacturing harga yang ditawarkan Indonesia lebih mahal.

    “Susahnya kita tidak masukin dan China itu dalam situasi pembelian dalam streat war, dia minta produk pertanian yang tidak bisa kita produksi. Tetapi kalau jumlah tanya menteri perdagangan saja. Pokoknya pemerintah jualan terus lah, biar produk-produk kita bisa dibeli,” katanya.

    Kemudian untuk sarang burung walet, kata dia, Indonesia semakin baik dalam kualitas dan mutu. Namun, saat ini tinggal mempercepat masalah intern agar ekspor sarang burung walet segera ada peningkatan.

    “Biasanya sarang burung walet itu Indonesia biasanya ekspor melalui Malaysia. Sangkar burung dari sini kita bisa ekspor langsung. Dulu ada kendala. Urusan kita tidak memberikan kualitas yang baik. Tetapi dulu sudah diselesaikan oleh menteri perdagangan,” katanya.

    Dia pun optimis pemerintah bisa mendapat USD 1 miliar dalam satu tahun dengan menggejot ekspor tiga komoditas tersebut.

    Sedangkan pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus juga menilai keberangkatan Mendag untuk melobi langsung China memang diperlukan. Namun, jangan sampai hal ini berlangsung tidak konsisten.

    “Kita bisa kecilin impor, secara bijaksana atau tidak serampangan. Produk-produk yang sebenarnya bisa kita bikin dan lebih efisien maka tidak perlu kita impor dari China,” jelasnya. (azs/*).