POJOKBANDUNG.COM, BANDUNG- Industri kuliner tidak lagi sekadar urusan makanan dan minuman. Namun, menyimpan potensi besar untuk menggerakkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, hingga melahirkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Makanya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendukung festival Akulturasa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang akan digelar di kawasan Kampus Kampus ITB, Jalan Ganesha, pada 20-21 Juni 2026. Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Barat Asvianti Handaru W menuturkan, Akulturasa ITB menjadi ruang penting yang sejalan dengan komitmen BTN dalam mendukung ekosistem pertumbuhan ekonomi kreatif dan industri pangan nasional. Festival ini mempertemukan akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif.
Asvianti menilai, investasi terbaik bukan hanya pada proyek yang menghasilkan keuntungan finansial semata. Tapi juga kegiatan yang mampu menciptakan dampak ekonomi dan sosial jangka panjang.
“Dalam satu ekosistem kolaboratif ini dapat memperkuat jejaring, membuka peluang usaha, dan mendorong pertumbuhan ekonomi sektor kuliner,” kata Asvianti usai acara pengenalan Akulturasa di International Relation Office (IRO) ITB, Selasa (2/6).
Industri kuliner merupakan salah satu sektor yang memiliki daya tahan kuat. Sekaligus kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sektor tersebut juga menjadi ruang tumbuh bagi jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
“Industri makanan dan minuman memiliki efek berganda yang sangat besar. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, sektor ini juga menciptakan lapangan kerja dan membuka peluang usaha bagi banyak masyarakat,” terangnya.
Karena itu, BTN terus memperkuat dukungannya terhadap pelaku UMKM. Baik melalui program pembiayaan, pendampingan usaha, serta pemanfaatan teknologi digital. Sehingga pelaku usaha dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pasar mereka.
Transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha. Termasuk di sektor kuliner. Karena mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memberikan pengalaman transaksi yang lebih baik bagi konsumen.
“Bank tidak hanya hadir sebagai penyedia pembiayaan. Kami juga ingin membantu UMKM naik kelas melalui pendampingan dan digitalisasi agar bisnis mereka semakin kuat dan berkelanjutan,” jelas Asvianti.
Makanya, selama penyelenggaraan Akulturasa ITB, BTN juga mendorong penggunaan transaksi digital oleh pengunjung maupun tenant. Selain memberikan kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi, langkah tersebut diharapkan dapat memperluas literasi keuangan digital di tengah masyarakat.
Mengingat, teknologi finansial memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan bisnis kuliner. Sistem pembayaran yang praktis dan aman memungkinkan pelaku usaha lebih fokus mengembangkan produk serta meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.
Di sisi lain, BTN mengapresiasi kolaborasi yang terbangun antara dunia pendidikan dan industri melalui Akulturasa ITB. Perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai pusat inovasi yang dapat menjawab berbagai tantangan masa depan. Termasuk isu ketahanan pangan dan perubahan perilaku konsumen.
“Akulturasa ITB diharapkan dapat menjadi momentum untuk inovasi, keberlanjutan, pengembangan talenta muda, serta praktik bisnis pangan yang bertanggung jawab terhadap ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa festival tersebut lahir dari keinginan kampus untuk menghadirkan berbagai hasil riset dosen dan mahasiswa kepada masyarakat luas.
Menurut Rikrik, selama ini banyak inovasi yang dihasilkan sivitas akademika ITB. Namun belum memiliki ruang yang cukup untuk diperkenalkan secara luas. Karena itu, Akulturasa hadir sebagai wadah yang menjembatani dunia akademik dengan masyarakat.
“Makanya saya lapor ke Rektor, dan disambut baik. Ini sangat inspiratif sehingga dibuatkan acara yang lebih besar di bawah payung Akulturasa. Ada kultur dan rasa, pertemuan sains, teknologi, seni dan budaya yang digabungkan,” ujar Rikrik.
Dia menjelaskan, sedikitnya empat fakultas terlibat dalam penyelenggaraan festival tersebut. Yakni Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Teknologi Industri Kesehatan, Sekolah Farmasi, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).
Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat akan diperlihatkan berbagai inovasi pangan hasil penelitian dosen dan mahasiswa. Salah satunya, produk pangan fermentasi yang dikembangkan dari bahan baku lokal seperti umbi-umbian dan rempah-rempah.
“Jadi lewat festival ini kami harapkan dapat mengundang sivitas ITB maupun masyarakat datang ke ITB untuk melihat berbagai fenomena makanan yang diolah sedemikian rupa. Dari hasil lokal, teknologi lokal, olahan lokal, lalu bagaimana kemudian masyarakat bisa memanfaatkan apa yang sudah diperbuat oleh ITB,” paparnya.
Rikrik menilai, keberadaan festival tersebut juga disambut antusias oleh dosen dan mahasiswa. Sebab, inovasi yang selama ini dikembangkan di laboratorium dan ruang kelas dapat langsung diperkenalkan kepada masyarakat. Serta berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Nanti saya harapkan banyak ide-ide muncul dari UKM kita, dari masyarakat, dari adik-adik, dari pedagang dan sebagainya. Semoga apa yang sudah dimiliki oleh ITB ini bisa berdampak pada peningkatan keekonomian kita,” harapnya.
Akulturasa ITB terbuka bagi masyarakat umum. Selain menjadi ajang edukasi dan pameran inovasi pangan, festival tersebut juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pangan nasional yang inovatif dan berkelanjutan.
